Selasa, 16 September 2025

 

PARADIGMA POST POSITIVISME

A.    Latar Belakang dan Pengertian Post Positivisme

 

Pada awal abad ke-20, asumsi-asumsi kaku positivisme mulai dipertanyakan, terutama oleh para filsuf sains. Mereka berpendapat bahwa idealisme positivisme tentang objektivitas murni dan kebenaran absolut tidak realistis, terutama dalam ilmu-ilmu sosial. Kritik ini membuka jalan bagi munculnya pospositivisme.Paradigma postpositivisme merupakan pendekatan filsafat ilmu yang berkembang sebagai respon terhadap keterbatasan paradigma positivisme. Dalam dunia penelitian, pendekatan ini memberikan pemahaman baru tentang realitas ilmiah yang tidak mutlak, tetapi terbuka terhadap revisi dan pengujian ulang.

Meskipun paradigma postpositivisme masih menekankan pentingnya objektivitas dan validitas ilmiah, pendekatan ini lebih disadari akan keterbatasan manusia dan konteks sosial yang mempengaruhi proses penelitian dan mengakui bahwa pengetahuan ilmiah bersifat sementara dan dapat direvisi berdasarkan temuan baru. Dengan demikian, postpositivisme membuka ruang untuk keterlibatan refleksi kritis dan triangulasi pendekatan dalam penelitian.

Post positivisme adalah sebuah pendekatan filosofis dalam penelitian yang berkembang sebagai respons terhadap kelemahan dan keterbatasan positivisme. Pendekatan ini mengakui bahwa realitas tidak dapat sepenuhnya dipahami melalui metode ilmiah objektif saja dan menekankan pentingnya peran peneliti, konteks sosial, dan interpretasi dalam proses penelitian.

Aliran ini ingin memperbaiki kelemahan pada Positivisme. Postpositivisme sependapat dengan Positivisme bahwa kenyataan itu memang nyata, ada sesuai hukum alam. Tetapi di sisi lain, Postpositivisme berpendapat bahwa manusia tidak mungkin mendapatkan kebenaran dari kenyataan apabila peneliti membuat jarak dengan kenyataan atau tidak terlibat secara langsung dengan kenyataan. Hubungan antara peneliti dengan kenyataan harus bersifat interaktif, karena itu perlu menggunakan prinsip trianggulasi, yaitu penggunaan berbagai macam metode, sumber data, data, dan lain-lain.

Secara ontologis aliran ini bersifat realisme kritis yang memandang bahwa realitas memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hukum alam, tetapi satu hal yang mustahil bila suatu realitas dapat dilihat secara benar oleh manusia (peneliti). Oleh karena itu, secara metodologis pendekatan eksperimental melalui observasi tidaklah cukup, tetapi harus menggunakan triangulasi metode, yaitu penggunaan berbagai macam metode, sumber data, peneliti, dan teori.

Sebelum memahami post positisme,penting kiranya untuk kita mengerti apa itu positisme.Positisme adalah sebuah filsafat sains yang menyatakan bahwa satu satunya penegetahuan yang sahih (valid ) adalah pengetahuan ilmiah yang didasarkan pada data empiris yang dapat diobservasidan diukur secara langsung.Aliran ini dipelopori oleh Auguste Comte,beliau dikenal sebagai bapak Positivisme.Positivisme berasumsi bahwa :

Ø  Realitas itu objektif dan tunggal: Ada satu realitas di luar sana yang bisa ditemukan dan dipahami.

Ø  Peneliti itu netral: Peneliti dapat mengamati fenomena tanpa memengaruhi atau dipengaruhi olehnya.

Ø  Hukum universal: Ada hukum-hukum sebab-akibat yang dapat ditemukan dan berlaku secara universal.

Namun seiring berjalanya waktu,para filsuf dan ilmuwan mulai melihat kekurangan dari pendekatan postivisme ini.Mereka berpendapat bahwa asumsi asumsi ini terlalu kaku dan tidak realistis terutama dalam ilmu sosial.Beberapa kritik utama terhadap positivisme adalah :

a.     Kecenderungan peneliti: Tidak mungkin bagi peneliti untuk sepenuhnya netral. Nilai-nilai, keyakinan, dan latar belakang mereka pasti memengaruhi cara mereka merumuskan pertanyaan, mengumpulkan data, dan menafsirkan temuan.

b.     Kompleksitas realitas sosial: Realitas sosial tidak sesederhana fenomena alam. Realitas sosial bersifat subjektif, interpretatif, dan terus berubah, sehingga sulit untuk diukur secara ketat.

