SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS
(SDG’s)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan
berkelanjutan menjadi isu utama dalam agenda global abad ke-21. Kehidupan
manusia yang terus berkembang diiringi dengan peningkatan populasi, eksploitasi
sumber daya alam, dan perkembangan teknologi yang pesat, menimbulkan tantangan
besar bagi kelestarian bumi. Isu-isu seperti perubahan iklim, krisis pangan,
ketidaksetaraan sosial, serta degradasi lingkungan kini menjadi masalah nyata
yang dialami hampir di seluruh belahan dunia. Untuk menjawab tantangan
tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merumuskan Sustainable
Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang terdiri
dari 17 tujuan dan 169 target. Agenda ini ditetapkan pada tahun 2015 dengan
komitmen untuk dicapai pada tahun 2030, yang bertujuan mewujudkan kesejahteraan
manusia sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Dalam konteks
global, Sustainable Development Goals (SDGs) hadir sebagai kelanjutan
dari Millennium Development Goals (MDGs) dengan cakupan yang lebih luas
dan menyentuh aspek ekonomi, sosial, budaya, hingga lingkungan. Misalnya,
tujuan penghapusan kemiskinan tidak hanya diukur dari tingkat pendapatan,
tetapi juga meliputi akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kualitas lingkungan
hidup. Demikian pula tujuan mengenai energi berkelanjutan tidak hanya berfokus
pada ketersediaan energi, tetapi juga penggunaan teknologi ramah lingkungan
untuk mengurangi emisi karbon. Dengan demikian, SDGs menuntut kerja sama
lintas sektor serta keterlibatan aktif dari semua pihak, baik pemerintah,
swasta, akademisi, maupun masyarakat sipil.
Selain keterbatasan MDGs, dunia juga dihadapkan pada tantangan
global yang semakin mendesak dan saling berkaitan, yang memerlukan pendekatan
yang lebih holistik; seperti degradasi lingkungan, ketidaksetaraan yang
meningkat, dan tantangan ekonomi sosial lainnya.
Era sekarang
menunjukkan bahwa tantangan dalam pencapaian SDGs semakin kompleks. Misalnya,
perubahan iklim menjadi ancaman serius yang terbukti meningkatkan frekuensi
bencana alam, mengganggu produksi pangan, dan mengancam kehidupan ekosistem.
Selain itu, pandemi Covid-19 yang melanda sejak 2020 menambah beban baru dengan
memperlambat pencapaian beberapa tujuan dari SDGs tersebut, terutama
dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Kondisi ini memperlihatkan
betapa rentannya sistem global terhadap krisis, sekaligus menegaskan pentingnya
solidaritas dan kolaborasi internasional untuk mencapai tujuan pembangunan
berkelanjutan.
Indonesia,
sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk yang besar, juga menghadapi
berbagai tantangan dalam mengimplementasikan SDGs. Meskipun terdapat
kemajuan dalam beberapa aspek, seperti pendidikan dasar dan pengentasan
kemiskinan, masih banyak persoalan yang membutuhkan perhatian serius. Tingginya
ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, pengangguran, dan belum meratanya
akses kesehatan merupakan hambatan nyata dalam pencapaian target SDGs.
Laporan Sustainable Development Report menunjukkan bahwa Indonesia masih
menghadapi kesulitan pada tujuan pengendalian perubahan iklim, konsumsi dan
produksi berkelanjutan, serta pelestarian ekosistem laut dan darat.
Dari uraian tersebut, dapat dilihat bahwa
masalah pembangunan berkelanjutan bukan hanya persoalan global, tetapi juga
sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari. Masalah
lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi yang terjadi di sekitar kita
merupakan gambaran nyata dari tantangan pencapaian SDGs. Dengan
demikian, dapat ditegaskan bahwa analisis mengenai SDGs tidak hanya
penting untuk memahami agenda internasional, tetapi juga sebagai upaya untuk
meningkatkan kesadaran dan partisipasi setiap individu dalam mewujudkan
pembangunan berkelanjutan.
Oleh karena itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadakan Konferensi
Rio+20 pada tahun 2012 yang kemudian melahirkan gagasan untuk menyusun agenda
pembangunan baru. Berbeda dengan MDGs, SDGs dirancang sebagai
agenda universal yang berlaku untuk semua negara (maju dan berkembang),
bersifat holistik dengan 17 tujuan yang mencakup tiga pilar utama (sosial,
ekonomi, dan lingkungan), serta mengedepankan prinsip "no one left
behind" dan kemitraan global yang inklusif. Inilah yang menjadi dasar
dan urgensi dari pembentukan SDGs.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana perkembangan sejarah Sustainable Development
Goals?
