Senin, 29 April 2024

 

RESUME PERTEMUAN KE 3 KBMN PGRI GELOMBANG 31

Oleh : Cicin Resnawati


 

 

Hari Senin,29 April 2024,atau senin terakhir dibulan april adalah pertemuan ke tiga KBMN PGRI Gelomang 31.Pertemuan kali ini dipandu oleh moderator ibu Purbaniasita atau yang biasa dipanggil Sita beliau adalah alumni KBMN gelombang 26,serta narasumber ibu Raliyanti,S.So,S.Kom.,M.Pd.Tema yang disngkst dalam pertemuan kali ini adalah TEKNIK PENULISAN RESUME

Acara hari ini dibagi menjadi 4 sesi yaitu :

  1. Pembukaan
  2. Pemaparan materi
  3. Tanya jawab
  4. Penutup

Materi kali ini sangat menarik,karena apa? Karena materi kali ini erat kaitanya dengan tugas peserta yang harus menuliskan resume dari setiap pertemuan.Malam ini kita  akan belajar bagaimana penulisan resume yang baik,trik membuat resume dengan cepat di blog dan tentunya bebas dari plagiarisme.

Pengertian resume itu sendiri adalah ringkasan atau rangkuman dari sebuah karangan atau tulisan yang panjang.Jadi,dalam resume kita hanya menuliskan intisari atau pokok informasi tapi tidak menghilangkan detail atau bagian penting dari tulisan tersebut.

Ibu narasumber juga menjelaskan,ada dua point hal yang harus diperhatikan  dalam menulis resume yaitu,menulis resume dengan paragraf pendek pendek dan tulislah pernyataan narasumber dengan bahasa sendiri.Dan dari pemaparan beliau yang sangat detail tersebut ada satu pernyataan yang sangat menarik yaitu kita harus menulis dengan percaya diri,karena percaya diri seseorang akan tersirat dalam kata kata yang dituliskan.

Resume bisa dijadikan sebuah buku,dengan cara sebagai berikut:

  • Kita harus membuat TOC atau daftar isi
  • Pilih beberapa resume yang akan dijadikan buku
  • Pindahkan ke ms word
  • Rapikan;dan
  • Cari penerbit
Maka,jadilah sebuah buku yang dihasilkan dari kumpulan beberapa resume.

Untuk menjadi seorang penulis yang luar biasa,selain percaya diri kita juga harus mau membaca tulisan atau karya orang lain,karena dengan membaca karya orang lain kita dapat mengambil mamfaat dan pelajaran untuk semakin menambah keterampilan menulis kita.

Semoga dari setiap hal yang kita pelajari akan membawa kita menuju lebih baik,sama halnya setelah kita mempelajari bagaimana cara menulis resume dengan baik,akan menghasilkan  resume resume yang baik,berbobot,bebas plagiarisme dan cepat tentunya.

 

"Pendidikan adalah bekal terbaik untuk perjalanan hidup."

(Aristoteles)

Rabu, 24 April 2024

 

RESUME PERTEMUAN KE 2 KBMN PGRI GEL 31

Oleh : Cicin Resnawati

Hari ini Rabu,tanggal 24 April 2024 adalah pertemuan kedua KBMN PGRI gelombang 31,pada pertemuan kali ini mengangkat tema “Menjadikan Menulis sebagai Passion” dengan moderator ibu Dra.Sri Sugiastut,M.Pd atau panggilan akrab beliau bunda kanjeng,serta moderator ibu Helwiyah,S.Pd,M.M.Pertemuan kali ini dimulai dari pukul 19.00-21.00 dengan susunan acara sebagai berikut

  1.  Pembukaan
  2. Paparan materi
  3. Tanya jawab
  4. Penutup

Tema kali ini tak kalah menarik dari pertemuan pertama,Kalau Omjay memiliki mantra “Menulislah setiap hari,buktikan apa yang terjadi”,Bunda Kanjeng memiliki mantra”Writing is my passon”,menurut beliau menulis bukan lagi kewajiban,tetapi kebutuhan.

Pada kesempatan kali ini Bunda Kanjeng juga menampilkan beberapa hasil karya beliau,salah satunya adalah tulisan yang beliau buat 14 tahun yang lalu yang berjudul “Dapat Apa  ya..dari menulis?”,dan tulisan ini sangat mengispirasi saya untuk terus belajar dan mengeksplor kemampuan saya dalam menulis,apalagi quotes beliau better late than never sangat mengena dihati saya.

Beliau juga menampilkan PPT yang berjudul Writing is my passion.PPT ini berisi tentang kendala kendala atau hambatan hambatan yang sering dihadapi oleh seorang penulis terutama penulis pemula dan juga disertai solusi dalam menghadapi kendala tersebut sehingga menhasilkan sebuah karya tulis.Selain itu ada juga pertanyaan dari beberapa peserta diantaranya,saya spill pertanyaan saya sendiri ya..Bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya diri kita dalam menulis? Dan jawaban beliau menumbuhkan rasa percaya diri saya dalam menulis.

Demikan resume yang saya buat untuk pertemuan kali ini.

Terima kasah...

Salam literasi...


Selasa, 16 April 2024

 

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Oleh:

Cicin Resnawati,S.PdI,Gr

(Guru SDN 2 Sukamukti Kec.Banyuresmi)

Pertama kali saya mendengar istilah pembelajaran berdiferensiasi saat saya mengikuti pendidikan guru penggerak,awalnya saya berpikir pembelajaran berdiferensiasi adalah proses pembelajaran dimana murid dikelompokan secara heterogen mulai dari gender,kemampuan,hoby dan lain sebagainya,dengan harapan mereka saling melengkapi satu sama lain.

