Selasa, 27 Februari 2024

SAVE ME PLEASE!

 

Top of Form

AAKUA

 

 

SSASAVE ME PLEASE !

Oleh :

Cicin Resnawati,S.Pd.I,Gr

(Guru SDN 2 Sukamukti Banyuresmi Garut)




 

       Kasus bullying di Indonesia sudah sering sekali terdengar. Bahkan ada juga yang berakhir dengan kematian. Oleh karena itu, menghentikan bullying harus dilakukan oleh semua pihak baik itu keluarga maupun sekolah. Bullying harus dihentikan sekarang juga! Mengapa? Karena dampaknya sangat luas sekali mulai dari prestasi akademis, kehidupan sosial, kesehatan mental dan fisik anak, hingga keselamatan nyawa anak.

       Satuan pendidikan adalah salah satu lingkungan yang rentan akan tindakan bullying,keberagaman yang ada di sekolah terkadang membuka peluang terjadinya perundungan.Perundungan dapat terjadi antara guru ke siswa,guru ke guru,siswa ke guru atau yang paling sering adalah siswa ke siswa.

Tahun 2022 saya ditugas kan di sekolah yang baru,yang memiliki lingkungan sosial  yang berbeda dengan tempat tinggal saya.Saat pertama kali datang ke sekolah tersebut,saya sempat merasa heran dengan perilaku siswa siswa di sana,mereka memanggil teman nya dengan nama orang tua mereka,saya tegur dan mereka menjawab bahwa hal tersebut sudah biasa.Suatu hari di saat jam istitrahat, saya mendapat laporan dari seorang siswa bahwa dia menyaksikan penyiksaan fisik yang dilakukan oleh seorang siswa kelas 5, saat itu saya adalah wali kelas 5 dan ironis nya yang menjadi korban adalah teman dekat dari si pelaku itu sendiri,mendengar hal tersebut saya langsung memberi peringatan dan nasehat kepada pelaku dan siswa lainnya serta memberikan edukasi tentang perundungan.

Akibat dari peristiwa tersebut korban mengalami memar memar dan demam selama beberapa hari dan yang pasti dia menjadi takut untuk pergi ke sekolah,saya yang merasa panik,karena jujur saja hal seperti itu baru pertama kali saya alami,langsung menemui orang tua korban dan meminta maaf karena hal tersebut terjadi karena adanya kelalaian dari saya sebagai guru atau orang tua di sekolah,saya juga membawa anak yang menjadi pelaku ke rumah temanya tersebut dengan tujuan meminta maaf,alhamdulillah orang tua korban kooperatif dan mau memaafkan karena memang kedua anak ini berteman buka hanya di sekolah tetapi juga di luar sekolah.

 Setelah peristiwa itu terjadi saya kira tidak akan terulang kembali,namun perkiraan saya salah selang beberapa minggu kemudian terjadi lagi hal serupa dengan pelaku yang sama namun korban yang berbeda bahkan yang menjadi korban ada yang berasal dari kelas bawah umumnya mereka mendapatkan perundungan secara fisik dan verbal juga sosial.Bahkan ada salah seorang wali murid yang datang ke sekolah dengan marah marah dan langsung menampar si pelaku dan dia berniat membawa kasus ini keranah hukum.Sebelum hal itu terjadi saya bersama rekan guru lainnya berusaha memediasi dengan mempertemukan orang tua korban dan pelaku,akhirnya dari perbincangan kami masalah tersebut dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan.

Berdasarkan hal tersebut,saya berpikir ini tidak dapat dibiarkan karena akan sangat berdampak bagi nama baik satuan pendidikan dimana saya mengabdi dan saya tidak mungkin bekerja sendiri dalam menyelesaikan permasalahan ini,saya bertekad untuk memutus mata rantai perundungan yang terjadi di sekolah ini.Langkah awal adalah berkoordinasi dengan rekan sejawat dan menceritakan semua hal yang saya alami, dari pembicaraan kami dapat saya simpulkan bahwa anak yang menjadi pelaku sudah terbiasa melakukan hal tersebut dan guru guru yang ada di satuan pendidikan ini sudah merasa lelah karena terlalu  sering memberikan nasihat dan peringatan berupa skorsing namun hasilnya dirasa kurang berhasil karena beberapa waktu kemudian hal serupa akan terulang kembali,akhirnya guru guru memberikan peringatan kepada murid lain agar mengurangi interaksi dengan pelaku.

