Selasa, 16 September 2025

 

PARADIGMA POST POSITIVISME

A.    Latar Belakang dan Pengertian Post Positivisme

 

Pada awal abad ke-20, asumsi-asumsi kaku positivisme mulai dipertanyakan, terutama oleh para filsuf sains. Mereka berpendapat bahwa idealisme positivisme tentang objektivitas murni dan kebenaran absolut tidak realistis, terutama dalam ilmu-ilmu sosial. Kritik ini membuka jalan bagi munculnya pospositivisme.Paradigma postpositivisme merupakan pendekatan filsafat ilmu yang berkembang sebagai respon terhadap keterbatasan paradigma positivisme. Dalam dunia penelitian, pendekatan ini memberikan pemahaman baru tentang realitas ilmiah yang tidak mutlak, tetapi terbuka terhadap revisi dan pengujian ulang.

Meskipun paradigma postpositivisme masih menekankan pentingnya objektivitas dan validitas ilmiah, pendekatan ini lebih disadari akan keterbatasan manusia dan konteks sosial yang mempengaruhi proses penelitian dan mengakui bahwa pengetahuan ilmiah bersifat sementara dan dapat direvisi berdasarkan temuan baru. Dengan demikian, postpositivisme membuka ruang untuk keterlibatan refleksi kritis dan triangulasi pendekatan dalam penelitian.

Post positivisme adalah sebuah pendekatan filosofis dalam penelitian yang berkembang sebagai respons terhadap kelemahan dan keterbatasan positivisme. Pendekatan ini mengakui bahwa realitas tidak dapat sepenuhnya dipahami melalui metode ilmiah objektif saja dan menekankan pentingnya peran peneliti, konteks sosial, dan interpretasi dalam proses penelitian.

Aliran ini ingin memperbaiki kelemahan pada Positivisme. Postpositivisme sependapat dengan Positivisme bahwa kenyataan itu memang nyata, ada sesuai hukum alam. Tetapi di sisi lain, Postpositivisme berpendapat bahwa manusia tidak mungkin mendapatkan kebenaran dari kenyataan apabila peneliti membuat jarak dengan kenyataan atau tidak terlibat secara langsung dengan kenyataan. Hubungan antara peneliti dengan kenyataan harus bersifat interaktif, karena itu perlu menggunakan prinsip trianggulasi, yaitu penggunaan berbagai macam metode, sumber data, data, dan lain-lain.

Secara ontologis aliran ini bersifat realisme kritis yang memandang bahwa realitas memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hukum alam, tetapi satu hal yang mustahil bila suatu realitas dapat dilihat secara benar oleh manusia (peneliti). Oleh karena itu, secara metodologis pendekatan eksperimental melalui observasi tidaklah cukup, tetapi harus menggunakan triangulasi metode, yaitu penggunaan berbagai macam metode, sumber data, peneliti, dan teori.

Sebelum memahami post positisme,penting kiranya untuk kita mengerti apa itu positisme.Positisme adalah sebuah filsafat sains yang menyatakan bahwa satu satunya penegetahuan yang sahih (valid ) adalah pengetahuan ilmiah yang didasarkan pada data empiris yang dapat diobservasidan diukur secara langsung.Aliran ini dipelopori oleh Auguste Comte,beliau dikenal sebagai bapak Positivisme.Positivisme berasumsi bahwa :

Ø  Realitas itu objektif dan tunggal: Ada satu realitas di luar sana yang bisa ditemukan dan dipahami.

Ø  Peneliti itu netral: Peneliti dapat mengamati fenomena tanpa memengaruhi atau dipengaruhi olehnya.

Ø  Hukum universal: Ada hukum-hukum sebab-akibat yang dapat ditemukan dan berlaku secara universal.

Namun seiring berjalanya waktu,para filsuf dan ilmuwan mulai melihat kekurangan dari pendekatan postivisme ini.Mereka berpendapat bahwa asumsi asumsi ini terlalu kaku dan tidak realistis terutama dalam ilmu sosial.Beberapa kritik utama terhadap positivisme adalah :

a.     Kecenderungan peneliti: Tidak mungkin bagi peneliti untuk sepenuhnya netral. Nilai-nilai, keyakinan, dan latar belakang mereka pasti memengaruhi cara mereka merumuskan pertanyaan, mengumpulkan data, dan menafsirkan temuan.

b.     Kompleksitas realitas sosial: Realitas sosial tidak sesederhana fenomena alam. Realitas sosial bersifat subjektif, interpretatif, dan terus berubah, sehingga sulit untuk diukur secara ketat.

 

B.    Tokoh Tokoh penting dalam paradigma Post Positivisme

 

Post Positivisme berkembang sebagai gerakan yang toleran dan realistis terhadap proses penelitian ilmiah.Aliran ini tidak sepenuhnya menolak sains, tetapi meninjau ulang keyakinan bahwa pengetahuan ilmiah itu objektif, pasti, dan bebas nilai. Post-positivisme mengakui bahwa semua observasi ilmiah dipengaruhi oleh teori dan bahwa pengetahuan adalah hasil dari interpretasi manusia, bukan sekadar cerminan realitas.

Berikut adalah beberapa tokoh utama aliran post positivisme :

 

1.     Karl Popper (1902-1994)

Popper adalah salah satu tokoh kunci aliran post positivisme.Dalam bukunya yang berjudul The Logic of Scientific Discovery (1959). Dalam buku ini, Popper memaparkan argumennya bahwa metode ilmiah seharusnya berfokus pada upaya untuk menyangkal hipotesis, bukan membuktikannya.Ia mengkritik prinsip verifikasi.Dalam bukunya,Popper memperkenalkan prinsip falsifikasi atau penyanggahan. Menurut Popper,suatu teori ilmiah harus bisa dibuktikan salah.Jika sebuah teori berhasil bertahan dari berbagai upaya penyanggahan maka teori tersebut dianggap kuat dan dapat diterima secara tentatif

2.     Thomas Kuhn (1922-1996)

Kuhn, melalui bukunya The Structure of Scientific Revolutions, mengemukakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak selalu linier dan akumulatif seperti yang dipercayai oleh positivisme. Sebaliknya, Kuhn berpendapat bahwa sains berkembang melalui pergeseran paradigma—perubahan fundamental dalam kerangka konseptual yang digunakan oleh komunitas ilmiah untuk memahami dunia. Pandangan ini menunjukkan bahwa sains tidak sepenuhnya objektif dan bebas nilai, melainkan dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, historis, dan psikologis.Thomas Kuhn eperkenalkan gagasan revolusi ilmiah dan pergeseran paradigma yang enentang pandangan positivisme tentanng kemajuan sains yang linier dan kumulatif.Ia berpendapat bahwa sains berkembang melalui peiode “sains normal”yang didominasi oleh satu paradigma,diselingi oleh “revolusi ilmiah” dimana paradigma lama diganti oleh yang baru.