2. Bagaimana karakteristik Sustainable
Development Goals?
3. Apa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs)?
4. Bagaimana tuntunan kompetensi pada Sustainable
Development Goals bagi setiap individu?
5. Bagaimana tantangan Sustainable Development Goals dalam
pembelajaran?
6. Apa saja peluang inovasi dari Sustainable Development
Goals?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Mengetahui perkembangan sejarah dari Sustainable
Development Goals.
2. Menganalisis karakteristik dari Sustainable
Development Goals.
3. Mengetahui tujuan dari Sustainable Development Goals.
4. Mengetahui tuntunan kompetensi pada Sustainable
Development Goals bagi setiap individu.
5. Mengetahui tantangan Sustainable Development Goals
dalam pembelajaran dan cara menghadapi tantangan tersebut dalam mencapai tujuan
dari Sustainable Development Goals
6. Mengetahui peluang inovasi dari Sustainable
Development Goals
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Perkembangan Sustainable Development Goals
Perkembangan Sustainable Development Goals (SDGs) tidak muncul
secara tiba-tiba, melainkan merupakan evolusi dari serangkaian agenda
pembangunan global yang didorong oleh kesadaran kolektif akan tantangan yang
dihadapi dunia.
Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu program dunia
jangka panjang untuk mengoptimalkan potensi dan sumber daya yang dimiliki oleh
setiap negara. Sebagai bagian dari masyarakat dunia, perlu kiranya memandang
negara lain sebagai “masyarakat negara”.
Menurut Bruland, 1987 pada buku pengembangan Sustainable Development
Goals oleh Garliani, Herlin et al. 2025 bahwa perserikatan bangsa-bangsa
mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan yang memenuhi
kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk
memenuhi kemampuan mereka. Pada buku tersebut menjelaskan bahwa Halkos &
Gkampoura, 2021: Purvis et al. 2019 juga berpendapat bahwa terdapat tiga konsep
yang saling terkait dari pembangunan berkelanjutan, yaitu keberlanjutan sosial,
keberlanjutan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Menurut Robert Jackson dan Georg Sorensen (2005), memahami masyarakat
negara bukanlah suatu permasalahan tentang pemakaian model-model ilmu sosial, melainkan
suatu permasalahan tentang menjadi akrab dengan sejarah dan mencoba sedekat
mungkin untuk menguasai pengalaman masa lalu dan hari ini. Oleh karena itu, perlu
adanya pemahaman terhadap suatu program global dari sisi historis, mengapa
program tersebut muncul. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sejak memasuki tahun
2000 telah mencanangkan pogram Milenium Development Goals (MDGs) untuk
kurun waktu 2000-2015.
Adapun Milenium
Development Goals (MDGs) adalah delapan target pembangunan global yang
disepakati oleh seluruh negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada
tahun 2000. Tujuan utama MDGs adalah untuk mengatasi berbagai masalah
sosial dan ekonomi di negara-negara berkembang dalam kurun waktu 15 tahun,
yaitu dari tahun 2000 hingga 2015. Delapan tujuan tersebut berfokus pada isu-isu mendesak yang saling
berkaitan, seperti; Mengentaskan kemiskinan ekstrem dan kelaparan, mencapai
pendidikan dasar universal, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan
perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi
HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya, memastikan kelestarian lingkungan, dan
membangun kemitraan global untuk pembangunan.
Secara singkat, MDGs dapat dipahami sebagai sebuah
agenda global yang terfokus dan berjangka waktu yang dirancang untuk
mempercepat kemajuan di bidang sosial, terutama di negara-negara miskin. Meskipun tidak mencakup semua aspek pembangunan secara
komprehensif seperti penggantinya, Sustainable Development Goals (SDGs),
MDGs menjadi langkah penting yang berhasil menunjukkan bahwa kolaborasi
global dapat mencapai kemajuan yang signifikan dalam isu-isu kemanusiaan.
Perkembangan Sustainable Developmen Goals (SDGs) tidak muncul secara
tiba-tiba melainkan evolusi dari serangkaian agenda pembangunan global yang
didorong oleh kesadaran kolektif akan tantangan yang dihadapi dunia. Berikut
adalah perkembangan Sustainable Development Goals;
1.
Konferensi Lingkungan Hidup Manusia di Stockholm
(1972)
Ini adalah momen penting yang menandai awal mula kesadaran global terhadap
isu lingkungan. Konferensi ini menghasilkan Deklarasi Stockholm yang menyatakan
bahwa pembangunan harus mempertimbangkan faktor lingkungan. Meskipun belum
secara eksplisit membahas "pembangunan berkelanjutan," konferensi ini
menanamkan benih pemikiran bahwa pembangunan dan lingkungan saling terkait.