Saya merasa tertarik dengan latar belakang pelaku,ternyata pelaku adalah anak yang berasal dari keluarga broken home dan berada di lingkungan yang keras yang mengutamakan kekerasan fisik dalam menyelesaikan setiap permasalahan,dia adalah anak yang sedari kecil kehilangan sosok seorang ayah (Fatherless) dan dibesarkan oleh seorang ibu yang merangkap tulang punggung sehingga dia kekurangan kasih sayang dan perhatian dari keluarganya yang seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk dia pulang,dan hal ini yang akhirnya membentuk karakteristik anak tersebut.

Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dapat saya identifikasi bahwa anak ini sedang berusaha memenuhi kebutuhan dasar hidupnya sebagai manusia,yaitu mendapatkan rasa aman baik rasa aman secara fisik maupun emosional,kebutuhan sosial yang meliputi rasa cinta,kasih sayang dan kepemilikan,kebutuhan mendapat penghargaan dan kebutuhan mengaktualisasi diri ,karena dia tidak mendapatkan hal tersebut dari keluarga nya sehingga dia mencari perhatian dari kelurga dan orang lain walaupun caranya salah dan tugas kita sebagai guru dan orang tua untuk menuntun dan membimbing anak tersebut agar menemukan jati diri dan potensi diri sehingga dia dapat berkembang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dan tentunya berkembang secara positif.

Hal pertama yang saya lakukan adalah mendekati anak yang menjadi pelaku perundungan secara pribadi dengan pendekatan secara emosional,selalu melibatkan dia dalam proses pembelajaran secara aktif,melibatkan dia dalam setiap kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka dan olahraga sesuai dengan minat anak tersebut serta mengikutserta kan dia dalam struktur organigram kelas yang saya beri tanggung jawab sebagai seksi keamanan,dengan memberikan tanggung jawab sedikit ada perubahan dari anak  tersebut,dia lebih terbuka mengungkapkan keinginan dan ide nya dan juga penurut dari sebelumnya karena mungkin dia merasa bahwa dia lebih dihargai dan orang orang di sekitarnya selalu menganggap dia ada dan juga penting.

Saya berharap,satuan pendidikan tempat saya mengabdi menjadi lembaga pendidikan yang bebas perundungan,maka dari itu saya berdiskusi dengan kepala sekolah dan rekan sejawat untuk menanngani masalah ini agar tidak berlanjut karena saya  menyadari sebagai guru atau fasilitator pendidikan kita harus peka dengan situasi dan kondisi yang dihadapi murid.Jangan sampai hal-hal yang menyebabkan tidak nyaman atau bahkan membahayakan murid terjadi secara terus menerus. Maka,kita harus menghapuskan bibit-bibit bullying sedini mungkin, seperti memanggil nama siswa dengan nama ayahnya, menghina bentuk fisik, merampas benda-benda, atau menyakiti fisik. Apapun dalihnya, bercanda sekalipun, hal seperti itu tidak dapat dibenarkan.

Untuk penanganan perundungan secara kelembagaan sekolah kami menerapkan gerakan “embun pagi”yakni satu gerakan yang yang diluncurkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Garut,bertujuan untuk membangun harmonisasi, empati dan simpati, antara guru, siswa serta warga sekolah lainya.Setiap pagi guru guru menyambut kedatangan murid muridnya,jadi guru harus datang lebih awal ke sekolah dari pada murid dari gerakan ini juga kita menerapkan 5S yakni senyum,salam,sapa,sopan dan santun.Selain program embun pagi ini sekolah kami juga melakukan praktik baik seperti PANJI (Pagi mengaji),setiap pagi sebelum dimulai proses pembelajaran murid diharuskan untuk membaca satu surah pendek yang dipimpin oleh salah satu murid dan surah yang dibaca akan berganti seminggu sekali.Praktik baik lainnya  yang ada di sekolah kami adalah JURI (Jum’at Religi) kegiatan jumat religi ini berisi shalat dhuha bersama,tausiah dan sadaqah.dan uang yang terkkumpul dari kegiatan ini diberikan kepada teman mereka yang sedang sakit atau pun anak yatim yang kurang mampu,sebagai bentuk empati kepada sesama.