3.     Imre Lakatos

Imre Lakatos meupakan muri dari Thomas Kuhn,dalam bukunya yang berjudul Proofs and Refutations: The Logic of Mathematical Discovery (1976).yang mana isi buku ini menggunakan metode dialog socrates yang enunjukan bahwa dalam matematika,seperti halnya sains,bukanlah proses akumulasi kebenaran yang pasti,melainkan proses dialeksis dari dugaan dan sanggahan.Beliau engembangkan gagasan falsisifikasi enjadi “program penelitian ilmiah”( scientific research programme).Ia berpendapat bahwa tidak ada satupun teoeri yang dapat difalsifikasikan begitu saja,melainkan sebuah program penelitian yang terdiri dari serangkaian teori yang dinilai berdasarkan kemampuan untuk memprediksi fenomena baru.

Sedangkan di tanah air tokoh post positivisme adalah sebagai berikut :

1.     Satjipto Rahardjo

Seorang filsuf dan pakar hukum progresif yang pemikirannya sangat relevan dengan post-positivisme. Ia dikenal karena kritiknya terhadap positivisme hukum yang kaku dan formalistik. Ia berpendapat bahwa hukum tidak boleh dipisahkan dari konteks sosialnya dan harus mengalir untuk mencapai keadilan serta kemanfaatan, yang merupakan ciri khas pemikiran post-positivisme.

2.     Heddy Shri Ahimsa Putra

Guru Besar Antropologi UGM ini seringkali menjadi rujukan dalam diskusi mengenai positivisme dan post-positivisme, terutama dalam konteks metodologi penelitian ilmu sosial. Beliau dikenal karena karyanya yang membahas tentang paradigma penelitian dan bagaimana berbagai pendekatan, termasuk post-positivisme, dapat digunakan untuk memahami realitas sosial secara lebih holistik.

Selain kedua tokoh di atas, banyak akademisi dan peneliti di Indonesia, terutama yang bergerak di bidang ilmu sosial, pendidikan, dan administrasi publik, mengadopsi dan menerapkan paradigma post-positivisme dalam penelitian mereka. Mereka berpendapat bahwa penelitian tidak bisa sepenuhnya bebas nilai dan objektivitas hanya bisa didekati, bukan dicapai secara sempurna. Beberapa nama yang sering muncul dalam konteks ini dalam karya tulis ilmiah adalah Dini Irawati, Nanat Fatah Natsir, dan Hendrianto Sundaro.

Pengaruh post-positivisme di Indonesia lebih terlihat dalam praktik metodologi penelitian yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, serta dalam kritik terhadap pendekatan positivistik yang dianggap terlalu menyederhanakan realitas sosial yang kompleks.

 

C.    Perbedaan Positivisme dan Post positivisme

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa post positivisme muncul untuk menyangkal aliran atau paham sebelumnya yaitu positivisme.Perbedaan utama antara positivisme an post positivisme adalah cara pandang tentang objektivitasa dan realitas.Positisme meyakini kebenaran dapat ditemukan melalui observasi empiris dan logika murni serta memandang realitas  secara objektif diluar pikiran peneliti.Sebaliknya,post positivisme mengakui keterbatasan objektivitas karena teori,bias dan nilai nilai peneliti dapat mempengaruhi apa yang diamati.

Berikut adalah perbandingan dari beberapa aspek :

a)     Ontologi (Hakikat Realitas)

v  Positivisme: Menganut pandangan realisme naif. Mereka percaya bahwa realitas ada secara independen dan dapat diobservasi serta diukur apa adanya oleh peneliti. Realitas dianggap tunggal, teratur, dan dapat ditemukan.

v  Post-Positivisme: Menganut pandangan realisme kritis. Mereka setuju bahwa realitas memang ada, tetapi tidak dapat diketahui secara utuh dan sempurna. Pemahaman kita terhadap realitas selalu dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan keterbatasan manusia. Oleh karena itu, pengetahuan yang dihasilkan hanya bersifat probabilistik (kemungkinan) dan tentatif.

b)    Epistimologi (Hubungan Peneliti dan Pengetahuan)

v  Positivisme: Menuntut hubungan yang terpisah dan objektif antara peneliti dan objek yang diteliti. Peneliti dianggap sebagai pengamat netral yang tidak memengaruhi hasil penelitian. Pengetahuan dianggap bebas nilai.

v  Post-Positivisme: Mengakui bahwa hubungan tersebut tidak bisa sepenuhnya terpisah. Peneliti membawa sudut pandang dan nilai-nilainya sendiri, yang mau tidak mau memengaruhi proses penelitian dan interpretasi data. Objektivitas hanya dapat didekati, bukan dicapai secara absolut.

c)     Metodologi (Cara memperoleh pengetahuan)

v  Positivisme: Mengandalkan metode kuantitatif yang ketat, seperti survei dan eksperimen, dengan tujuan untuk menguji hipotesis dan mencari hukum sebab-akibat. Pendekatan ini bersifat deduktif, dimulai dari teori untuk diuji dengan data.

v  Post-Positivisme: Mendorong penggunaan metode campuran (mixed methods). Meskipun tetap menggunakan metode kuantitatif, mereka juga mengakui pentingnya metode kualitatif (misalnya wawancara mendalam, studi kasus) untuk mendapatkan pemahaman yang lebih kaya dan mendalam tentang fenomena sosial. Pendekatan ini menggabungkan penalaran deduktif dan induktif.

d)     Teori

v  Penelitian diawali dengan teori lalu dialkukan pengujian terhadap teori tersebut

v  Teori dapat dimunculkan dari hasil penelitian di lapangan,pengujian terhadap teori tidak bertujuan untuk memverifikasi melainkan mencari anomali.

 

 

D.    Kelebihan dan Keterbatasan Post Positivisme

Sama seperti paradigma lainnya, pendekatan postpositivisme memiliki keunggulan dan keterbatasan yang perlu diketahui antara lain,

Kelebihan :

§  Lebih realistis karena mengakui keterbatasan pengetahuan ilmiah.

§  Mendorong penggunaan triangulasi untuk meningkatkan validitas data.