Namun ternyata setelah saya mempelajari tentang pembalajaran berdiferensiasi anggapan saya salah besar,karena ternyata pembelajaran berdiferensiasi adalah pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan, minat, dan kemampuan siswa yang beragam. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan pengalaman pembelajaran yang sesuai dengan tingkatnya, sehingga mereka dapat mencapai potensi maksimal yang mereka miliki.

Pendekatan ini melibatkan penggunaan berbagai strategi pengajaran, materi, dan penilaian yang disesuaikan dengan karakteristik individu siswa. Beberapa contoh strategi pembelajaran berdiferensiasi yaitu:

  1. Pengajaran fleksibel ; Guru memberikan berbagai pilihan dalam cara siswa belajar dan menunjukkan pemahaman mereka. Ini bisa berupa proyek, presentasi, tugas tertulis, atau diskusi kelompok.
  2.  Penggunaan beragam sumber daya;  Guru menyediakan materi pembelajaran dalam berbagai format seperti teks, audio, video, atau sumber daya online untuk memenuhi gaya belajar yang berbeda.
  3. Kelompok fleksibel ; Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka, sehingga mereka dapat belajar dengan teman sebaya yang memiliki tingkat pemahaman yang serupa.
  4. Pengajaran individual; Guru memberikan perhatian khusus kepada siswa yang memerlukan bantuan tambahan atau tantangan tambahan, dengan menyediakan bimbingan satu-satu atau tugas tambahan yang sesuai.
  5. Penilaian berbeda ; Guru menggunakan berbagai jenis penilaian, seperti tes, proyek, atau portofolio, yang memungkinkan siswa menunjukkan pemahaman mereka dengan cara yang sesuai bagi mereka.

Dengan pendekatan ini, setiap siswa dapat belajar secara efektif sesuai dengan kebutuhan dan potensi mereka, menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan mendukung.

Saya adalah guru di kelas 5,yang menurut saya merupakan salah satu kelas yang menantang karena memiliki jumlah siswa yang paling banyak dibandingkan dengan kelas kelas lainya,selain itu siswa kelas 5 pernah mengalami dua fase pembelajaran yaitu fase daring dan  luring.Sampai saat ini pengaruh dari masa pembelajaran daring masih sangat terasa,seperti kurangnya konsentrasi, kurang adanya minat siswa terhadap materi materi pembelajaran dan tentunya yang paling signifikan adalah ketergantungan siswa terhadap gadget sangat tinggi ditandai dengan dalam mengisi suatu soal yang menurut mereka sulit daripada mencari di buku paket atau buku referensi mereka lebih suka mencari di G**gle yang menurut mereka lebih mudah dan efisien.

Berdasarkan hal tersebut saya merasa tertantang untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas saya dengan harapan minat belajar mereka meningkat.Hal pertama yang saya lakukan adalah mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa yang dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. mengamati perilaku murid-murid
  2. mencari tahu pengetahuan awal yang dimiliki oleh murid terkait dengan topik  yang akan dipelajari,
  3. melakukan penilaian untuk menentukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka saat ini, dan kemudian mencatat kebutuhan yang diungkapkan oleh informasi yang diperoleh dari proses penilaian tersebut;
  4. mendiskusikan kebutuhan murid  dengan orang tua atau wali murid;
  5. mengamati murid ketika mereka sedang menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas;
  6. wawancara Individu dengan siswa untuk mendiskusikan minat mereka dalam topik yang akan dipelajari, pengalaman mereka sebelumnya dengan materi tersebut, dan tujuan pembelajaran mereka.
  7. membaca rapor murid dari kelas mereka sebelumnya untuk melihat komentar dari guru-guru sebelumnya atau melihat pencapaian murid sebelumnya;
  8. berbicara dengan guru atau wali kelas sebelumnya;
  9. membandingkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan tingkat pengetahuan atau keterampilan yang ditunjukkan oleh murid saat ini;
  10. menggunakan berbagai penilaian diagnostik untuk memastikan bahwa murid telah berada dalam level yang  sesuai
  11. melakukan survey untuk mengetahui kebutuhan belajar murid;
  12. mereview dan melakukan refleksi terhadap praktik pengajaran mereka sendiri untuk mengetahui efektivitas pembelajaran mereka
  13. kuesioner minat dan gaya belajar yaitu denan cara memberikan kuesioner kepada siswa untuk mengetahui minat mereka dalam topik tertentu dan gaya belajar yang mereka sukai. Ini sangat membantu saya untuk menyesuaikan pendekatan pembelajaran dengan preferensi belajar siswa.

Dengan menggunakan strategi-strategi asesmen awal ini, guru dapat mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk merancang pengalaman pembelajaran yang berdiferensiasi sesuai dengan kebutuhan dan minat individual siswa. Ini membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang nyaman dan berpihak pada siswa sehingga mereka mampu berkembang sesuia dengan potensi mereka masing masing.

Dari hal yang telah dilakukan tersebut akhirnya saya dapat menganalisis gaya belajar siswa. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, memahami gaya belajar siswa adalah kunci untuk merancang pengalaman pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan individu. Ada beberapa gaya belajar yang umum dikenal, dan penggabungan pendekatan yang berbeda dapat membantu memenuhi kebutuhan belajar yang beragam. Berikut adalah beberapa gaya belajar yang yang dimiliki siswa kelas 5 SDN 2 Sukamukti;

1.     Visual ; Siswa visual cenderung belajar lebih baik melalui gambar, diagram, dan representasi visual lainnya. Mereka memproses informasi dengan melihat dan menggambar hubungan visual antara konsep-konsep.

2.     Auditif ; Siswa auditif lebih suka belajar dengan mendengarkan. Mereka mungkin mendapatkan manfaat dari pengajaran lisan, diskusi, ceramah, atau rekaman audio.

3.     Kinestetik ; Siswa kinestetik belajar melalui pengalaman praktis dan interaksi fisik dengan materi. Mereka suka bergerak, melakukan eksperimen, atau menggunakan bahan-bahan fisik dalam pembelajaran.