2.
Laporan Brundtland: "Our Common Future" (1987)
Laporan ini menjadi tonggak sejarah dengan memperkenalkan definisi pembangunan berkelanjutan yang paling terkenal:
"Pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan
generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri." Laporan ini menekankan tiga pilar utama pembangunan berkelanjutan: ekonomi, sosial, dan lingkungan.
3.
Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro (1992)
Dikenal sebagai Rio Earth Summit, konferensi ini
menghasilkan Agenda 21, yang berarti sebuah rencana aksi komprehensif
untuk pembangunan berkelanjutan. Konferensi ini mengintegrasikan isu-isu lingkungan ke dalam agenda
pembangunan dan mendorong negara-negara untuk mengadopsi kebijakan pembangunan
berkelanjutan.
4.
Millennium Development Goals (MDGs) (2000-2015)
MDGs adalah agenda pembangunan global pertama yang berjangka waktu dan
terukur. Terdiri dari 8 tujuan, MDGs berfokus pada isu-isu sosial seperti
pengentasan kemiskinan ekstrem, pendidikan dasar, dan kesehatan. Meskipun
berhasil dalam banyak hal, MDGs dikritik karena kurangnya fokus pada isu
lingkungan, ketidaksetaraan, dan tidak melibatkan semua negara secara
universal.
5. Konferensi
Rio+20 (2012)
Konferensi ini menjadi titik tolak
langsung lahirnya SDGs. Dalam konferensi ini, para pemimpin dunia sepakat untuk
merumuskan agenda pembangunan global baru yang lebih komprehensif untuk
menggantikan MDGs. Prosesnya melibatkan konsultasi publik yang luas,
menjadikannya agenda yang lebih inklusif dan partisipatif.
6.
Sustainable
Development Goals (SDGs) (2015-2030)
Pada September 2015, Majelis Umum PBB secara resmi
mengadopsi Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan yang memuat 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
B. Karakteristik Utama Sustainable
Development Goals (SDGs)
SDGs adalah
penyempurnaan dari MDGs dengan beberapa perbedaan utama:
1.
Universal: SDGs berlaku untuk semua negara, baik maju
maupun berkembang, karena tantangan seperti perubahan iklim dan ketidaksetaraan
adalah masalah global.
2.
Integratif
dan Komprehensif: Memadukan aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan kelembagaan.
Tidak berdiri sendiri tetapi saling berhubungan antar tujuan.
3.
Holistik
dan Berkelanjutan: SDGs
mencakup tiga pilar pembangunan berkelanjutan (sosial, ekonomi, dan lingkungan)
secara seimbang, bahkan menambahkan pilar keempat: hukum dan tata kelola.
Tidak hanya menargetkan pembangunan jangka pendek, tetapi juga keberlanjutan
untuk generasi mendatang. Mendorong keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan
masa depan.
4.
Partisipatif
dan Inklusif: Mengusung
prinsip "No One Left Behind," SDGs bertujuan memastikan pembangunan
yang adil dan merata bagi semua lapisan masyarakat. Melibatkan pemerintah,
sektor swasta, masyarakat sipil, akademisi, dan individu.
C. Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs)Sustainable
Development Goals atau disingkat SDGs, dalam
bahasa Indonesia dikenal dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah
serangkaian tujuan yang dibuat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai
panduan bagi seluruh negara anggota untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. SDGs disepakati
oleh 190 negara dan disahkan melalui sidang umum PBB pada 25 Septermber 2015 di
New York, Amerika Serikat. Agenda pembangunan global ini berlaku mulai dari
tahun 2015 hingga 2030. Tujuan SDGs mencakup berbagai aspek
keberlanjutan, mulai dari ekonomi, sosial, hingga lingkungan. SDGs
terdiri dari 17 tujuan, yaitu sebagai berikut:
1. Tanpa Kemiskinan
(No Proverty)
Tujuan nomor satu dari 17 tujuan SDGs
adalah mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk di mana pun atau end
poverty in all its forms everywhere. Tujuan ini menjadi tema pembangunan,
agenda utama, dan berkelanjutan yang melatari berbagai tujuan pembangunan
lainnya seperti infrastruktur, pariwisata, pangan dan energi dan lain-lain.
2. Tanpa Kelaparan (Zero Hunger)
Tujuan nomor dua dari 17
tujuan SDGs adalah mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan,
memperbaiki nutrisi dan mempromosikan pertanian yang berkelanjutan. Kelaparan
disebabkan karena kurangnya konsumsi pangan kronis. Dalam jangka panjang,
kelaparan kronis berakibat buruk pada derajat kesehatan masyarakat dan
menyebabkan tingginya pengeluaran masyarakat untuk kesehatan.