§  Membuka ruang untuk penggunaan metode campuran yang lebih fleksibel.

§  Lebih peka terhadap konteks sosial dan peran peneliti dalam proses penelitian.

 

Keterbatasan:

§  Masih dibatasi pada pendekatan objektivitas, yang bisa membatasi pemahaman makna subjektif secara mendalam.

§  Membutuhkan keterampilan tinggi untuk melakukan kombinasi metode secara konsisten.

§  Kadang-kadang dianggap terlalu rumit untuk diterapkan oleh peneliti pemula

 

E.    Penerapan Post Positivisme Dalam Penelitian

 

Paradigma post-positivisme memberikan fleksibilitas bagi peneliti untuk menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan pertanyaan penelitian. Pendekatan ini relevan dalam berbagai bidang, seperti:

*     Ilmu sosial: Penelitian yang membahas fenomena sosial yang kompleks tidak dapat dijelaskan hanya dengan angka. Post-positivisme membantu peneliti menggali makna di balik data yang dikumpulkan.

*     Penelitian kesehatan: Memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai isu-isu kesehatan dengan mempertimbangkan konteks sosial dan pengalaman individu, di samping data kuantitatif.

*     Perencanaan kota: Memperkaya teori perencanaan dengan mempertimbangkan kesetaran, komunikasi, dan partisipasi publik dalam proses perencanaan.

Selain itu, Paradigma postpositivisme banyak digunakan dalam bidang pendidikan, sosiologi, psikologi, dan ilmu politik. Contoh aplikasinya termasuk adalah :

·       Evaluasi program pendidikan berbasis kuantitatif, namun juga melibatkan wawancara dan observasi kelas.

·       Penelitian perilaku sosial dengan pengukuran statistik dan analisis naratif terhadap pengalaman peserta.

·       Kajian kebijakan publik yang menggabungkan data survei dan analisis dokumen.

Kombinasi metode ini tidak hanya memperkaya data, tetapi juga mendorong peneliti untuk terus memvalidasi dan mengkritisi hasilnya secara terbuka. Peneliti yang menggunakan paradigma postpositivisme dituntut untuk lebih reflektif dan bertanggung jawab secara etis. Mereka tidak hanya mengumpulkan dan menganalisis data, tetapi juga perlu mempertimbangkan beberapa hal,yakni:

1)     Bagaimana nilai pribadi mempengaruhi interpretasi data.

2)     Apa dampak hasil penelitian terhadap masyarakat luas.

3)     Bagaimana meminimalisir bias tanpa mengklaim netralitas mutlak.

Dengan kesadaran ini, paradigma postpositivisme membantu peneliti mengembangkan integritas ilmiah yang kuat dan rendah hati terhadap hasil penelitian.

F.     Kesimpulan

Paradigma postpositivisme menghadirkan cara pandang baru yang lebih kritis, terbuka, dan realistis dalam proses penelitian ilmiah. Paradigma ini tetap mengakui pentingnya objektivitas, tetapi juga menyadari bahwa kebenaran ilmiah selalu bersifat sementara dan terbuka untuk dibahas ulang.

Melalui penggunaan metode campuran dan refleksi kritis, paradigma ini memberikan peluang besar bagi peneliti untuk mengkaji fenomena secara lebih utuh dan kontekstual. Dalam era penelitian multidisipliner yang kompleks, paradigma postpositivisme menjadi jembatan penting antara keakuratan ilmiah dan makna sosial.

Senin, 15 September 2025

 

SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS

(SDG’s)



BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pembangunan berkelanjutan menjadi isu utama dalam agenda global abad ke-21. Kehidupan manusia yang terus berkembang diiringi dengan peningkatan populasi, eksploitasi sumber daya alam, dan perkembangan teknologi yang pesat, menimbulkan tantangan besar bagi kelestarian bumi. Isu-isu seperti perubahan iklim, krisis pangan, ketidaksetaraan sosial, serta degradasi lingkungan kini menjadi masalah nyata yang dialami hampir di seluruh belahan dunia. Untuk menjawab tantangan tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merumuskan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang terdiri dari 17 tujuan dan 169 target. Agenda ini ditetapkan pada tahun 2015 dengan komitmen untuk dicapai pada tahun 2030, yang bertujuan mewujudkan kesejahteraan manusia sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Dalam konteks global, Sustainable Development Goals (SDGs) hadir sebagai kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) dengan cakupan yang lebih luas dan menyentuh aspek ekonomi, sosial, budaya, hingga lingkungan. Misalnya, tujuan penghapusan kemiskinan tidak hanya diukur dari tingkat pendapatan, tetapi juga meliputi akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kualitas lingkungan hidup. Demikian pula tujuan mengenai energi berkelanjutan tidak hanya berfokus pada ketersediaan energi, tetapi juga penggunaan teknologi ramah lingkungan untuk mengurangi emisi karbon. Dengan demikian, SDGs menuntut kerja sama lintas sektor serta keterlibatan aktif dari semua pihak, baik pemerintah, swasta, akademisi, maupun masyarakat sipil.

Selain keterbatasan MDGs, dunia juga dihadapkan pada tantangan global yang semakin mendesak dan saling berkaitan, yang memerlukan pendekatan yang lebih holistik; seperti degradasi lingkungan, ketidaksetaraan yang meningkat, dan tantangan ekonomi sosial lainnya.

Era sekarang menunjukkan bahwa tantangan dalam pencapaian SDGs semakin kompleks. Misalnya, perubahan iklim menjadi ancaman serius yang terbukti meningkatkan frekuensi bencana alam, mengganggu produksi pangan, dan mengancam kehidupan ekosistem. Selain itu, pandemi Covid-19 yang melanda sejak 2020 menambah beban baru dengan memperlambat pencapaian beberapa tujuan dari SDGs tersebut, terutama dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Kondisi ini memperlihatkan betapa rentannya sistem global terhadap krisis, sekaligus menegaskan pentingnya solidaritas dan kolaborasi internasional untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Indonesia, sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk yang besar, juga menghadapi berbagai tantangan dalam mengimplementasikan SDGs. Meskipun terdapat kemajuan dalam beberapa aspek, seperti pendidikan dasar dan pengentasan kemiskinan, masih banyak persoalan yang membutuhkan perhatian serius. Tingginya ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, pengangguran, dan belum meratanya akses kesehatan merupakan hambatan nyata dalam pencapaian target SDGs. Laporan Sustainable Development Report menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi kesulitan pada tujuan pengendalian perubahan iklim, konsumsi dan produksi berkelanjutan, serta pelestarian ekosistem laut dan darat.