4.     Verbal ; Siswa yang memilih gaya belajar verbal menyukai pembelajaran melalui membaca teks, menulis catatan, atau membuat rangkuman. Mereka memproses informasi dengan menulis dan membaca kembali materi.

 

Berdasarkan analisis gaya belajar tersebut,saya mengelompokan siswa kelas 5 menjadi kelompok yang terdiri dari kelompok visual 6 orang,audio 5 orang,kinestik 10 orang  dan verbal 5 orang. Pembentukan kelompok belajar dalam pembelajaran berdiferensiasi memerlukan pertimbangan yang cermat untuk memastikan bahwa setiap siswa mendapat manfaat maksimal dari kolaborasi dengan rekan-rekan mereka. Berikut adalah beberapa pertimbangan saya dalam membentuk kelompok belajar berdasarkan diferensiasi:

·       Kemampuan Akademik: Pertimbangkan tingkat kemampuan akademik siswa saat membentuk kelompok. Gabungkan siswa yang memiliki kemampuan serupa dalam satu kelompok sehingga mereka dapat belajar pada tingkat yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Ini memungkinkan siswa untuk saling mendukung dan memotivasi satu sama lain.

·       Minat dan Preferensi Belajar: Perhatikan minat dan preferensi belajar siswa saat membentuk kelompok. Siswa yang memiliki minat yang sama dalam topik tertentu atau memilih gaya belajar yang serupa mungkin lebih mudah bekerja bersama dan saling memahami.

·       Keterampilan Sosial: Pertimbangkan keterampilan sosial siswa saat membentuk kelompok. Gabungkan siswa yang memiliki keterampilan sosial yang kuat dengan mereka yang mungkin memerlukan dukungan tambahan dalam hal ini. Ini membantu menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung di dalam kelompok.

·       Tantangan dan Dukungan: Perhatikan kebutuhan individu siswa dalam hal tantangan dan dukungan. Gabungkan siswa yang memerlukan tantangan tambahan dengan mereka yang dapat memberikan dukungan dan bimbingan. Sebaliknya, pasangkan siswa yang mungkin memerlukan bantuan ekstra dengan mereka yang dapat memberikan bantuan dan dukungan.

·       Kemampuan Kolaborasi: Perhatikan kemampuan siswa untuk bekerja dalam tim saat membentuk kelompok. Gabungkan siswa yang memiliki kemampuan kolaborasi yang kuat dengan mereka yang mungkin memerlukan bimbingan tambahan dalam hal ini. Ini membantu menciptakan kelompok belajar yang efektif dan produktif.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, guru dapat membentuk kelompok belajar dalam pembelajaran berdiferensiasi yang efektif dan mendukung bagi semua siswa. Ini membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan memastikan bahwa setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan sukses.

Selain menurunya minat belajar pada siswa ada beberapa hal yang melatar belakangi penerapan pembelajaran berdiferensiasi adalah yaitu;

1.     Keanekaragaman Siswa: Setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda, tingkat pemahaman yang beragam, minat yang berbeda, dan latar belakang budaya yang beragam. Pembelajaran diferensiasi memungkinkan guru untuk mengakomodasi perbedaan ini dan memastikan bahwa setiap siswa mendapat kesempatan yang sama untuk belajar.

2.     Ketidaksetaraan Pembelajaran: Siswa tidak selalu memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara seragam. Beberapa mungkin membutuhkan bantuan tambahan untuk mencapai standar tertentu, sementara yang lain mungkin memerlukan tantangan lebih lanjut. Pembelajaran diferensiasi memungkinkan guru untuk menyediakan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan individu siswa.

3.     Persiapan untuk Dunia yang Beragam: Di dunia nyata, individu bekerja dalam tim yang beragam, memiliki tugas yang berbeda, dan memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi yang berubah-ubah. Pembelajaran diferensiasi membantu siswa mengembangkan keterampilan adaptasi, kerja sama, dan pemecahan masalah yang dibutuhkan untuk sukses di masa depan.

4.     Peningkatan Keterlibatan Siswa: Ketika siswa merasa bahwa pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan dan minat mereka, mereka cenderung lebih terlibat dalam proses pembelajaran. Ini dapat menghasilkan motivasi yang lebih besar dan hasil belajar yang lebih baik.

5.     Pentingnya Inklusi: Pendidikan inklusif menekankan pentingnya menyediakan kesempatan belajar yang setara untuk semua siswa, termasuk siswa dengan kebutuhan khusus. Pembelajaran diferensiasi merupakan salah satu cara untuk mewujudkan pendidikan inklusif dengan memastikan bahwa setiap siswa mendapat dukungan yang mereka butuhkan.

 Pembelajaran berdiferensiasi mulai saya terapkan pada semester genap tahun.Sebagai contoh untuk meningkatkan minat belajar siswa saya menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada materi “Perubahan Zat dan Wujudnya” untuk siswa kelas 5,hal ini bisa menjadi tantangan, tetapi juga memungkinkan saya untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang menarik dan relevan bagi semua siswa. Berikut adalah beberapa strategi yang saya diterapkan:

  •           Variasi dalam Presentasi Materi: Gunakan berbagai media untuk menyampaikan informasi tentang perubahan zat, seperti gambar, diagram, video, dan eksperimen langsung. Hal ini membantu menangkap perhatian siswa dengan gaya belajar yang berbeda.
  •       Aktivitas Praktikum: Siswa dapat terlibat dalam aktivitas praktikum yang memungkinkan mereka untuk melihat perubahan zat secara langsung. Misalnya, melakukan percobaan sederhana untuk mengamati perubahan wujud zat atau reaksi kimia sederhana.
  •       Kegiatan Kolaboratif: Susunlah kegiatan atau tugas yang melibatkan kerja kelompok, di mana siswa dapat saling bertukar pemikiran dan pengalaman tentang perubahan zat yang mereka pelajari. Ini memungkinkan siswa belajar dari satu sama lain dan mengembangkan keterampilan kerja tim.
  •       Pilihan Tugas: Berikan pilihan tugas kepada siswa, seperti membuat model perubahan zat, menulis laporan eksperimen, atau membuat presentasi visual. Hal ini memungkinkan siswa untuk mengekspresikan pemahaman mereka melalui metode yang sesuai dengan minat dan keterampilan mereka.
  •       Pertanyaan Terbuka: Dorong siswa untuk mengajukan pertanyaan terbuka tentang topik perubahan zat. Ini dapat merangsang pemikiran kritis dan memotivasi siswa untuk menjelajahi lebih dalam tentang konsep tersebut.
  •       Tingkat Kesulitan yang Berbeda: Sediakan materi tambahan atau tugas-tugas tambahan yang menantang bagi siswa yang sudah menguasai materi dasar. Sebaliknya, berikan dukungan tambahan kepada siswa yang memerlukan bantuan ekstra.
  •       Refleksi dan Umpan Balik: Berikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan pemahaman mereka tentang materi perubahan zat melalui jurnal refleksi atau diskusi kelas. Berikan umpan balik yang konstruktif untuk membantu mereka memperbaiki pemahaman mereka.

Dengan menggunakan strategi-strategi ini, saya dapat memastikan bahwa semua siswa dapat terlibat dalam pembelajaran tentang perubahan zat dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka. Setelah saya menerapkan pembelajaran ini,ternyata banyak kelebihannya,yaitu antara lain :

  1. Memenuhi Kebutuhan Individu: Setiap siswa memiliki kebutuhan belajar yang berbeda. Pembelajaran berdiferensiasi memungkinkan guru untuk menyesuaikan materi, proses, dan penilaian agar sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.
  2. Meningkatkan Motivasi: Dengan menyesuaikan pembelajaran, guru dapat membuat pengalaman belajar yang lebih menarik dan relevan bagi setiap siswa. Ini dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar.
  3. Mengakomodasi Keanekaragaman: Setiap kelas memiliki siswa dengan tingkat keterampilan, minat, dan gaya belajar yang berbeda. Pembelajaran berdiferensiasi memungkinkan guru untuk mengakomodasi keanekaragaman ini dalam satu kelas.
  4. Meningkatkan Pemahaman: Dengan menyesuaikan instruksi, siswa cenderung memahami materi lebih baik karena disajikan dengan cara yang sesuai dengan gaya belajar mereka.
  5. Pengembangan Keterampilan Sosial: Dalam lingkungan yang berdiferensiasi, siswa dapat belajar bekerja dalam kelompok dengan orang-orang yang memiliki kekuatan dan kelemahan yang berbeda, mempromosikan kolaborasi dan keterampilan sosial.

Sedangkan hal hal yang harus kita perhatikan sebagai tantangan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi adalah :

  1. Persiapan Tambahan: Pembelajaran berdiferensiasi membutuhkan persiapan tambahan dari guru. Mereka harus mempersiapkan materi yang berbeda untuk berbagai tingkat kemampuan dan minat.
  2. Waktu: Mengelola pembelajaran berdiferensiasi dapat membutuhkan lebih banyak waktu daripada metode pengajaran konvensional karena memerlukan perencanaan yang lebih cermat dan penerapan yang tepat.
  3. Resiko Kurangnya Konsistensi: Dalam kelas yang berdiferensiasi, ada risiko bahwa beberapa siswa dapat merasa tidak adil jika mereka merasa mendapatkan perlakuan yang berbeda dari yang lain. Ini dapat menyebabkan masalah dalam mengelola kelas.
  4.  Tantangan Pengelolaan Kelas: Memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan perhatian yang cukup dan memahami materi dapat menjadi tantangan dalam kelas yang berdiferensiasi, terutama jika kelasnya besar atau jika ada variasi yang besar dalam kemampuan siswa.

Namun demikian pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang sangat relevan untuk diterapkan di masa kini karena mengakui bahwa setiap siswa memiliki gaya belajar, kebutuhan, dan tingkat pemahaman yang berbeda,sehingga terciptanya suasana belajar yang nyaman sehingga siswa dapat berkembang sesuai dengan potensi mereka masing masing.

Selasa, 27 Februari 2024

SAVE ME PLEASE!

 

Top of Form

AAKUA

 

 

SSASAVE ME PLEASE !

Oleh :

Cicin Resnawati,S.Pd.I,Gr

(Guru SDN 2 Sukamukti Banyuresmi Garut)




 

       Kasus bullying di Indonesia sudah sering sekali terdengar. Bahkan ada juga yang berakhir dengan kematian. Oleh karena itu, menghentikan bullying harus dilakukan oleh semua pihak baik itu keluarga maupun sekolah. Bullying harus dihentikan sekarang juga! Mengapa? Karena dampaknya sangat luas sekali mulai dari prestasi akademis, kehidupan sosial, kesehatan mental dan fisik anak, hingga keselamatan nyawa anak.

       Satuan pendidikan adalah salah satu lingkungan yang rentan akan tindakan bullying,keberagaman yang ada di sekolah terkadang membuka peluang terjadinya perundungan.Perundungan dapat terjadi antara guru ke siswa,guru ke guru,siswa ke guru atau yang paling sering adalah siswa ke siswa.