 

B.    Tokoh Tokoh penting dalam paradigma Post Positivisme

 

Post Positivisme berkembang sebagai gerakan yang toleran dan realistis terhadap proses penelitian ilmiah.Aliran ini tidak sepenuhnya menolak sains, tetapi meninjau ulang keyakinan bahwa pengetahuan ilmiah itu objektif, pasti, dan bebas nilai. Post-positivisme mengakui bahwa semua observasi ilmiah dipengaruhi oleh teori dan bahwa pengetahuan adalah hasil dari interpretasi manusia, bukan sekadar cerminan realitas.

Berikut adalah beberapa tokoh utama aliran post positivisme :

 

1.     Karl Popper (1902-1994)

Popper adalah salah satu tokoh kunci aliran post positivisme.Dalam bukunya yang berjudul The Logic of Scientific Discovery (1959). Dalam buku ini, Popper memaparkan argumennya bahwa metode ilmiah seharusnya berfokus pada upaya untuk menyangkal hipotesis, bukan membuktikannya.Ia mengkritik prinsip verifikasi.Dalam bukunya,Popper memperkenalkan prinsip falsifikasi atau penyanggahan. Menurut Popper,suatu teori ilmiah harus bisa dibuktikan salah.Jika sebuah teori berhasil bertahan dari berbagai upaya penyanggahan maka teori tersebut dianggap kuat dan dapat diterima secara tentatif

2.     Thomas Kuhn (1922-1996)

Kuhn, melalui bukunya The Structure of Scientific Revolutions, mengemukakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak selalu linier dan akumulatif seperti yang dipercayai oleh positivisme. Sebaliknya, Kuhn berpendapat bahwa sains berkembang melalui pergeseran paradigma—perubahan fundamental dalam kerangka konseptual yang digunakan oleh komunitas ilmiah untuk memahami dunia. Pandangan ini menunjukkan bahwa sains tidak sepenuhnya objektif dan bebas nilai, melainkan dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, historis, dan psikologis.Thomas Kuhn eperkenalkan gagasan revolusi ilmiah dan pergeseran paradigma yang enentang pandangan positivisme tentanng kemajuan sains yang linier dan kumulatif.Ia berpendapat bahwa sains berkembang melalui peiode “sains normal”yang didominasi oleh satu paradigma,diselingi oleh “revolusi ilmiah” dimana paradigma lama diganti oleh yang baru.

3.     Imre Lakatos

Imre Lakatos meupakan muri dari Thomas Kuhn,dalam bukunya yang berjudul Proofs and Refutations: The Logic of Mathematical Discovery (1976).yang mana isi buku ini menggunakan metode dialog socrates yang enunjukan bahwa dalam matematika,seperti halnya sains,bukanlah proses akumulasi kebenaran yang pasti,melainkan proses dialeksis dari dugaan dan sanggahan.Beliau engembangkan gagasan falsisifikasi enjadi “program penelitian ilmiah”( scientific research programme).Ia berpendapat bahwa tidak ada satupun teoeri yang dapat difalsifikasikan begitu saja,melainkan sebuah program penelitian yang terdiri dari serangkaian teori yang dinilai berdasarkan kemampuan untuk memprediksi fenomena baru.

Sedangkan di tanah air tokoh post positivisme adalah sebagai berikut :

1.     Satjipto Rahardjo

Seorang filsuf dan pakar hukum progresif yang pemikirannya sangat relevan dengan post-positivisme. Ia dikenal karena kritiknya terhadap positivisme hukum yang kaku dan formalistik. Ia berpendapat bahwa hukum tidak boleh dipisahkan dari konteks sosialnya dan harus mengalir untuk mencapai keadilan serta kemanfaatan, yang merupakan ciri khas pemikiran post-positivisme.