Selain praktik praktik baik yang kami terapkan,pihak sekolah bekerjasama dengan pihak terkait seperti BABINSA/BABINKANTIBMAS juga selalu melakukan sosialisasi terkait perundungan ini, bentuk-bentuk sosialisasi dilakukan dengan cara menempelkan poster-poster anti bullying, menyelipkan pesan anti bullying dalam pembelajaran, atau ketika kepala sekolah atau guru memberikan amanat pada saat upacara bendera dan memberikan penyuluhan terkait perundungan oleh pihak terkait secara berkala kepada murid dan orang tua/wali murid.

Hal lainnya yang saya lakukan untuk mengatasi perundungan adalah dengan membuat keyakinan  kelas,keyakinan kelas ini dibuat sebelum proses pembelajaran dimulai, keyakinan kelas harus berpihak pada murid dan dirumuskan bersama murid untuk membangun kemandirian mereka. Keyakinan kelas dibuat secara universal yang mencakup berbagai aspek kesepakat atau aturan yang sudah berlaku di dalam kelas tersebut.Keyakinan Kelas bersumber dari nilai-nilai positif yang dimiliki murid, harapan yang diinginkan murid dan harapan guru pada murid. Keyakinan Kelas berupa kalimat positif, lugas, mudah dipahami dan bisa ditinjau untuk dikembangkan. Murid sendiri yang menentukan, tentu dengan arahan guru. Murid diarahkan untuk  memunculkan usulan, ide, dan gagasannya tentang bagaimana mewujudkan kelas yang  nyaman, sekaligus disiplin dan mendukung pencapaian tujuan pembelajaran.Salah satu isi keyakinan kelas yang kami buat adalah saling menghargai,menghormati dan menyayangi sesama teman.

Bullying merupakan contoh perilaku buruk. Bapak ibu guru hebat,sebagai orang tua murid di sekolah kita  wajib membantu pelaku bullying untuk menghentikan perilaku buruknya, jangan mengucilkan mereka. Selain korban, pelaku juga membutuhkan penanganan supaya tidak melakukan pembullyan lagi. Ajarkan pada mereka bersimpati dan berempati pada orang lain. Selain itu berikan juga pengetahuan bahaya pembullyan terhadap korban-korbannya. 

Dampak bullying bagi korbannya sangatlah dahsyat. Beberapa contoh dampak bullying antara lain: depresi dan gangguan kecemasan, merasa sedih dan kesepian, terjadinya perubahan pada pola tidur dan makan, berkurangnya ketertarikan terhadap aktivitas yang sebelumnya disenangi, masalah kesehatan, hingga menurunnya prestasi akademis. Bagi pelaku, dampaknya bisa sampai pada kriminalitas. Nah bapak ibu guru hebat, yuk kita hentikan segala bentuk perundungan di sekitar kita!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

Kamis, 25 Mei 2023

 

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN

MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF BAGI MURID

Oleh : CICIN RESNAWATI

CGP ANGKATAN _7 KAB GARUT

Pada Refleksi dwi mingguan kali ini saya menggunakan  model 4F ( Fact, Feeling, Findings, Future) merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. Dalam model refleksi 4F ini dapat diterjemahkan menjadi 4P yang terdiri dari Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Penerapan. Pada modul 3.3 yang saya dapatkan dalam mempelajari modul ini yaitu materi pengelolaan program yang berdampak positif pada murid.