Tahun 2022 saya ditugas kan di sekolah yang baru,yang memiliki lingkungan sosial  yang berbeda dengan tempat tinggal saya.Saat pertama kali datang ke sekolah tersebut,saya sempat merasa heran dengan perilaku siswa siswa di sana,mereka memanggil teman nya dengan nama orang tua mereka,saya tegur dan mereka menjawab bahwa hal tersebut sudah biasa.Suatu hari di saat jam istitrahat, saya mendapat laporan dari seorang siswa bahwa dia menyaksikan penyiksaan fisik yang dilakukan oleh seorang siswa kelas 5, saat itu saya adalah wali kelas 5 dan ironis nya yang menjadi korban adalah teman dekat dari si pelaku itu sendiri,mendengar hal tersebut saya langsung memberi peringatan dan nasehat kepada pelaku dan siswa lainnya serta memberikan edukasi tentang perundungan.

Akibat dari peristiwa tersebut korban mengalami memar memar dan demam selama beberapa hari dan yang pasti dia menjadi takut untuk pergi ke sekolah,saya yang merasa panik,karena jujur saja hal seperti itu baru pertama kali saya alami,langsung menemui orang tua korban dan meminta maaf karena hal tersebut terjadi karena adanya kelalaian dari saya sebagai guru atau orang tua di sekolah,saya juga membawa anak yang menjadi pelaku ke rumah temanya tersebut dengan tujuan meminta maaf,alhamdulillah orang tua korban kooperatif dan mau memaafkan karena memang kedua anak ini berteman buka hanya di sekolah tetapi juga di luar sekolah.

 Setelah peristiwa itu terjadi saya kira tidak akan terulang kembali,namun perkiraan saya salah selang beberapa minggu kemudian terjadi lagi hal serupa dengan pelaku yang sama namun korban yang berbeda bahkan yang menjadi korban ada yang berasal dari kelas bawah umumnya mereka mendapatkan perundungan secara fisik dan verbal juga sosial.Bahkan ada salah seorang wali murid yang datang ke sekolah dengan marah marah dan langsung menampar si pelaku dan dia berniat membawa kasus ini keranah hukum.Sebelum hal itu terjadi saya bersama rekan guru lainnya berusaha memediasi dengan mempertemukan orang tua korban dan pelaku,akhirnya dari perbincangan kami masalah tersebut dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan.

Berdasarkan hal tersebut,saya berpikir ini tidak dapat dibiarkan karena akan sangat berdampak bagi nama baik satuan pendidikan dimana saya mengabdi dan saya tidak mungkin bekerja sendiri dalam menyelesaikan permasalahan ini,saya bertekad untuk memutus mata rantai perundungan yang terjadi di sekolah ini.Langkah awal adalah berkoordinasi dengan rekan sejawat dan menceritakan semua hal yang saya alami, dari pembicaraan kami dapat saya simpulkan bahwa anak yang menjadi pelaku sudah terbiasa melakukan hal tersebut dan guru guru yang ada di satuan pendidikan ini sudah merasa lelah karena terlalu  sering memberikan nasihat dan peringatan berupa skorsing namun hasilnya dirasa kurang berhasil karena beberapa waktu kemudian hal serupa akan terulang kembali,akhirnya guru guru memberikan peringatan kepada murid lain agar mengurangi interaksi dengan pelaku.

Saya merasa tertarik dengan latar belakang pelaku,ternyata pelaku adalah anak yang berasal dari keluarga broken home dan berada di lingkungan yang keras yang mengutamakan kekerasan fisik dalam menyelesaikan setiap permasalahan,dia adalah anak yang sedari kecil kehilangan sosok seorang ayah (Fatherless) dan dibesarkan oleh seorang ibu yang merangkap tulang punggung sehingga dia kekurangan kasih sayang dan perhatian dari keluarganya yang seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk dia pulang,dan hal ini yang akhirnya membentuk karakteristik anak tersebut.

Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dapat saya identifikasi bahwa anak ini sedang berusaha memenuhi kebutuhan dasar hidupnya sebagai manusia,yaitu mendapatkan rasa aman baik rasa aman secara fisik maupun emosional,kebutuhan sosial yang meliputi rasa cinta,kasih sayang dan kepemilikan,kebutuhan mendapat penghargaan dan kebutuhan mengaktualisasi diri ,karena dia tidak mendapatkan hal tersebut dari keluarga nya sehingga dia mencari perhatian dari kelurga dan orang lain walaupun caranya salah dan tugas kita sebagai guru dan orang tua untuk menuntun dan membimbing anak tersebut agar menemukan jati diri dan potensi diri sehingga dia dapat berkembang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dan tentunya berkembang secara positif.

Hal pertama yang saya lakukan adalah mendekati anak yang menjadi pelaku perundungan secara pribadi dengan pendekatan secara emosional,selalu melibatkan dia dalam proses pembelajaran secara aktif,melibatkan dia dalam setiap kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka dan olahraga sesuai dengan minat anak tersebut serta mengikutserta kan dia dalam struktur organigram kelas yang saya beri tanggung jawab sebagai seksi keamanan,dengan memberikan tanggung jawab sedikit ada perubahan dari anak  tersebut,dia lebih terbuka mengungkapkan keinginan dan ide nya dan juga penurut dari sebelumnya karena mungkin dia merasa bahwa dia lebih dihargai dan orang orang di sekitarnya selalu menganggap dia ada dan juga penting.

Saya berharap,satuan pendidikan tempat saya mengabdi menjadi lembaga pendidikan yang bebas perundungan,maka dari itu saya berdiskusi dengan kepala sekolah dan rekan sejawat untuk menanngani masalah ini agar tidak berlanjut karena saya  menyadari sebagai guru atau fasilitator pendidikan kita harus peka dengan situasi dan kondisi yang dihadapi murid.Jangan sampai hal-hal yang menyebabkan tidak nyaman atau bahkan membahayakan murid terjadi secara terus menerus. Maka,kita harus menghapuskan bibit-bibit bullying sedini mungkin, seperti memanggil nama siswa dengan nama ayahnya, menghina bentuk fisik, merampas benda-benda, atau menyakiti fisik. Apapun dalihnya, bercanda sekalipun, hal seperti itu tidak dapat dibenarkan.