3.
Kesehatan yang
Baik dan Kesejahteraan (Good health and well being)
Tujuan nomor tiga dari 17 tujuan SDGs adalah menjamin kehidupan yang
sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Fokus dari
tujuan ini mencakup berbagai hal mulai dari menjamin gizi masyarakat, sistem
kesehatan nasional, akses kesehatan dan reproduksi, keluarga berencana (KB),
serta sanitasi dan air bersih.
4.
Pendidikan Berkualitas (Quality Education)
Tujuan nomor
empat dari 17 tujuan SDGs adalah pendidikan yang berkualitas dengan
menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta mempromosikan
kesempatan belajar seumur hidup untuk semua orang. Peningkatan
pendidikan akan memacu pencapaian terhadap tujuan dan sasaran lainnya dalam 17
poin SDGs, terutama untuk meningkatkan indeks pembangunan manusi
5.
Kesetaraan Gender (Gender Equality)
Mencapai
kesetaraan gender dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang tanpa diskriminasi.
6. Air bersih dan Sanitasi (Clean Water and Sanitation)
Mencita-citakan
akses universal terhadap air bersih dan sanitasi yang aman. Tujuan ini berfokus
pada pengelolaan air yang berkelanjutan, pengendalian polusi air, dan
pengurangan jumlah orang yang tidak memiliki akses ke fasilitas sanitasi yang
layak.
7. Energi Bersih dan Terjangkau (Affordable and Clean
Energy)
Menargetkan
pemberian akses universal terhadap energi yang terjangkau, handal,
berkelanjutan, dan modern. SDGs ini juga mencakup promosi energi
terbarukan dan efisiensi energi.
8. Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth)
Bertujuan
untuk menciptakan pekerjaan yang layak, pertumbuhan ekonomi inklusif, dan
perlindungan sosial bagi semua. Tujuan ini menekankan pentingnya menciptakan
peluang pekerjaan produktif dan kondisi kerja yang layak.
9. Industri, Inovasi dan Infrastruktur (Industry,
Innovation and Infrastructure)
Menargetkan
pembangunan infrastruktur yang kokoh, promosi inovasi, dan pembangunan industri
yang berkelanjutan. SDG ini berupaya mencapai pertumbuhan ekonomi inklusif
melalui industrialisasi yang berkelanjutan.
10. Berkurangnya Kesenjangan (Reduced Inequalities)
Mencita-citakan
pengurangan kesenjangan dalam dan antara negara, serta mempromosikan
inklusivitas. Fokus pada pemberdayaan kelompok-kelompok yang rentan dan
pengurangan ketidaksetaraan dalam pendapatan.
11. Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan (Sustainable
Cities and Communities)
Bertujuan
untuk membuat kota dan pemukiman manusia inklusif, aman, tangguh, dan
berkelanjutan. Fokus pada perencanaan tata kota yang baik, akses terhadap
transportasi umum, serta perlindungan dan pemulihan warisan budaya.
12. Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible
Consumption and Production)
Mencita-citakan
pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Tujuan ini menekankan pentingnya
efisiensi sumber daya, pengelolaan limbah yang tepat, dan pengembangan produk
yang ramah lingkungan
13. Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action)
Menargetkan
upaya global untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya. Tujuan ini mencakup
pengurangan emisi gas rumah kaca, adaptasi terhadap perubahan iklim, dan
peningkatan ketahanan terhadap bencana alam.
14. Ekosistem Lautan (Life Below Water)
Bertujuan untuk
melestarikan dan menggunakan secara berkelanjutan sumber daya laut. Fokus pada
perlindungan ekosistem laut, pengurangan polusi plastik, dan penanggulangan
praktik perikanan yang merugikan.
15. Ekosistem Daratan (Life on Land)
Mencita-citakan
pengelolaan hutan, pemulihan lahan yang terdegradasi, dan pelestarian
keanekaragaman hayati. SDGs ini menekankan perlindungan ekosistem
daratan dan pengendalian invasi spesies asing.
16. Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh (Peace,
Justice and Strong Institutions)
Bertujuan
untuk mempromosikan perdamaian, keadilan, dan institusi yang kuat. Tujuan ini
mencakup pengurangan kekerasan, akses setara terhadap sistem hukum, dan
pemberantasan korupsi.
17. Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the
Goals)
Menargetkan
peningkatan kerjasama internasional dalam pencapaian SDGs. Fokus pada
pengembangan kapasitas, transfer teknologi, dan dukungan keuangan untuk
memastikan keberlanjutan upaya pembangunan.