Dari uraian tersebut, dapat dilihat bahwa masalah pembangunan berkelanjutan bukan hanya persoalan global, tetapi juga sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari. Masalah lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi yang terjadi di sekitar kita merupakan gambaran nyata dari tantangan pencapaian SDGs. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa analisis mengenai SDGs tidak hanya penting untuk memahami agenda internasional, tetapi juga sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi setiap individu dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

 

Oleh karena itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadakan Konferensi Rio+20 pada tahun 2012 yang kemudian melahirkan gagasan untuk menyusun agenda pembangunan baru. Berbeda dengan MDGs, SDGs dirancang sebagai agenda universal yang berlaku untuk semua negara (maju dan berkembang), bersifat holistik dengan 17 tujuan yang mencakup tiga pilar utama (sosial, ekonomi, dan lingkungan), serta mengedepankan prinsip "no one left behind" dan kemitraan global yang inklusif. Inilah yang menjadi dasar dan urgensi dari pembentukan SDGs.

 

 

 

B.    Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1.     Bagaimana perkembangan sejarah Sustainable Development Goals?

2.     Bagaimana karakteristik Sustainable Development Goals?

3.     Apa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs)?

4.     Bagaimana tuntunan kompetensi pada Sustainable Development Goals bagi setiap individu?

5.     Bagaimana tantangan Sustainable Development Goals dalam pembelajaran?

6.     Apa saja peluang inovasi dari Sustainable Development Goals?

 

C.    Tujuan Penulisan Makalah

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1.     Mengetahui perkembangan sejarah dari Sustainable Development Goals.

2.     Menganalisis karakteristik dari Sustainable Development Goals.

3.     Mengetahui tujuan dari Sustainable Development Goals.

4.     Mengetahui tuntunan kompetensi pada Sustainable Development Goals bagi setiap individu.

5.     Mengetahui tantangan Sustainable Development Goals dalam pembelajaran dan cara menghadapi tantangan tersebut dalam mencapai tujuan dari Sustainable Development Goals

6.     Mengetahui peluang inovasi dari Sustainable Development Goals

 


BAB II

PEMBAHASAN

A.    Sejarah Perkembangan Sustainable Development Goals

Perkembangan Sustainable Development Goals (SDGs) tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan evolusi dari serangkaian agenda pembangunan global yang didorong oleh kesadaran kolektif akan tantangan yang dihadapi dunia.

Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu program dunia jangka panjang untuk mengoptimalkan potensi dan sumber daya yang dimiliki oleh setiap negara. Sebagai bagian dari masyarakat dunia, perlu kiranya memandang negara lain sebagai “masyarakat negara”.

Menurut Bruland, 1987 pada buku pengembangan Sustainable Development Goals oleh Garliani, Herlin et al. 2025 bahwa perserikatan bangsa-bangsa mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kemampuan mereka. Pada buku tersebut menjelaskan bahwa Halkos & Gkampoura, 2021: Purvis et al. 2019 juga berpendapat bahwa terdapat tiga konsep yang saling terkait dari pembangunan berkelanjutan, yaitu keberlanjutan sosial, keberlanjutan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

Menurut Robert Jackson dan Georg Sorensen (2005), memahami masyarakat negara bukanlah suatu permasalahan tentang pemakaian model-model ilmu sosial, melainkan suatu permasalahan tentang menjadi akrab dengan sejarah dan mencoba sedekat mungkin untuk menguasai pengalaman masa lalu dan hari ini. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman terhadap suatu program global dari sisi historis, mengapa program tersebut muncul. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sejak memasuki tahun 2000 telah mencanangkan pogram Milenium Development Goals (MDGs) untuk kurun waktu 2000-2015.

Adapun Milenium Development Goals (MDGs) adalah delapan target pembangunan global yang disepakati oleh seluruh negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2000. Tujuan utama MDGs adalah untuk mengatasi berbagai masalah sosial dan ekonomi di negara-negara berkembang dalam kurun waktu 15 tahun, yaitu dari tahun 2000 hingga 2015. Delapan tujuan tersebut berfokus pada isu-isu mendesak yang saling berkaitan, seperti; Mengentaskan kemiskinan ekstrem dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar universal, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya, memastikan kelestarian lingkungan, dan membangun kemitraan global untuk pembangunan.

Secara singkat, MDGs dapat dipahami sebagai sebuah agenda global yang terfokus dan berjangka waktu yang dirancang untuk mempercepat kemajuan di bidang sosial, terutama di negara-negara miskin. Meskipun tidak mencakup semua aspek pembangunan secara komprehensif seperti penggantinya, Sustainable Development Goals (SDGs), MDGs menjadi langkah penting yang berhasil menunjukkan bahwa kolaborasi global dapat mencapai kemajuan yang signifikan dalam isu-isu kemanusiaan.

Perkembangan Sustainable Developmen Goals (SDGs) tidak muncul secara tiba-tiba melainkan evolusi dari serangkaian agenda pembangunan global yang didorong oleh kesadaran kolektif akan tantangan yang dihadapi dunia. Berikut adalah perkembangan Sustainable Development Goals;

1.     Konferensi Lingkungan Hidup Manusia di Stockholm (1972)

Ini adalah momen penting yang menandai awal mula kesadaran global terhadap isu lingkungan. Konferensi ini menghasilkan Deklarasi Stockholm yang menyatakan bahwa pembangunan harus mempertimbangkan faktor lingkungan. Meskipun belum secara eksplisit membahas "pembangunan berkelanjutan," konferensi ini menanamkan benih pemikiran bahwa pembangunan dan lingkungan saling terkait.

2.     Laporan Brundtland: "Our Common Future" (1987)

Laporan ini menjadi tonggak sejarah dengan memperkenalkan definisi pembangunan berkelanjutan yang paling terkenal: "Pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri." Laporan ini menekankan tiga pilar utama pembangunan berkelanjutan: ekonomi, sosial, dan lingkungan.

3.     Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro (1992)

Dikenal sebagai Rio Earth Summit, konferensi ini menghasilkan Agenda 21, yang berarti sebuah rencana aksi komprehensif untuk pembangunan berkelanjutan. Konferensi ini mengintegrasikan isu-isu lingkungan ke dalam agenda pembangunan dan mendorong negara-negara untuk mengadopsi kebijakan pembangunan berkelanjutan.