Untuk penanganan perundungan secara kelembagaan sekolah kami menerapkan gerakan “embun pagi”yakni satu gerakan yang yang diluncurkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Garut,bertujuan untuk membangun harmonisasi, empati dan simpati, antara guru, siswa serta warga sekolah lainya.Setiap pagi guru guru menyambut kedatangan murid muridnya,jadi guru harus datang lebih awal ke sekolah dari pada murid dari gerakan ini juga kita menerapkan 5S yakni senyum,salam,sapa,sopan dan santun.Selain program embun pagi ini sekolah kami juga melakukan praktik baik seperti PANJI (Pagi mengaji),setiap pagi sebelum dimulai proses pembelajaran murid diharuskan untuk membaca satu surah pendek yang dipimpin oleh salah satu murid dan surah yang dibaca akan berganti seminggu sekali.Praktik baik lainnya  yang ada di sekolah kami adalah JURI (Jum’at Religi) kegiatan jumat religi ini berisi shalat dhuha bersama,tausiah dan sadaqah.dan uang yang terkkumpul dari kegiatan ini diberikan kepada teman mereka yang sedang sakit atau pun anak yatim yang kurang mampu,sebagai bentuk empati kepada sesama.

Selain praktik praktik baik yang kami terapkan,pihak sekolah bekerjasama dengan pihak terkait seperti BABINSA/BABINKANTIBMAS juga selalu melakukan sosialisasi terkait perundungan ini, bentuk-bentuk sosialisasi dilakukan dengan cara menempelkan poster-poster anti bullying, menyelipkan pesan anti bullying dalam pembelajaran, atau ketika kepala sekolah atau guru memberikan amanat pada saat upacara bendera dan memberikan penyuluhan terkait perundungan oleh pihak terkait secara berkala kepada murid dan orang tua/wali murid.

Hal lainnya yang saya lakukan untuk mengatasi perundungan adalah dengan membuat keyakinan  kelas,keyakinan kelas ini dibuat sebelum proses pembelajaran dimulai, keyakinan kelas harus berpihak pada murid dan dirumuskan bersama murid untuk membangun kemandirian mereka. Keyakinan kelas dibuat secara universal yang mencakup berbagai aspek kesepakat atau aturan yang sudah berlaku di dalam kelas tersebut.Keyakinan Kelas bersumber dari nilai-nilai positif yang dimiliki murid, harapan yang diinginkan murid dan harapan guru pada murid. Keyakinan Kelas berupa kalimat positif, lugas, mudah dipahami dan bisa ditinjau untuk dikembangkan. Murid sendiri yang menentukan, tentu dengan arahan guru. Murid diarahkan untuk  memunculkan usulan, ide, dan gagasannya tentang bagaimana mewujudkan kelas yang  nyaman, sekaligus disiplin dan mendukung pencapaian tujuan pembelajaran.Salah satu isi keyakinan kelas yang kami buat adalah saling menghargai,menghormati dan menyayangi sesama teman.

Bullying merupakan contoh perilaku buruk. Bapak ibu guru hebat,sebagai orang tua murid di sekolah kita  wajib membantu pelaku bullying untuk menghentikan perilaku buruknya, jangan mengucilkan mereka. Selain korban, pelaku juga membutuhkan penanganan supaya tidak melakukan pembullyan lagi. Ajarkan pada mereka bersimpati dan berempati pada orang lain. Selain itu berikan juga pengetahuan bahaya pembullyan terhadap korban-korbannya. 

Dampak bullying bagi korbannya sangatlah dahsyat. Beberapa contoh dampak bullying antara lain: depresi dan gangguan kecemasan, merasa sedih dan kesepian, terjadinya perubahan pada pola tidur dan makan, berkurangnya ketertarikan terhadap aktivitas yang sebelumnya disenangi, masalah kesehatan, hingga menurunnya prestasi akademis. Bagi pelaku, dampaknya bisa sampai pada kriminalitas. Nah bapak ibu guru hebat, yuk kita hentikan segala bentuk perundungan di sekitar kita!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

Kamis, 25 Mei 2023

 

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN

MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF BAGI MURID

Oleh : CICIN RESNAWATI

CGP ANGKATAN _7 KAB GARUT

Pada Refleksi dwi mingguan kali ini saya menggunakan  model 4F ( Fact, Feeling, Findings, Future) merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. Dalam model refleksi 4F ini dapat diterjemahkan menjadi 4P yang terdiri dari Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Penerapan. Pada modul 3.3 yang saya dapatkan dalam mempelajari modul ini yaitu materi pengelolaan program yang berdampak positif pada murid.

A.                  FACT

Dalam modul ini saya juga mempelajari kepemimpinan murid atau sering juga disebut student agency dimana murid mampu berperan sebagai pemimpin dalam pembelajarannya sendiri, murid diberikan kesempatan untuk dapat mengembangkan dirinya sehingga kapasitasnya dalam mengelola pembelajarannya sendiri dapat dimaksimalkan untuk menemukan potensi kepemimpinannya untuk selalu berkembang menjadi lebih baik. 