Ke-17 tujuan SDGs di atas saling keterkaitan dan
saling mempengaruhi satu sama lain. Untuk mencapai tujuan SDGs,
dibutuhkan kolaborasi dan kerja sama. SDGs ini menjadi komitmen global
untuk mencapai pembangunan berkelanjutan yang lebih baik lagi. Setiap negara,
termasuk Indonesia, memiliki tanggung jawab untuk mencapai tujuan SDGs.
Dengan memperhatikan aspek keberlanjutan dalam setiap keputusan dan tindakan,
kita dapat membangun masa depan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan bagi
generasi yang akan datang.
Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) atau
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah sebuah cetak biru global yang
dirancang untuk mencapai masa depan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan
untuk semua. Program ini merupakan kelanjutan dari Millennium Development Goals
(MDGs) yang berakhir pada tahun 2015. Tujuan utama SDGs adalah untuk
menanggulangi berbagai masalah global yang kompleks dan saling terkait, seperti
kemiskinan, kesenjangan, perubahan iklim, degradasi lingkungan, perdamaian, dan
keadilan.
Secara umum, tujuan SDGs dapat
dikelompokkan ke dalam lima pilar utama yang dikenal sebagai 5P, yaitu:
1. Manusia
(People)
Fokus pada
pengentasan kemiskinan dan kelaparan dalam segala bentuknya, serta menjamin
martabat dan kesetaraan bagi seluruh umat manusia. Tujuan ini mencakup
memastikan kehidupan yang sehat dan berkualitas, pendidikan yang inklusif, dan
kesetaraan gender.
2. Planet
(Planet)
Bertujuan
untuk melindungi planet dari degradasi melalui konsumsi dan produksi yang
berkelanjutan, pengelolaan sumber daya alam, dan tindakan segera terhadap
perubahan iklim. Tujuannya adalah untuk memastikan kelestarian lingkungan hidup
dan ekosistem daratan serta lautan.
3. Kemakmuran
(Prosperity)
Berfokus pada memastikan bahwa semua
manusia dapat menikmati kehidupan yang makmur dan memuaskan. Pilar ini mencakup
pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pekerjaan yang layak, dan industrialisasi
yang berkelanjutan.
4.
Perdamaian (Peace)
Bertujuan untuk menciptakan
masyarakat yang damai, adil, dan inklusif yang bebas dari ketakutan dan
kekerasan. Ini termasuk mempromosikan akses keadilan bagi semua dan membangun
institusi yang efektif, akuntabel, dan inklusif di semua tingkatan.
5.
Kemitraan (Partnership)
Menekankan pentingnya kemitraan
global untuk mencapai tujuan SDGs. Pembangunan berkelanjutan hanya bisa dicapai
dengan kerja sama yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat
sipil.
D. Tuntunan kompetensi pada Sustainable Development Goals
bagi setiap individu
SDGs bukan hanya
agenda pemerintah atau organisasi internasional, tetapi juga menuntut peran
aktif dari setiap individu. Setiap individu diharapkan mampu memiliki
kompetensi tertentu agar dapat mendukung tercapainya 17 tujuan dari SDGs tersebut.
Adapun tuntunan kompetensi yang harus dimiliki antara lain adalah:
1. Kompetensi Pengetahuan (Knowledge Competence)
Pada kompetensi ini, individu harus memahami isu-isu
global yang tercakup dalam SDGs, seperti kemiskinan, kesehatan,
pendidikan, perubahan iklim, energi bersih, dan kesetaraan. Dengan pengetahuan
dan pemahaman ini, setiap individu dapat mengambil keputusan yang lebih bijak
dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
2. Kompetensi Berpikir Sistem (System Thinking)
Setiap individu harus mampu melihat keterkaitan antara
aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.
3. Kompetensi Antisipatif (Anticipatory Competence)
Mampu memprediksi dampak jangka panjang dari
suatu tindakan. Misalnya, memahami pentingnya mengurangi plastik sekali pakai
demi keberlanjutan ekosistem laut di masa depan.
4. Kompetensi Normatif (Normative Competence)
Setiap individu harus mampu menumbuhkankesadaran moral,
nilai, dan etika untuk keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan. Individu
didorong untuk peduli, bertanggung jawab dan menjunjung kesetaraan.
5. Kompetensi Strategis (Strategic Competence)
Kemampuan merancang dan melaksanakan aksi nyata dalam
lingkup kecil maupun besar. Seperti dalam menyusun strategi sekolah yang ramah
lingkungan atau program rumah tangga dengan minim sampah.
6. Kompetensi Kolaboratif (Collaborative Comperence)
Pada kompetensi ini, individu harus mampu bekerja sama
dengan orang lain, baik pada lintas bidang maupun budaya. Kemudian SDGs juga
hanya bisa tercapai jika semua pihak dapat saling berkolaborasi dengan baik .