A.                  FACT

Dalam modul ini saya juga mempelajari kepemimpinan murid atau sering juga disebut student agency dimana murid mampu berperan sebagai pemimpin dalam pembelajarannya sendiri, murid diberikan kesempatan untuk dapat mengembangkan dirinya sehingga kapasitasnya dalam mengelola pembelajarannya sendiri dapat dimaksimalkan untuk menemukan potensi kepemimpinannya untuk selalu berkembang menjadi lebih baik. 

Pada saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri, secara tidak langsung mereka memiliki suara (voice), pilihan (choice) dan kepemilikan (ownership), selain itu dalam modul ini juga terdapat materi tentang 7 karakteristik lingkungan yang mendukung dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid yang meliputi: 

1.       Lingkungan yang menyediakan kesempatan murid untukmenggunakan pola pikir positif dan merasakan emosiyang positif

2.       Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana, dimana murid akan menjunjung tinggi nilai-nilai positif yang didasari dengan nilai-nilai kebajikan yang dibangun oleh sekolah

3.       Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun nonakademik

4.       Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan disekitarnya

5.        Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapatmenentukan tujuan, harapan ataumimpi yang manfaat dan menindaklanjuti kebaikannya melampauipemenuhan kepentingan individu, kelompok maupungolongan

6.       Lingkungan yang menempatkan murid sebagai fokusnya sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri

7.       Lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan sikaptangguh murid untuk terus bangkit diberbagai kesempatan

B.                  FEELING

Perasaan yang saya rasakan setelah mempelajari modul 3.3 ini adalah sangat puas dan menyenangkan perasaan karena selain menambah ilmu pengetahuan, wawasan secara tidak langsung merubah sudut pandang sebagai seorang pendidik bahwasannya murid seyogyanya diberikan kesempatan untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajarannya sendiri sehingga potensi kepemimpinan murid tersebut dapat muncul dan juga selalu berkembang lebih baik.Selain itu setelah mempelajari modul ini dapat saya jadikan bekal untuk dapat saya implementasikan dalam pendidikan,khususnya bagaimana kita merancang program yang melibatkan murid secara aktif dan sekaligus berdampak positif bagi murid di masa sekarang dan masa yang akan datang.

C.                  FINNDINGS

Sebenarnya murid mempunyai peranan dalam mengambil peranan dalam proses belajar mereka sendiri.Tetapi terkadang guru memperlakukan mereka seakan akan tidak mampu dalam membuat keputusan,pilihan dalam proses belajar mereka. Agar kita dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Peran kita adalah:

·       Mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya.

·        Mengurangi kontrol kita terhadap mereka

Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran mereka sendiri, maka hubungan yang tercipta antara guru dengan murid akan mengalami perubahan, karena hubungannya akan menjadi bersifat kemitraan.Selain hubungan kemitraan anatara guru dan murid ada juga yang disebut dengan tri sentra pendidikan . Kemitraan tri sentra pendidikan adalah kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat yang berlandaskan pada asas gotong royong, kesamaan kedudukan, saling percaya, saling menghormati, dan kesediaan untuk berkorban dalam membangun ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter dan budaya prestasi peserta didik. Melalui pemberdayaan, pendayagunaan, dan kolaborasi tri sentra pendidikan ini, maka keterlibatan yang bermakna dari orangtua dan anggota masyarakat dalam proses pembelajaran menjadi fokus yang perlu terus diupayakan oleh sekolah.

D.                  FUTURE

Setelah mempelajari modul 3.3 ini saya berusaha semaksimal mungkin untuk menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari,khususnya di kelas yang saya ampu untuk dapat memberikan perubahan awal. Selain menerapkannya saya juga akan berbagi praktik tersebut terhadap rekan sejawat saya di sekolah tentang apa yang saya pelajari sehingga kolaborasi terjalin dan kebersamaan untuk membangun sekolah yang berpusat pada murid dapat terwujud dengan usaha bersama.

perubahan tidak dapat dimulai dari atas,semua berawal dan berakhir dari guru.Jangan menunggu aba aba,jangan menunggu perintah.Ambilah langkah pertama” -Nadiem Makarim-

Berdasarkan pernyataan diatas,maka saya akan mulai merancang dan mengelola program program sekolah baik kokulikuler,intra kulikuler maupun ekstra kulikuler dengan melibatkan segenap pemanngku kepentingan sekolah.Dimana esensi dari rancangan dan pengelolaan program tersebut muaranya adalah murid dengan kata lain dari murid,oleh murid dan untuk murid.