2.     Heddy Shri Ahimsa Putra

Guru Besar Antropologi UGM ini seringkali menjadi rujukan dalam diskusi mengenai positivisme dan post-positivisme, terutama dalam konteks metodologi penelitian ilmu sosial. Beliau dikenal karena karyanya yang membahas tentang paradigma penelitian dan bagaimana berbagai pendekatan, termasuk post-positivisme, dapat digunakan untuk memahami realitas sosial secara lebih holistik.

Selain kedua tokoh di atas, banyak akademisi dan peneliti di Indonesia, terutama yang bergerak di bidang ilmu sosial, pendidikan, dan administrasi publik, mengadopsi dan menerapkan paradigma post-positivisme dalam penelitian mereka. Mereka berpendapat bahwa penelitian tidak bisa sepenuhnya bebas nilai dan objektivitas hanya bisa didekati, bukan dicapai secara sempurna. Beberapa nama yang sering muncul dalam konteks ini dalam karya tulis ilmiah adalah Dini Irawati, Nanat Fatah Natsir, dan Hendrianto Sundaro.

Pengaruh post-positivisme di Indonesia lebih terlihat dalam praktik metodologi penelitian yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, serta dalam kritik terhadap pendekatan positivistik yang dianggap terlalu menyederhanakan realitas sosial yang kompleks.

 

C.    Perbedaan Positivisme dan Post positivisme

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa post positivisme muncul untuk menyangkal aliran atau paham sebelumnya yaitu positivisme.Perbedaan utama antara positivisme an post positivisme adalah cara pandang tentang objektivitasa dan realitas.Positisme meyakini kebenaran dapat ditemukan melalui observasi empiris dan logika murni serta memandang realitas  secara objektif diluar pikiran peneliti.Sebaliknya,post positivisme mengakui keterbatasan objektivitas karena teori,bias dan nilai nilai peneliti dapat mempengaruhi apa yang diamati.

Berikut adalah perbandingan dari beberapa aspek :

a)     Ontologi (Hakikat Realitas)

v  Positivisme: Menganut pandangan realisme naif. Mereka percaya bahwa realitas ada secara independen dan dapat diobservasi serta diukur apa adanya oleh peneliti. Realitas dianggap tunggal, teratur, dan dapat ditemukan.

v  Post-Positivisme: Menganut pandangan realisme kritis. Mereka setuju bahwa realitas memang ada, tetapi tidak dapat diketahui secara utuh dan sempurna. Pemahaman kita terhadap realitas selalu dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan keterbatasan manusia. Oleh karena itu, pengetahuan yang dihasilkan hanya bersifat probabilistik (kemungkinan) dan tentatif.

b)    Epistimologi (Hubungan Peneliti dan Pengetahuan)

v  Positivisme: Menuntut hubungan yang terpisah dan objektif antara peneliti dan objek yang diteliti. Peneliti dianggap sebagai pengamat netral yang tidak memengaruhi hasil penelitian. Pengetahuan dianggap bebas nilai.

v  Post-Positivisme: Mengakui bahwa hubungan tersebut tidak bisa sepenuhnya terpisah. Peneliti membawa sudut pandang dan nilai-nilainya sendiri, yang mau tidak mau memengaruhi proses penelitian dan interpretasi data. Objektivitas hanya dapat didekati, bukan dicapai secara absolut.

c)     Metodologi (Cara memperoleh pengetahuan)

v  Positivisme: Mengandalkan metode kuantitatif yang ketat, seperti survei dan eksperimen, dengan tujuan untuk menguji hipotesis dan mencari hukum sebab-akibat. Pendekatan ini bersifat deduktif, dimulai dari teori untuk diuji dengan data.

v  Post-Positivisme: Mendorong penggunaan metode campuran (mixed methods). Meskipun tetap menggunakan metode kuantitatif, mereka juga mengakui pentingnya metode kualitatif (misalnya wawancara mendalam, studi kasus) untuk mendapatkan pemahaman yang lebih kaya dan mendalam tentang fenomena sosial. Pendekatan ini menggabungkan penalaran deduktif dan induktif.

d)     Teori

v  Penelitian diawali dengan teori lalu dialkukan pengujian terhadap teori tersebut

v  Teori dapat dimunculkan dari hasil penelitian di lapangan,pengujian terhadap teori tidak bertujuan untuk memverifikasi melainkan mencari anomali.