7. Kompetensi Pemecahan Masalah (Problem-Solving
Competence)
Selain kompetensi berkolaborasi, SDGs mengharuskan
setiap individu terampil dalam mengidentifikasi masalah yang terjadi
dilingkungan sekitar dan mencari solusi yang inovatif.
8. Kompetensi Reflektif (Self-Awareness dan Reflection)
Kompetensi yang terakhir, yaitu individu harus mampu
menilai kebiasaan hidupnya sendiri, kemudian merefleksikan dampaknya, dan
melakukan perubahan menuju gaya hidup yang berkelanjutan.
Tuntunan
kompetensi SDGs ini menekankan bahwa kita sebagai individu tidak hanya
dituntut untuk sekedar tahu, tetatpi juga peduli, mampu bekerja sama, berpikir
kritis, reflektif, dan bisa beraksi nyata. Dengan kompetensi ini, individu
berperan penting sebagai agen perubahan menuju dunia yang lebih adil,
sejahtera, dan berkelanjutan.
E.
Tantangan
yang Dihadapi dalam Mewujudkan Tujuan Sustainable Development Goal (SDGs)
Meskipun memiliki tujuan yang sangat mulia, implementasi Sustainable
Development Goals (SDGs) tidaklah mudah dan menghadapi berbagai tantangan
signifikan di tingkat global maupun nasional. Tantangan ini seringkali kompleks dan saling terkait,
yang memerlukan kerja sama dari berbagai pihak untuk mengatasinya.
Berikut adalah beberapa tantangan utama yang dihadapi
dalam upaya mencapai SDGs:
1. Masalah Pendanaan dan Kesenjangan Ekonomi
a. Keterbatasan Anggaran Negara: Banyak negara berkembang kekurangan anggaran yang
memadai untuk membiayai proyek-proyek SDGs, seperti pembangunan
infrastruktur, fasilitas kesehatan, dan pendidikan.
b. Kurangnya Investasi Swasta: Meskipun SDGs dirancang untuk melibatkan sektor
swasta, kontribusi mereka dalam pendanaan masih belum optimal. Sebagian besar
investasi swasta cenderung berfokus pada proyek yang menjanjikan keuntungan
finansial tinggi, bukan pada tujuan sosial atau lingkungan yang kurang
menguntungkan.
c. Kesenjangan Global: Ketimpangan ekonomi antara negara maju dan negara
berkembang masih sangat besar. Negara maju cenderung lebih cepat mencapai
target SDGs, sementara negara berkembang tertinggal karena masalah
kemiskinan dan infrastruktur yang terbatas.
2. Isu Tata Kelola dan Kemitraan
a. Koordinasi Antar Lembaga: SDGs mencakup 17 tujuan yang sangat luas dan
saling berhubungan. Ini membutuhkan koordinasi lintas sektor yang kuat antara
berbagai kementerian, lembaga pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya. Kurangnya
koordinasi bisa menyebabkan tumpang tindih program atau bahkan kegagalan
implementasi.
b. Rendahnya Partisipasi Masyarakat: Partisipasi dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya
SDGs masih rendah di banyak daerah. Padahal, peran aktif dari masyarakat
sangat krusial untuk keberhasilan program.
c. Keterbatasan Data: Banyak negara menghadapi tantangan dalam mengumpulkan,
mengelola, dan menganalisis data yang diperlukan untuk memantau kemajuan SDGs.
Tanpa data yang akurat, sulit untuk membuat kebijakan yang efektif dan terukur.
3. Masalah Sosial dan Lingkungan yang Saling Terkait
a. Perubahan Iklim dan Bencana Alam: Dampak perubahan iklim, seperti banjir, kekeringan, dan
kenaikan permukaan air laut, memperlambat kemajuan dalam banyak tujuan SDGs,
terutama yang berkaitan dengan ketahanan pangan, air bersih, dan pengentasan
kemiskinan.
b. Ketimpangan Sosial: Meskipun ada kemajuan, ketidaksetaraan dalam akses
terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan pekerjaan masih menjadi hambatan
besar. Kelompok
rentan seperti perempuan, anak-anak, dan masyarakat adat sering kali yang paling
menderita.
c. Konflik dan Ketidakstabilan Politik: Konflik bersenjata dan ketidakstabilan politik di
banyak wilayah dunia menghancurkan infrastruktur, menciptakan krisis
kemanusiaan, dan mengalihkan sumber daya yang seharusnya digunakan untuk
pembangunan berkelanjutan.