Pada saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri, secara tidak langsung mereka memiliki suara (voice), pilihan (choice) dan kepemilikan (ownership), selain itu dalam modul ini juga terdapat materi tentang 7 karakteristik lingkungan yang mendukung dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid yang meliputi: 

1.       Lingkungan yang menyediakan kesempatan murid untukmenggunakan pola pikir positif dan merasakan emosiyang positif

2.       Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana, dimana murid akan menjunjung tinggi nilai-nilai positif yang didasari dengan nilai-nilai kebajikan yang dibangun oleh sekolah

3.       Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun nonakademik

4.       Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan disekitarnya

5.        Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapatmenentukan tujuan, harapan ataumimpi yang manfaat dan menindaklanjuti kebaikannya melampauipemenuhan kepentingan individu, kelompok maupungolongan

6.       Lingkungan yang menempatkan murid sebagai fokusnya sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri

7.       Lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan sikaptangguh murid untuk terus bangkit diberbagai kesempatan

B.                  FEELING

Perasaan yang saya rasakan setelah mempelajari modul 3.3 ini adalah sangat puas dan menyenangkan perasaan karena selain menambah ilmu pengetahuan, wawasan secara tidak langsung merubah sudut pandang sebagai seorang pendidik bahwasannya murid seyogyanya diberikan kesempatan untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajarannya sendiri sehingga potensi kepemimpinan murid tersebut dapat muncul dan juga selalu berkembang lebih baik.Selain itu setelah mempelajari modul ini dapat saya jadikan bekal untuk dapat saya implementasikan dalam pendidikan,khususnya bagaimana kita merancang program yang melibatkan murid secara aktif dan sekaligus berdampak positif bagi murid di masa sekarang dan masa yang akan datang.

C.                  FINNDINGS

Sebenarnya murid mempunyai peranan dalam mengambil peranan dalam proses belajar mereka sendiri.Tetapi terkadang guru memperlakukan mereka seakan akan tidak mampu dalam membuat keputusan,pilihan dalam proses belajar mereka. Agar kita dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Peran kita adalah:

·       Mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya.

·        Mengurangi kontrol kita terhadap mereka

Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran mereka sendiri, maka hubungan yang tercipta antara guru dengan murid akan mengalami perubahan, karena hubungannya akan menjadi bersifat kemitraan.Selain hubungan kemitraan anatara guru dan murid ada juga yang disebut dengan tri sentra pendidikan . Kemitraan tri sentra pendidikan adalah kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat yang berlandaskan pada asas gotong royong, kesamaan kedudukan, saling percaya, saling menghormati, dan kesediaan untuk berkorban dalam membangun ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter dan budaya prestasi peserta didik. Melalui pemberdayaan, pendayagunaan, dan kolaborasi tri sentra pendidikan ini, maka keterlibatan yang bermakna dari orangtua dan anggota masyarakat dalam proses pembelajaran menjadi fokus yang perlu terus diupayakan oleh sekolah.

D.                  FUTURE

Setelah mempelajari modul 3.3 ini saya berusaha semaksimal mungkin untuk menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari,khususnya di kelas yang saya ampu untuk dapat memberikan perubahan awal. Selain menerapkannya saya juga akan berbagi praktik tersebut terhadap rekan sejawat saya di sekolah tentang apa yang saya pelajari sehingga kolaborasi terjalin dan kebersamaan untuk membangun sekolah yang berpusat pada murid dapat terwujud dengan usaha bersama.

perubahan tidak dapat dimulai dari atas,semua berawal dan berakhir dari guru.Jangan menunggu aba aba,jangan menunggu perintah.Ambilah langkah pertama” -Nadiem Makarim-

Berdasarkan pernyataan diatas,maka saya akan mulai merancang dan mengelola program program sekolah baik kokulikuler,intra kulikuler maupun ekstra kulikuler dengan melibatkan segenap pemanngku kepentingan sekolah.Dimana esensi dari rancangan dan pengelolaan program tersebut muaranya adalah murid dengan kata lain dari murid,oleh murid dan untuk murid.

 

SEMOGA BERMAMFAAT

 SALAM GURU PENGGERAK

 

Minggu, 16 April 2023

 

Jurnal Refleksi Modul 3.1

Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai Nilai Kebajikan Seorang Pemimpin



Oleh : Cicin Resnawati

Calon Guru Penggerak Angkatan 7

Kabupaten Garut

Jurnal Refleksi ini menggunakan Model 5R (Reporting, Responding, Relating, Reasoning, Reconstructing).

Jurnal refleksi ini saya buat untuk mendokumentasikan perasaan, pengalaman, ide / gagasan, pengalaman dan praktik baik selama mempelajari modul 3.1. Refleksi menggunakan model 6 yaitu model 5R (Reporting, Responding, Relating, Reasoning, Reconstructing).

REPORTING (MENDESKRIPSIKAN)

Mendeskripsikan atau menceritakan ulang peristiwa yang terjadi.Sebelum mempelajari modul 3.1 terlebih dahulu CGP mengerjakan Pretest pada tanggal 31 Maret 2023.

Sama hal dengan modul sebelumnya,pada modul 3.1 ini pun CGP belajar melalui alur MERDEKA.Mulai dari Diri dan Eksplorasi konsep-Mandiri mulai dikerjakan pada tanggal 31 Maret,dilanjutkan dengan Eksplorasi Konsep – Forum Diskusi dilakukan pada hari Senin tanggal 3 dan 4 April 20223,dilanjutkan dengan Ruang Kolaborasi pada tanggal 5 dan 10 April,di tanggal 6 April dilaksanakan Pendampingan Individu serta Lokakarya 4 ditanggal 8 April,selanjutnya di Demontrasi Kontekstual Cgp harus mewawancarai 2-3 orang kepala sekolah dan menganalisis hasil wawancara tersebut dimana batas pengumpulan terakhirnya tanggal 17 April.Elaborasi pemahaman dan Koneksi Antar Materi ditanggal 14 April 2023 dan diakhiri dengan Aksi Nyata pada tanggal 17 April 2023.

Dengan alur pembelajaran MERDEKA pada modul 3.1 ini saya belajar tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin. Saya belajar bagaimana mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah. Ada beberapa contoh kasus  disajikan dalam modul ini, dari kasus tersebut CGP belajar mempraktikkan dan menganalisis, sehingga bisa memahami apakah suatu kasus tersebut termasuk dilema etika atau bujukan moral.