4.     Millennium Development Goals (MDGs) (2000-2015)

MDGs adalah agenda pembangunan global pertama yang berjangka waktu dan terukur. Terdiri dari 8 tujuan, MDGs berfokus pada isu-isu sosial seperti pengentasan kemiskinan ekstrem, pendidikan dasar, dan kesehatan. Meskipun berhasil dalam banyak hal, MDGs dikritik karena kurangnya fokus pada isu lingkungan, ketidaksetaraan, dan tidak melibatkan semua negara secara universal.

5.     Konferensi Rio+20 (2012)

Konferensi ini menjadi titik tolak langsung lahirnya SDGs. Dalam konferensi ini, para pemimpin dunia sepakat untuk merumuskan agenda pembangunan global baru yang lebih komprehensif untuk menggantikan MDGs. Prosesnya melibatkan konsultasi publik yang luas, menjadikannya agenda yang lebih inklusif dan partisipatif.

 

6.     Sustainable Development Goals (SDGs) (2015-2030)

Pada September 2015, Majelis Umum PBB secara resmi mengadopsi Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan yang memuat 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

 

B.    Karakteristik Utama Sustainable Development Goals (SDGs)

SDGs adalah penyempurnaan dari MDGs dengan beberapa perbedaan utama:

1.     Universal: SDGs berlaku untuk semua negara, baik maju maupun berkembang, karena tantangan seperti perubahan iklim dan ketidaksetaraan adalah masalah global.

2.     Integratif dan Komprehensif: Memadukan aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan kelembagaan. Tidak berdiri sendiri tetapi saling berhubungan antar tujuan.

3.     Holistik dan Berkelanjutan: SDGs mencakup tiga pilar pembangunan berkelanjutan (sosial, ekonomi, dan lingkungan) secara seimbang, bahkan menambahkan pilar keempat: hukum dan tata kelola. Tidak hanya menargetkan pembangunan jangka pendek, tetapi juga keberlanjutan untuk generasi mendatang. Mendorong keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan masa depan.

4.     Partisipatif dan Inklusif: Mengusung prinsip "No One Left Behind," SDGs bertujuan memastikan pembangunan yang adil dan merata bagi semua lapisan masyarakat. Melibatkan pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, akademisi, dan individu.

 

C.    Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs)Sustainable Development Goals atau disingkat SDGs, dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah serangkaian tujuan yang dibuat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai panduan bagi seluruh negara anggota untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. SDGs disepakati oleh 190 negara dan disahkan melalui sidang umum PBB pada 25 Septermber 2015 di New York, Amerika Serikat. Agenda pembangunan global ini berlaku mulai dari tahun 2015 hingga 2030. Tujuan SDGs mencakup berbagai aspek keberlanjutan, mulai dari ekonomi, sosial, hingga lingkungan. SDGs terdiri dari 17 tujuan, yaitu sebagai berikut:

1.     Tanpa Kemiskinan  (No Proverty)

Tujuan nomor satu dari 17 tujuan SDGs adalah mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk di mana pun atau end poverty in all its forms everywhere. Tujuan ini menjadi tema pembangunan, agenda utama, dan berkelanjutan yang melatari berbagai tujuan pembangunan lainnya seperti infrastruktur, pariwisata, pangan dan energi dan lain-lain.

2.     Tanpa Kelaparan (Zero Hunger)

Tujuan nomor dua dari 17 tujuan SDGs adalah mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, memperbaiki nutrisi dan mempromosikan pertanian yang berkelanjutan. Kelaparan disebabkan karena kurangnya konsumsi pangan kronis. Dalam jangka panjang, kelaparan kronis berakibat buruk pada derajat kesehatan masyarakat dan menyebabkan tingginya pengeluaran masyarakat untuk kesehatan.

3.     Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan (Good health and well being)

Tujuan nomor tiga dari 17 tujuan SDGs adalah menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Fokus dari tujuan ini mencakup berbagai hal mulai dari menjamin gizi masyarakat, sistem kesehatan nasional, akses kesehatan dan reproduksi, keluarga berencana (KB), serta sanitasi dan air bersih.

4.     Pendidikan Berkualitas (Quality Education)

Tujuan nomor empat dari 17 tujuan SDGs adalah pendidikan yang berkualitas dengan menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta mempromosikan kesempatan belajar seumur hidup untuk semua orang. Peningkatan pendidikan akan memacu pencapaian terhadap tujuan dan sasaran lainnya dalam 17 poin SDGs, terutama untuk meningkatkan indeks pembangunan manusi

5.     Kesetaraan Gender (Gender Equality)

Mencapai kesetaraan gender dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang tanpa diskriminasi.

6.     Air bersih dan Sanitasi (Clean Water and Sanitation)

Mencita-citakan akses universal terhadap air bersih dan sanitasi yang aman. Tujuan ini berfokus pada pengelolaan air yang berkelanjutan, pengendalian polusi air, dan pengurangan jumlah orang yang tidak memiliki akses ke fasilitas sanitasi yang layak.

7.     Energi Bersih dan Terjangkau (Affordable and Clean Energy)

Menargetkan pemberian akses universal terhadap energi yang terjangkau, handal, berkelanjutan, dan modern. SDGs ini juga mencakup promosi energi terbarukan dan efisiensi energi.

8.     Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi  (Decent Work and Economic Growth)

Bertujuan untuk menciptakan pekerjaan yang layak, pertumbuhan ekonomi inklusif, dan perlindungan sosial bagi semua. Tujuan ini menekankan pentingnya menciptakan peluang pekerjaan produktif dan kondisi kerja yang layak.

9.     Industri, Inovasi dan Infrastruktur (Industry, Innovation and Infrastructure)

Menargetkan pembangunan infrastruktur yang kokoh, promosi inovasi, dan pembangunan industri yang berkelanjutan. SDG ini berupaya mencapai pertumbuhan ekonomi inklusif melalui industrialisasi yang berkelanjutan.

10.  Berkurangnya Kesenjangan (Reduced Inequalities)

Mencita-citakan pengurangan kesenjangan dalam dan antara negara, serta mempromosikan inklusivitas. Fokus pada pemberdayaan kelompok-kelompok yang rentan dan pengurangan ketidaksetaraan dalam pendapatan.

11.  Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities)

Bertujuan untuk membuat kota dan pemukiman manusia inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. Fokus pada perencanaan tata kota yang baik, akses terhadap transportasi umum, serta perlindungan dan pemulihan warisan budaya.