4. Hambatan
dalam Penyelarasan Kebijakan
a. Penyelarasan SDGs dengan Kebijakan Nasional: Terkadang, ada ketidakselarasan antara target global SDGs
dengan prioritas dan rencana pembangunan nasional suatu negara. Hal ini bisa
menyebabkan program SDGs tidak terintegrasi sepenuhnya dalam kebijakan
pemerintah.
b. Tantangan Struktural: Di beberapa negara, terdapat tantangan struktural
seperti rendahnya upah, kurangnya perlindungan sosial bagi pekerja informal,
dan alih fungsi lahan pertanian yang mengancam ketahanan pangan.
Masalah-masalah ini sulit diatasi tanpa reformasi kebijakan yang mendalam.
Secara
keseluruhan, tantangan terbesar adalah kompleksitas dan saling keterkaitan dari semua masalah ini. Untuk mencapai
tujuan SDGs pada tahun 2030, diperlukan komitmen politik yang kuat,
inovasi dalam pendanaan, dan kemitraan global yang solid.
F. Peluang Sustainable Develpment Goals (SDGs) pada
Inovasi Pembelajaran
Pada
dasarnya, SDGs bisa menjadi suatu peluang bagi masyarakat luas. Salah satu yang
bisa dikembangkan dari SDGs ini adalah sebagai berikut:
1. Energi Bersih dan Terbarukan (SDG 7), salah satunya
adalah inovasi panel surya murah dan
efisien, pembangkit listrik tenaga angin, air mikro, dan biomassa, serta teknologi
penyimpanan energi (baterai ramah lingkungan).
2. Kesehatan dan Kesejahteraan (SDG 3), Alat
kesehatan murah dan portable (contoh: deteksi penyakit dengan sensor
sederhana). Telemedicine untuk daerah terpencil. Vaksin dan obat baru berbasis
bioteknologi.
3. Pendidikan Berkualitas (SDG 4), Media belajar kreatif tanpa
gadget (kit eksperimen, komik sains, board game edukatif). Platform belajar
digital inklusif yang bisa diakses gratis. Kurikulum inovatif berbasis proyek
(Project Based Learning untuk SDGs).
4. Kota dan Komunitas Berkelanjutan (SDG 11), Transportasi
publik ramah lingkungan (bus listrik, sepeda pintar). Rumah hemat energi dengan
desain ramah lingkungan. Teknologi smart city untuk manajemen sampah dan air.
5. Pangan dan Pertanian Berkelanjutan (SDG 2, SDG 12, SDG 15), Pertanian vertikal dan hidroponik untuk kota padat penduduk. Inovasi
pupuk organik dan biopestisida ramah lingkungan. Sistem distribusi pangan
digital yang mengurangi food loss.
6. Air Bersih dan Sanitasi (SDG 6), Alat
filter air sederhana berbasis bahan lokal. Toilet ramah lingkungan tanpa
limbah. Desalinasi air laut dengan energi terbarukan.
7. Industri, Inovasi, dan Infrastruktur (SDG 9), Revolusi
Industri 4.0 → otomatisasi ramah lingkungan, Internet of Things (IoT) untuk
energi dan transportasi. Bahan bangunan daur ulang (plastik jadi paving block,
limbah kaca jadi keramik). Infrastruktur digital untuk pemerataan akses
informasi.
8. Aksi Iklim (SDG 13), Teknologi carbon capture
(penangkapan CO₂ dari udara). Sistem peringatan dini bencana berbasis sensor
murah. Aplikasi jejak karbon untuk gaya hidup berkelanjutan.
9.
Kemitraan Global (SDG 17), Platform kolaborasi global untuk inovasi sosial. Program startup berorientasi SDGs. Model pembiayaan hijau (green
investment & impact investment).
SDGs membuka
ruang besar untuk inovasi di bidang energi, pangan, kesehatan, pendidikan,
lingkungan, teknologi, hingga tata kota. Peluang ini bisa dimanfaatkan oleh
pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, hingga siswa atau mahasiswa untuk
menciptakan solusi kreatif yang menjawab tantangan global sekaligus bermanfaat
bagi masyarakat.
Tapi yang akan kita garis
bawahi adalah peluang SDGs pada dunia pendidikan yaitu pada inovasi
pembelajaran. Pada proses pembelajaran, sebagai pendidik tentu harus mampu
memanfaatkan keadaan dengan sebaik-baiknya. Bahkan dalam keadaan yang kurang
menyenangkan pun pendidik harus mampu menciptakan peluang yang dapat membantu
meningkatkan kualitas pendidikan dalam proses pembelajaran. Berikut adalah peluang
inovasi dalam pembelajaran yang bisa dikembangkan dari SDGs:
1. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Learning)
Guru mengaitkan materi IPA, IPS, atau Bahasa dengan isu nyata dalam
SDGs. Contoh: belajar fotosintesis → dikaitkan dengan SDG 13 (Aksi Iklim) dan
SDG 15 (Ekosistem Daratan).