 

 

D.    Kelebihan dan Keterbatasan Post Positivisme

Sama seperti paradigma lainnya, pendekatan postpositivisme memiliki keunggulan dan keterbatasan yang perlu diketahui antara lain,

Kelebihan :

§  Lebih realistis karena mengakui keterbatasan pengetahuan ilmiah.

§  Mendorong penggunaan triangulasi untuk meningkatkan validitas data.

§  Membuka ruang untuk penggunaan metode campuran yang lebih fleksibel.

§  Lebih peka terhadap konteks sosial dan peran peneliti dalam proses penelitian.

 

Keterbatasan:

§  Masih dibatasi pada pendekatan objektivitas, yang bisa membatasi pemahaman makna subjektif secara mendalam.

§  Membutuhkan keterampilan tinggi untuk melakukan kombinasi metode secara konsisten.

§  Kadang-kadang dianggap terlalu rumit untuk diterapkan oleh peneliti pemula

 

E.    Penerapan Post Positivisme Dalam Penelitian

 

Paradigma post-positivisme memberikan fleksibilitas bagi peneliti untuk menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan pertanyaan penelitian. Pendekatan ini relevan dalam berbagai bidang, seperti:

*     Ilmu sosial: Penelitian yang membahas fenomena sosial yang kompleks tidak dapat dijelaskan hanya dengan angka. Post-positivisme membantu peneliti menggali makna di balik data yang dikumpulkan.

*     Penelitian kesehatan: Memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai isu-isu kesehatan dengan mempertimbangkan konteks sosial dan pengalaman individu, di samping data kuantitatif.

*     Perencanaan kota: Memperkaya teori perencanaan dengan mempertimbangkan kesetaran, komunikasi, dan partisipasi publik dalam proses perencanaan.

Selain itu, Paradigma postpositivisme banyak digunakan dalam bidang pendidikan, sosiologi, psikologi, dan ilmu politik. Contoh aplikasinya termasuk adalah :

·       Evaluasi program pendidikan berbasis kuantitatif, namun juga melibatkan wawancara dan observasi kelas.

·       Penelitian perilaku sosial dengan pengukuran statistik dan analisis naratif terhadap pengalaman peserta.

·       Kajian kebijakan publik yang menggabungkan data survei dan analisis dokumen.

Kombinasi metode ini tidak hanya memperkaya data, tetapi juga mendorong peneliti untuk terus memvalidasi dan mengkritisi hasilnya secara terbuka. Peneliti yang menggunakan paradigma postpositivisme dituntut untuk lebih reflektif dan bertanggung jawab secara etis. Mereka tidak hanya mengumpulkan dan menganalisis data, tetapi juga perlu mempertimbangkan beberapa hal,yakni:

1)     Bagaimana nilai pribadi mempengaruhi interpretasi data.

2)     Apa dampak hasil penelitian terhadap masyarakat luas.

3)     Bagaimana meminimalisir bias tanpa mengklaim netralitas mutlak.

Dengan kesadaran ini, paradigma postpositivisme membantu peneliti mengembangkan integritas ilmiah yang kuat dan rendah hati terhadap hasil penelitian.

F.     Kesimpulan

Paradigma postpositivisme menghadirkan cara pandang baru yang lebih kritis, terbuka, dan realistis dalam proses penelitian ilmiah. Paradigma ini tetap mengakui pentingnya objektivitas, tetapi juga menyadari bahwa kebenaran ilmiah selalu bersifat sementara dan terbuka untuk dibahas ulang.

Melalui penggunaan metode campuran dan refleksi kritis, paradigma ini memberikan peluang besar bagi peneliti untuk mengkaji fenomena secara lebih utuh dan kontekstual. Dalam era penelitian multidisipliner yang kompleks, paradigma postpositivisme menjadi jembatan penting antara keakuratan ilmiah dan makna sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  PARADIGMA POST POSITIVISME A.     Latar Belakang dan Pengertian Post Positivisme   Pada awal abad ke-20, asumsi-asumsi kaku positivi...