12.  Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production)

Mencita-citakan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Tujuan ini menekankan pentingnya efisiensi sumber daya, pengelolaan limbah yang tepat, dan pengembangan produk yang ramah lingkungan

13.  Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action)

Menargetkan upaya global untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya. Tujuan ini mencakup pengurangan emisi gas rumah kaca, adaptasi terhadap perubahan iklim, dan peningkatan ketahanan terhadap bencana alam.

14.  Ekosistem Lautan (Life Below Water)

Bertujuan untuk melestarikan dan menggunakan secara berkelanjutan sumber daya laut. Fokus pada perlindungan ekosistem laut, pengurangan polusi plastik, dan penanggulangan praktik perikanan yang merugikan.

15.  Ekosistem Daratan (Life on Land)

Mencita-citakan pengelolaan hutan, pemulihan lahan yang terdegradasi, dan pelestarian keanekaragaman hayati. SDGs ini menekankan perlindungan ekosistem daratan dan pengendalian invasi spesies asing.

16.  Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh (Peace, Justice and Strong Institutions)

Bertujuan untuk mempromosikan perdamaian, keadilan, dan institusi yang kuat. Tujuan ini mencakup pengurangan kekerasan, akses setara terhadap sistem hukum, dan pemberantasan korupsi.

17.  Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals)

Menargetkan peningkatan kerjasama internasional dalam pencapaian SDGs. Fokus pada pengembangan kapasitas, transfer teknologi, dan dukungan keuangan untuk memastikan keberlanjutan upaya pembangunan.

Ke-17 tujuan SDGs di atas saling keterkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Untuk mencapai tujuan SDGs, dibutuhkan kolaborasi dan kerja sama. SDGs ini menjadi komitmen global untuk mencapai pembangunan berkelanjutan yang lebih baik lagi. Setiap negara, termasuk Indonesia, memiliki tanggung jawab untuk mencapai tujuan SDGs. Dengan memperhatikan aspek keberlanjutan dalam setiap keputusan dan tindakan, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan bagi generasi yang akan datang.

Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah sebuah cetak biru global yang dirancang untuk mencapai masa depan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan untuk semua. Program ini merupakan kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) yang berakhir pada tahun 2015. Tujuan utama SDGs adalah untuk menanggulangi berbagai masalah global yang kompleks dan saling terkait, seperti kemiskinan, kesenjangan, perubahan iklim, degradasi lingkungan, perdamaian, dan keadilan.

Secara umum, tujuan SDGs dapat dikelompokkan ke dalam lima pilar utama yang dikenal sebagai 5P, yaitu:

1.     Manusia (People)

Fokus pada pengentasan kemiskinan dan kelaparan dalam segala bentuknya, serta menjamin martabat dan kesetaraan bagi seluruh umat manusia. Tujuan ini mencakup memastikan kehidupan yang sehat dan berkualitas, pendidikan yang inklusif, dan kesetaraan gender.

2.     Planet (Planet)

Bertujuan untuk melindungi planet dari degradasi melalui konsumsi dan produksi yang berkelanjutan, pengelolaan sumber daya alam, dan tindakan segera terhadap perubahan iklim. Tujuannya adalah untuk memastikan kelestarian lingkungan hidup dan ekosistem daratan serta lautan.

3.     Kemakmuran (Prosperity)

Berfokus pada memastikan bahwa semua manusia dapat menikmati kehidupan yang makmur dan memuaskan. Pilar ini mencakup pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pekerjaan yang layak, dan industrialisasi yang berkelanjutan.

4.     Perdamaian (Peace)

Bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang damai, adil, dan inklusif yang bebas dari ketakutan dan kekerasan. Ini termasuk mempromosikan akses keadilan bagi semua dan membangun institusi yang efektif, akuntabel, dan inklusif di semua tingkatan.

5.     Kemitraan (Partnership)

Menekankan pentingnya kemitraan global untuk mencapai tujuan SDGs. Pembangunan berkelanjutan hanya bisa dicapai dengan kerja sama yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil.

 

D.    Tuntunan kompetensi pada Sustainable Development Goals bagi setiap individu

SDGs bukan hanya agenda pemerintah atau organisasi internasional, tetapi juga menuntut peran aktif dari setiap individu. Setiap individu diharapkan mampu memiliki kompetensi tertentu agar dapat mendukung tercapainya 17 tujuan dari SDGs tersebut. Adapun tuntunan kompetensi yang harus dimiliki antara lain adalah:

1.     Kompetensi Pengetahuan (Knowledge Competence)

Pada kompetensi ini, individu harus memahami isu-isu global yang tercakup dalam SDGs, seperti kemiskinan, kesehatan, pendidikan, perubahan iklim, energi bersih, dan kesetaraan. Dengan pengetahuan dan pemahaman ini, setiap individu dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

2.     Kompetensi Berpikir Sistem (System Thinking)

Setiap individu harus mampu melihat keterkaitan antara aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.

3.     Kompetensi Antisipatif (Anticipatory Competence)

Mampu memprediksi dampak jangka panjang dari suatu tindakan. Misalnya, memahami pentingnya mengurangi plastik sekali pakai demi keberlanjutan ekosistem laut di masa depan.

4.     Kompetensi Normatif (Normative Competence)

Setiap individu harus mampu menumbuhkankesadaran moral, nilai, dan etika untuk keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan. Individu didorong untuk peduli, bertanggung jawab dan menjunjung kesetaraan.

5.     Kompetensi Strategis (Strategic Competence)

Kemampuan merancang dan melaksanakan aksi nyata dalam lingkup kecil maupun besar. Seperti dalam menyusun strategi sekolah yang ramah lingkungan atau program rumah tangga dengan minim sampah.

6.     Kompetensi Kolaboratif (Collaborative Comperence)

Pada kompetensi ini, individu harus mampu bekerja sama dengan orang lain, baik pada lintas bidang maupun budaya. Kemudian SDGs juga hanya bisa tercapai jika semua pihak dapat saling berkolaborasi dengan baik .

7.     Kompetensi Pemecahan Masalah (Problem-Solving Competence)

Selain kompetensi berkolaborasi, SDGs mengharuskan setiap individu terampil dalam mengidentifikasi masalah yang terjadi dilingkungan sekitar dan mencari solusi yang inovatif.

8.     Kompetensi Reflektif (Self-Awareness dan Reflection)

Kompetensi yang terakhir, yaitu individu harus mampu menilai kebiasaan hidupnya sendiri, kemudian merefleksikan dampaknya, dan melakukan perubahan menuju gaya hidup yang berkelanjutan.