Dengan mempelajari modul ini saya menjadi paham, bahwa sebagai pemimpin untuk mengambil satu keputusan dibutuhkan proses yang panjang. Keputusan harus memperhatikan 4 paradigma pengambilan keputusan, tidak meninggalkan 3 prinsip pengambilan keputusan, serta mengikuti 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Sehingga keputusan yang diambil adalah keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan dan berpihak kepada murid.

RESPONDING (MERESPON)

Menjabarkan tanggapan yang diberikan dalam menghadapi peristiwa yang diceritakan, misalnya melalui pemberian opini, pertanyaan, ataupun tindakan yang diambil saat peristiwa berlangsung.Materi dalam modul 3.1 ini bagi saya adalah sesuatu yang baru. Saya sangat senang dapat mempelajarinya, karena ini adalah pengetahuan yang sangat penting dan sangat saya butuhkan berkaitan dengan profesi saya sebagai guru atau pemimpin pembelajaran di kelas.

Sebagai pemimpin pembelajaran tidak jarang saya berhadapan dengan situasi yang membingungkan, harus memilih dua hal yang sering membuat saya dilema, mau memilih satu atau yang lainnya. Butuh waktu yang lama untuk mengambil keputusan. Belum lagi setelah memutuskan saya akan diliputi rasa kurang percaya diri.

Setelah mempelajari modul 3.1 ini, saya mendapat pengetahuan baru yang bisa saya jadikan dasar atau landasan dalam mengambil keputusan. Dengan mengikuti paradigma, prinsip dan langkah-langkah pengambilan keputusan saya menjadi lebih percaya diri dan menjadi yakin bahwa keputusan yang akan saya ambil adalah keputusan yang tepat dan bermanfaat serta tidak merugikan pihak lain. Karena sesuai dengan konsep dan dasar pengambilan keputusan yang jelas.

RELATING ( MENGAITKAN )

Menghubungkan kaitan antara peristiwa dengan pengethuan, ketrampilan, keyakinan atau informasi yang dimiliki.

 

Ilmu dan pengalaman dalam mengambil suatu keputusan yang saya dapatkan dari modul 3.1 ini sangat penting, karena dapat memperkuat dan meningkatkan kemampuan saya dalam memutuskan sesuatu. Saya mempelajari dan mempraktikkan dengan  menganalisis kasus-kasus yang dipaparkan dalam modul secara individu maupun berkolaborasi dengan teman sesama CGP maupun mempraktikkannya di kelas atau di sekolah.

Jika selama ini dalam mengambil suatu keputusan saya lebih banyak mengandalkan intuisi atau berkonsultasi dengan sesama teman yang lebih berpengalaman, tanpa memperhatikan paradigma, prinsip dan tanpa melewati langkah pengambilan dan pengujian keputusan, maka saat ini saya telah mengetahui konsep dan pola pengambilan keputusan yang benar dan efektif, Namun, saya masih perlu dan akan terus berlatih, agar ketrampilan pengambilan keputusan yang saya miliki semakin meningkat.

REASONING (MENGANALISIS)

Menganalisis dengan detail mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi, lalu mengambil beberapa perseptif lain, misalnya dari teori atau kejadian lain yang serupa untuk mendukung analisis tersebut.

Pengambilan keputusan adalah suatu proses, untuk melaksanakannya dibutuhkan informasi atau data atau fakta yang akurat sebagai acuan atau dasar. Semakin banyak informasi yang didapat, maka akan semakin membantu memudahkan dalam pelaksanaan pengambilan keputusan. Disamping informasi, data atau fakta dibutuhkan pula waktu untuk menganalisis dan menguji keputusan yang akan diambil.

Agar memiliki pemahaman yang mendalam tentang cara dan langkah untuk dapat mengambil keputusan terbaik, sebagai pemimpin pembelajaran diperlukan ketrampilan khusus. Untuk itu saya akan terus berlatih menganalisis suatu kasus, sehingga mampu membedakan apakah kasus tersebut termasuk dilema etika ataukah bujukan moral. Dengan begitu akan memudahkan saya melakukan tahap berikutnya dalam pengambilan keputusan.

RECONSTRUCTING (MERANCANG ULANG)

Menuliskan rencana alternative jika menghadapi kejadian serupa di masa mendatang.

Berkat mempelajari  modul 3.1 ini, cara pandang saya tentang pengambilan suatu keputusan mengalami perubahan. Untuk satu keputusan saya harus melalui berbagai pertimbangan, memperhatikan nilai-nilai kebajikan, keperpihakan, terciptanya lingkungan yang kondusif, nyaman dan aman, menerapkan paradigma, prinsip, dan langkah-langkah pengambilan keputusan, sehingga keputusan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan dan memenuhi kebutuhan belajar murid.

 

Setelah saya memperoleh ilmu dan konsep tentang pengambilan keputusan dari modul 3.1 ini, rencana ke depan saya adalah:

·       Menerapkan ilmu dan konsep yang saya dapatkan dari modul ini dalam kehidupan nyata di sekolah,

·       Terus belajar meningkatkan ketrampilan  dalam mengambil suatu keputusan.

·       Saling berbagi dan berkolaborasi dengan teman sejawat mengenai pengambilan keputusan.

Saya berharap di masa mendatang dalam mengambilan sebuah keputusan, akan lebih bijaksana, lebih terampil, hingga keputusan yang diambil adalah keputusan yang tepat dan efektif, dapat dipertanggungjawabkan serta berpihak pada murid. Begitupun dengan teman-teman sejawat di sekolah saya maupun seluruh guru di negara kita tercinta ini. Semoga.

 

Semoga bermanfaat

Tergerak,Bergerak dan Menggerkan

Salam Guru Penggerak

 

 

 

 

 

  PARADIGMA POST POSITIVISME A.     Latar Belakang dan Pengertian Post Positivisme   Pada awal abad ke-20, asumsi-asumsi kaku positivi...