 

SEMOGA BERMAMFAAT

 SALAM GURU PENGGERAK

 

Minggu, 16 April 2023

 

Jurnal Refleksi Modul 3.1

Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai Nilai Kebajikan Seorang Pemimpin



Oleh : Cicin Resnawati

Calon Guru Penggerak Angkatan 7

Kabupaten Garut

Jurnal Refleksi ini menggunakan Model 5R (Reporting, Responding, Relating, Reasoning, Reconstructing).

Jurnal refleksi ini saya buat untuk mendokumentasikan perasaan, pengalaman, ide / gagasan, pengalaman dan praktik baik selama mempelajari modul 3.1. Refleksi menggunakan model 6 yaitu model 5R (Reporting, Responding, Relating, Reasoning, Reconstructing).

REPORTING (MENDESKRIPSIKAN)

Mendeskripsikan atau menceritakan ulang peristiwa yang terjadi.Sebelum mempelajari modul 3.1 terlebih dahulu CGP mengerjakan Pretest pada tanggal 31 Maret 2023.

Sama hal dengan modul sebelumnya,pada modul 3.1 ini pun CGP belajar melalui alur MERDEKA.Mulai dari Diri dan Eksplorasi konsep-Mandiri mulai dikerjakan pada tanggal 31 Maret,dilanjutkan dengan Eksplorasi Konsep – Forum Diskusi dilakukan pada hari Senin tanggal 3 dan 4 April 20223,dilanjutkan dengan Ruang Kolaborasi pada tanggal 5 dan 10 April,di tanggal 6 April dilaksanakan Pendampingan Individu serta Lokakarya 4 ditanggal 8 April,selanjutnya di Demontrasi Kontekstual Cgp harus mewawancarai 2-3 orang kepala sekolah dan menganalisis hasil wawancara tersebut dimana batas pengumpulan terakhirnya tanggal 17 April.Elaborasi pemahaman dan Koneksi Antar Materi ditanggal 14 April 2023 dan diakhiri dengan Aksi Nyata pada tanggal 17 April 2023.

Dengan alur pembelajaran MERDEKA pada modul 3.1 ini saya belajar tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin. Saya belajar bagaimana mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah. Ada beberapa contoh kasus  disajikan dalam modul ini, dari kasus tersebut CGP belajar mempraktikkan dan menganalisis, sehingga bisa memahami apakah suatu kasus tersebut termasuk dilema etika atau bujukan moral.

Dengan mempelajari modul ini saya menjadi paham, bahwa sebagai pemimpin untuk mengambil satu keputusan dibutuhkan proses yang panjang. Keputusan harus memperhatikan 4 paradigma pengambilan keputusan, tidak meninggalkan 3 prinsip pengambilan keputusan, serta mengikuti 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Sehingga keputusan yang diambil adalah keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan dan berpihak kepada murid.

RESPONDING (MERESPON)

Menjabarkan tanggapan yang diberikan dalam menghadapi peristiwa yang diceritakan, misalnya melalui pemberian opini, pertanyaan, ataupun tindakan yang diambil saat peristiwa berlangsung.Materi dalam modul 3.1 ini bagi saya adalah sesuatu yang baru. Saya sangat senang dapat mempelajarinya, karena ini adalah pengetahuan yang sangat penting dan sangat saya butuhkan berkaitan dengan profesi saya sebagai guru atau pemimpin pembelajaran di kelas.

Sebagai pemimpin pembelajaran tidak jarang saya berhadapan dengan situasi yang membingungkan, harus memilih dua hal yang sering membuat saya dilema, mau memilih satu atau yang lainnya. Butuh waktu yang lama untuk mengambil keputusan. Belum lagi setelah memutuskan saya akan diliputi rasa kurang percaya diri.