Tuntunan kompetensi SDGs ini menekankan bahwa kita sebagai individu tidak hanya dituntut untuk sekedar tahu, tetatpi juga peduli, mampu bekerja sama, berpikir kritis, reflektif, dan bisa beraksi nyata. Dengan kompetensi ini, individu berperan penting sebagai agen perubahan menuju dunia yang lebih adil, sejahtera, dan berkelanjutan.

E.    Tantangan yang Dihadapi dalam Mewujudkan Tujuan Sustainable Development Goal (SDGs)

Meskipun memiliki tujuan yang sangat mulia, implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) tidaklah mudah dan menghadapi berbagai tantangan signifikan di tingkat global maupun nasional. Tantangan ini seringkali kompleks dan saling terkait, yang memerlukan kerja sama dari berbagai pihak untuk mengatasinya.

Berikut adalah beberapa tantangan utama yang dihadapi dalam upaya mencapai SDGs:

1.     Masalah Pendanaan dan Kesenjangan Ekonomi

a.     Keterbatasan Anggaran Negara: Banyak negara berkembang kekurangan anggaran yang memadai untuk membiayai proyek-proyek SDGs, seperti pembangunan infrastruktur, fasilitas kesehatan, dan pendidikan.

b.     Kurangnya Investasi Swasta: Meskipun SDGs dirancang untuk melibatkan sektor swasta, kontribusi mereka dalam pendanaan masih belum optimal. Sebagian besar investasi swasta cenderung berfokus pada proyek yang menjanjikan keuntungan finansial tinggi, bukan pada tujuan sosial atau lingkungan yang kurang menguntungkan.

c.     Kesenjangan Global: Ketimpangan ekonomi antara negara maju dan negara berkembang masih sangat besar. Negara maju cenderung lebih cepat mencapai target SDGs, sementara negara berkembang tertinggal karena masalah kemiskinan dan infrastruktur yang terbatas.

 

 

2.     Isu Tata Kelola dan Kemitraan

a.     Koordinasi Antar Lembaga: SDGs mencakup 17 tujuan yang sangat luas dan saling berhubungan. Ini membutuhkan koordinasi lintas sektor yang kuat antara berbagai kementerian, lembaga pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya. Kurangnya koordinasi bisa menyebabkan tumpang tindih program atau bahkan kegagalan implementasi.

b.     Rendahnya Partisipasi Masyarakat: Partisipasi dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya SDGs masih rendah di banyak daerah. Padahal, peran aktif dari masyarakat sangat krusial untuk keberhasilan program.

c.     Keterbatasan Data: Banyak negara menghadapi tantangan dalam mengumpulkan, mengelola, dan menganalisis data yang diperlukan untuk memantau kemajuan SDGs. Tanpa data yang akurat, sulit untuk membuat kebijakan yang efektif dan terukur.

3.     Masalah Sosial dan Lingkungan yang Saling Terkait

a.     Perubahan Iklim dan Bencana Alam: Dampak perubahan iklim, seperti banjir, kekeringan, dan kenaikan permukaan air laut, memperlambat kemajuan dalam banyak tujuan SDGs, terutama yang berkaitan dengan ketahanan pangan, air bersih, dan pengentasan kemiskinan.

b.     Ketimpangan Sosial: Meskipun ada kemajuan, ketidaksetaraan dalam akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan pekerjaan masih menjadi hambatan besar. Kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan masyarakat adat sering kali yang paling menderita.

c.     Konflik dan Ketidakstabilan Politik: Konflik bersenjata dan ketidakstabilan politik di banyak wilayah dunia menghancurkan infrastruktur, menciptakan krisis kemanusiaan, dan mengalihkan sumber daya yang seharusnya digunakan untuk pembangunan berkelanjutan.

4.     Hambatan dalam Penyelarasan Kebijakan

a.     Penyelarasan SDGs dengan Kebijakan Nasional: Terkadang, ada ketidakselarasan antara target global SDGs dengan prioritas dan rencana pembangunan nasional suatu negara. Hal ini bisa menyebabkan program SDGs tidak terintegrasi sepenuhnya dalam kebijakan pemerintah.

b.     Tantangan Struktural: Di beberapa negara, terdapat tantangan struktural seperti rendahnya upah, kurangnya perlindungan sosial bagi pekerja informal, dan alih fungsi lahan pertanian yang mengancam ketahanan pangan. Masalah-masalah ini sulit diatasi tanpa reformasi kebijakan yang mendalam.

Secara keseluruhan, tantangan terbesar adalah kompleksitas dan saling keterkaitan dari semua masalah ini. Untuk mencapai tujuan SDGs pada tahun 2030, diperlukan komitmen politik yang kuat, inovasi dalam pendanaan, dan kemitraan global yang solid.

F.    Peluang Sustainable Develpment Goals (SDGs) pada Inovasi Pembelajaran

Pada dasarnya, SDGs bisa menjadi suatu peluang bagi masyarakat luas. Salah satu yang bisa dikembangkan dari SDGs ini adalah sebagai berikut:

1.     Energi Bersih dan Terbarukan (SDG 7), salah satunya adalah inovasi panel surya murah dan efisien, pembangkit listrik tenaga angin, air mikro, dan biomassa, serta teknologi penyimpanan energi (baterai ramah lingkungan).

2.     Kesehatan dan Kesejahteraan (SDG 3), Alat kesehatan murah dan portable (contoh: deteksi penyakit dengan sensor sederhana). Telemedicine untuk daerah terpencil. Vaksin dan obat baru berbasis bioteknologi.

3.     Pendidikan Berkualitas (SDG 4), Media belajar kreatif tanpa gadget (kit eksperimen, komik sains, board game edukatif). Platform belajar digital inklusif yang bisa diakses gratis. Kurikulum inovatif berbasis proyek (Project Based Learning untuk SDGs).

4.     Kota dan Komunitas Berkelanjutan (SDG 11), Transportasi publik ramah lingkungan (bus listrik, sepeda pintar). Rumah hemat energi dengan desain ramah lingkungan. Teknologi smart city untuk manajemen sampah dan air.

5.     Pangan dan Pertanian Berkelanjutan (SDG 2, SDG 12, SDG 15), Pertanian vertikal dan hidroponik untuk kota padat penduduk. Inovasi pupuk organik dan biopestisida ramah lingkungan. Sistem distribusi pangan digital yang mengurangi food loss.

6.     Air Bersih dan Sanitasi (SDG 6), Alat filter air sederhana berbasis bahan lokal. Toilet ramah lingkungan tanpa limbah. Desalinasi air laut dengan energi terbarukan.