2. Pembelajaran Berbasis Project, Project-Based Learning (PjBL)
berbasis SDGs. Siswa mengerjakan proyek nyata yang mendukung SDGs. Contoh:
proyek Zero Waste School (SDG 12), hidroponik sederhana (SDG 2), atau
kampanye hemat energi (SDG 7).
3. Inovasi Media Pembelajaran Ramah Lingkungan
Menggunakan bahan daur ulang sebagai alat peraga (botol jadi model
paru-paru, kertas bekas jadi papan konsep). Menciptakan board game bertema
SDGs, misalnya “Ular Tangga SDGs” atau “Kartu Aksi Iklim”.
4. STEAM Education berbasis SDGs
Mengintegrasikan Science, Technology, Engineering, Arts, and
Mathematics untuk solusi SDGs. Contoh:
siswa merancang filter air sederhana (IPA + teknologi), lalu membuat poster
kampanye hemat air (Seni + Bahasa).
5. Pembelajaran Berbasis Layanan Masyarakat (Service Learning)
Siswa belajar sambil melakukan kegiatan nyata di masyarakat. Contoh:
program menanam pohon, kampanye stop plastik sekali pakai, atau mengajar anak
kecil tentang kebersihan.
6. Gamifikasi (Game-Based Learning) bertema SDGs
Permainan edukatif yang mengajarkan konsep keberlanjutan. Contoh:
permainan simulasi “Kota Hijau” di mana siswa mengatur sumber daya agar kota
tetap berkelanjutan.
7. Kolaborasi Lintas Mata Pelajaran
IPA membahas energi terbarukan, IPS membahas ekonomi hijau, Bahasa
Indonesia menulis artikel tentang lingkungan. Semua terintegrasi ke dalam satu
tema SDGs, sehingga pembelajaran lebih holistik.
8. Reflektif dan Critical Thinking
Siswa dilatih menganalisis kebiasaan sehari-hari: salah satu contohnya
“Apakah gaya hidupku mendukung SDGs?”. Diskusi reflektif → menumbuhkan
kepedulian sosial dan lingkungan.
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Sustainable Development Goals (SDGs) hadir sebagai agenda global yang relevan
dengan tantangan zaman sekarang, mulai dari isu lingkungan, kesehatan, energi,
pendidikan, hingga kemitraan global. SDGs bukan hanya menjadi tanggung
jawab pemerintah dan lembaga internasional, tetapi juga dapat diintegrasikan
dalam dunia pendidikan sebagai sarana menanamkan kesadaran keberlanjutan sejak
dini.
Dalam konteks Indonesia, penerapan SDGs
dalam sistem pembelajaran memberikan peluang besar untuk menciptakan
pembelajaran yang lebih kontekstual, kreatif, dan bermakna. Melalui pendekatan
berbasis proyek, media belajar kreatif, serta pemanfaatan teknologi, siswa
tidak hanya memperoleh pengetahuan akademis, tetapi juga keterampilan abad 21
seperti berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, dan kepedulian sosial-lingkungan.
Dengan demikian, SDGs dapat menjadi jembatan antara pembelajaran di
sekolah dengan permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat.
B. Saran
1. Bagi pendidik
a. Guru sebaiknya mulai mengintegrasikan isu-isu SDGs
ke dalam materi ajar, baik melalui proyek kecil, studi kasus, maupun penggunaan
media kreatif.
b. Pengembangan kurikulum berbasis SDGs
dapat membantu siswa memahami keterkaitan antara ilmu pengetahuan dengan
kehidupan nyata.
2. Bagi sekolah dan institusi pendidikan
a. Sekolah perlu menciptakan budaya belajar
berkelanjutan, misalnya melalui program sekolah hijau, pengelolaan sampah, dan
pemanfaatan energi ramah lingkungan.
b. Kolaborasi dengan pihak luar (universitas,
NGO, industri) penting untuk memperkaya praktik pembelajaran yang selaras
dengan SDGs.
3. Bagi pemerintah
a. Pemerintah perlu mendukung pengembangan
kurikulum nasional yang memasukkan SDGs sebagai tema lintas mata
pelajaran.
b. Penyediaan pelatihan bagi guru serta penguatan
sarana pembelajaran berbasis keberlanjutan harus menjadi prioritas.
4. Bagi peserta didik
a. Siswa diharapkan aktif dalam pembelajaran
berbasis SDGs, tidak hanya sebagai penerima pengetahuan, tetapi juga
sebagai agen perubahan di lingkungan sekitarnya.