Setelah mempelajari modul 3.1 ini, saya mendapat pengetahuan baru yang bisa saya jadikan dasar atau landasan dalam mengambil keputusan. Dengan mengikuti paradigma, prinsip dan langkah-langkah pengambilan keputusan saya menjadi lebih percaya diri dan menjadi yakin bahwa keputusan yang akan saya ambil adalah keputusan yang tepat dan bermanfaat serta tidak merugikan pihak lain. Karena sesuai dengan konsep dan dasar pengambilan keputusan yang jelas.

RELATING ( MENGAITKAN )

Menghubungkan kaitan antara peristiwa dengan pengethuan, ketrampilan, keyakinan atau informasi yang dimiliki.

 

Ilmu dan pengalaman dalam mengambil suatu keputusan yang saya dapatkan dari modul 3.1 ini sangat penting, karena dapat memperkuat dan meningkatkan kemampuan saya dalam memutuskan sesuatu. Saya mempelajari dan mempraktikkan dengan  menganalisis kasus-kasus yang dipaparkan dalam modul secara individu maupun berkolaborasi dengan teman sesama CGP maupun mempraktikkannya di kelas atau di sekolah.

Jika selama ini dalam mengambil suatu keputusan saya lebih banyak mengandalkan intuisi atau berkonsultasi dengan sesama teman yang lebih berpengalaman, tanpa memperhatikan paradigma, prinsip dan tanpa melewati langkah pengambilan dan pengujian keputusan, maka saat ini saya telah mengetahui konsep dan pola pengambilan keputusan yang benar dan efektif, Namun, saya masih perlu dan akan terus berlatih, agar ketrampilan pengambilan keputusan yang saya miliki semakin meningkat.

REASONING (MENGANALISIS)

Menganalisis dengan detail mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi, lalu mengambil beberapa perseptif lain, misalnya dari teori atau kejadian lain yang serupa untuk mendukung analisis tersebut.

Pengambilan keputusan adalah suatu proses, untuk melaksanakannya dibutuhkan informasi atau data atau fakta yang akurat sebagai acuan atau dasar. Semakin banyak informasi yang didapat, maka akan semakin membantu memudahkan dalam pelaksanaan pengambilan keputusan. Disamping informasi, data atau fakta dibutuhkan pula waktu untuk menganalisis dan menguji keputusan yang akan diambil.

Agar memiliki pemahaman yang mendalam tentang cara dan langkah untuk dapat mengambil keputusan terbaik, sebagai pemimpin pembelajaran diperlukan ketrampilan khusus. Untuk itu saya akan terus berlatih menganalisis suatu kasus, sehingga mampu membedakan apakah kasus tersebut termasuk dilema etika ataukah bujukan moral. Dengan begitu akan memudahkan saya melakukan tahap berikutnya dalam pengambilan keputusan.

RECONSTRUCTING (MERANCANG ULANG)

Menuliskan rencana alternative jika menghadapi kejadian serupa di masa mendatang.

Berkat mempelajari  modul 3.1 ini, cara pandang saya tentang pengambilan suatu keputusan mengalami perubahan. Untuk satu keputusan saya harus melalui berbagai pertimbangan, memperhatikan nilai-nilai kebajikan, keperpihakan, terciptanya lingkungan yang kondusif, nyaman dan aman, menerapkan paradigma, prinsip, dan langkah-langkah pengambilan keputusan, sehingga keputusan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan dan memenuhi kebutuhan belajar murid.

 

Setelah saya memperoleh ilmu dan konsep tentang pengambilan keputusan dari modul 3.1 ini, rencana ke depan saya adalah:

·       Menerapkan ilmu dan konsep yang saya dapatkan dari modul ini dalam kehidupan nyata di sekolah,

·       Terus belajar meningkatkan ketrampilan  dalam mengambil suatu keputusan.

·       Saling berbagi dan berkolaborasi dengan teman sejawat mengenai pengambilan keputusan.