7.     Industri, Inovasi, dan Infrastruktur (SDG 9), Revolusi Industri 4.0 → otomatisasi ramah lingkungan, Internet of Things (IoT) untuk energi dan transportasi. Bahan bangunan daur ulang (plastik jadi paving block, limbah kaca jadi keramik). Infrastruktur digital untuk pemerataan akses informasi.

8.     Aksi Iklim (SDG 13), Teknologi carbon capture (penangkapan CO₂ dari udara). Sistem peringatan dini bencana berbasis sensor murah. Aplikasi jejak karbon untuk gaya hidup berkelanjutan.

9.     Kemitraan Global (SDG 17), Platform kolaborasi global untuk inovasi sosial. Program startup berorientasi SDGs. Model pembiayaan hijau (green investment & impact investment).

SDGs membuka ruang besar untuk inovasi di bidang energi, pangan, kesehatan, pendidikan, lingkungan, teknologi, hingga tata kota. Peluang ini bisa dimanfaatkan oleh pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, hingga siswa atau mahasiswa untuk menciptakan solusi kreatif yang menjawab tantangan global sekaligus bermanfaat bagi masyarakat.

Tapi yang akan kita garis bawahi adalah peluang SDGs pada dunia pendidikan yaitu pada inovasi pembelajaran. Pada proses pembelajaran, sebagai pendidik tentu harus mampu memanfaatkan keadaan dengan sebaik-baiknya. Bahkan dalam keadaan yang kurang menyenangkan pun pendidik harus mampu menciptakan peluang yang dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan dalam proses pembelajaran. Berikut adalah peluang inovasi dalam pembelajaran yang bisa dikembangkan dari SDGs:

1.     Pembelajaran Kontekstual (Contextual Learning)

Guru mengaitkan materi IPA, IPS, atau Bahasa dengan isu nyata dalam SDGs. Contoh: belajar fotosintesis → dikaitkan dengan SDG 13 (Aksi Iklim) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan).

2.     Pembelajaran Berbasis Project, Project-Based Learning (PjBL) berbasis SDGs. Siswa mengerjakan proyek nyata yang mendukung SDGs. Contoh: proyek Zero Waste School (SDG 12), hidroponik sederhana (SDG 2), atau kampanye hemat energi (SDG 7).

3.     Inovasi Media Pembelajaran Ramah Lingkungan

Menggunakan bahan daur ulang sebagai alat peraga (botol jadi model paru-paru, kertas bekas jadi papan konsep). Menciptakan board game bertema SDGs, misalnya “Ular Tangga SDGs” atau “Kartu Aksi Iklim”.

4.     STEAM Education berbasis SDGs

Mengintegrasikan Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics untuk solusi SDGs. Contoh: siswa merancang filter air sederhana (IPA + teknologi), lalu membuat poster kampanye hemat air (Seni + Bahasa).

5.     Pembelajaran Berbasis Layanan Masyarakat (Service Learning)

Siswa belajar sambil melakukan kegiatan nyata di masyarakat. Contoh: program menanam pohon, kampanye stop plastik sekali pakai, atau mengajar anak kecil tentang kebersihan.

6.     Gamifikasi (Game-Based Learning) bertema SDGs

Permainan edukatif yang mengajarkan konsep keberlanjutan. Contoh: permainan simulasi “Kota Hijau” di mana siswa mengatur sumber daya agar kota tetap berkelanjutan.

7.     Kolaborasi Lintas Mata Pelajaran

IPA membahas energi terbarukan, IPS membahas ekonomi hijau, Bahasa Indonesia menulis artikel tentang lingkungan. Semua terintegrasi ke dalam satu tema SDGs, sehingga pembelajaran lebih holistik.

8.     Reflektif dan Critical Thinking

Siswa dilatih menganalisis kebiasaan sehari-hari: salah satu contohnya “Apakah gaya hidupku mendukung SDGs?”. Diskusi reflektif → menumbuhkan kepedulian sosial dan lingkungan.

 

 

 

 

 

 

BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

A.    Simpulan

Sustainable Development Goals (SDGs) hadir sebagai agenda global yang relevan dengan tantangan zaman sekarang, mulai dari isu lingkungan, kesehatan, energi, pendidikan, hingga kemitraan global. SDGs bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan lembaga internasional, tetapi juga dapat diintegrasikan dalam dunia pendidikan sebagai sarana menanamkan kesadaran keberlanjutan sejak dini.

Dalam konteks Indonesia, penerapan SDGs dalam sistem pembelajaran memberikan peluang besar untuk menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual, kreatif, dan bermakna. Melalui pendekatan berbasis proyek, media belajar kreatif, serta pemanfaatan teknologi, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademis, tetapi juga keterampilan abad 21 seperti berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, dan kepedulian sosial-lingkungan. Dengan demikian, SDGs dapat menjadi jembatan antara pembelajaran di sekolah dengan permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat.

 

B.    Saran

1.     Bagi pendidik

a.     Guru sebaiknya mulai mengintegrasikan isu-isu SDGs ke dalam materi ajar, baik melalui proyek kecil, studi kasus, maupun penggunaan media kreatif.

b.     Pengembangan kurikulum berbasis SDGs dapat membantu siswa memahami keterkaitan antara ilmu pengetahuan dengan kehidupan nyata.

2.     Bagi sekolah dan institusi pendidikan

a.     Sekolah perlu menciptakan budaya belajar berkelanjutan, misalnya melalui program sekolah hijau, pengelolaan sampah, dan pemanfaatan energi ramah lingkungan.

b.     Kolaborasi dengan pihak luar (universitas, NGO, industri) penting untuk memperkaya praktik pembelajaran yang selaras dengan SDGs.

3.     Bagi pemerintah

a.     Pemerintah perlu mendukung pengembangan kurikulum nasional yang memasukkan SDGs sebagai tema lintas mata pelajaran.

b.     Penyediaan pelatihan bagi guru serta penguatan sarana pembelajaran berbasis keberlanjutan harus menjadi prioritas.

4.     Bagi peserta didik

a.     Siswa diharapkan aktif dalam pembelajaran berbasis SDGs, tidak hanya sebagai penerima pengetahuan, tetapi juga sebagai agen perubahan di lingkungan sekitarnya.

 

 


 

  PARADIGMA POST POSITIVISME A.     Latar Belakang dan Pengertian Post Positivisme   Pada awal abad ke-20, asumsi-asumsi kaku positivi...