Saya berharap di masa mendatang dalam mengambilan sebuah keputusan, akan lebih bijaksana, lebih terampil, hingga keputusan yang diambil adalah keputusan yang tepat dan efektif, dapat dipertanggungjawabkan serta berpihak pada murid. Begitupun dengan teman-teman sejawat di sekolah saya maupun seluruh guru di negara kita tercinta ini. Semoga.

 

Semoga bermanfaat

Tergerak,Bergerak dan Menggerkan

Salam Guru Penggerak

 

 

 

 

 

Minggu, 19 Maret 2023

 

JURNAL DWI MINGGUAN

 MODUL2.3

COACHING UNTUK SUPERVISI PENDIDIKAN

CICIN RESNAWATI_CGP ANGKATAN 7_SDN 2 SUKAMUKTI_KAB.GARUT

Dalam jurnal dwi mingguan ini saya merefleksikan hasil kegiatan saya selama mengikuti pembelajaran melalui LMS,selain itu jurnal refleksi ini saya tulis sebagai media yang mendokumentasikan perasaan,gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah saya lakukan .Model refleksi yang saya gunakan adalah 4F (Fact,Feelings,Findings,Future)

Kali ini saya akan coba merefleksi pembelajaran dan aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan di Learning Management System (LMS). Kegiatan dimulai dari modul 2.3.a.3 sampai post tes modul 2

 

1. Facts (Peristiwa)

Di minggu ini ada beberapa aktivitas pembelajaran yaitu diawali mulai dari 2.3.a.3 mulai dari diri diana saya membuat blog yang berisikan jawaban dari pertanyaan pemantik yang diberikan untuk merefleksikan diri saya tentang supervise di sekolah saya, kemudian masuk ke eksplorasi konsep, modul 2,3,a,4,1 yang membahas tentang coaching, perbedaan antara metode pengembangan diri coaching, mentoring, konseling, fasilitasi dan training, konsep coaching secara umum, bagaimana coaching dilakukan dalam konteks pendidikan, paradigma coaching dilihat dari system Among yang merupakan konsep dari Ki Hajar Dewantara, selanjutnya masuk ke modul 2.3.a.4.2 tentang eksplorasi paradigma berpikir coaching dan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi, juga mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervise akademik, selain itu disana juga dijabarkan perbedaan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat, dibantu dengan video percakapan coaching yang membantu saya memahami tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang coach yang baik.

Selanjutnya di modul 2.3.a.4.3 di Bahas tentang kompetensi inti coaching dan TIRTA. sebagai alur percakapan coaching , disini dipelajari alur coaching mulai dari Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab yang diakronimkan menjadi TIRTA, diharapkan akan seperti air yang mana komunikasi bisa mengalir, disini juga dibahas tentang inti coaching yaitu presence kehadiran penuh yang terlihat pada coach, dengan memberikan perhatian penuh akan apa yang disampaikan oleh coachee, menjadi seorang pendengar aktif dengan sesekali memberikan tanggapan atas apa yang sedang dibicarakan oleh coachee, dan dibahas tentang keterampilan membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching, selain itu, modul ini juga membahas tentang jalannya percakapan coaching untuk membuat rencana aksi, coaching untuk melakukan refleksi, coaching untuk memecahkan masalah dan coaching melakukan kalibrasi, selanjutnya di forum diskusi eksplorasi kami salingmelakukan pemantapanpemahaman dengan berdiskusi antar CGP.

Pada modul 2.3.a.5 yaitu ruang kolaborasi saya berpasangan dengan Bu Mirsa melakukakn sebuah percakapan coaching untuk benar-benar memberikan pengalaman coaching secara nyata dengan teman sesame CGP, dan hasil percakapan divideokan dan diunggah sebagai salah satu tagihan dari LMS, kemudian pada modul 2.3.a.6 demonstrasi kontekstual, kami dikelompokkan dengan beranggotakan 4 orang (Bu Mirsa, saya, Bu Siti Damayanti dan Bu Nyimas), kami membuat video percakapan dengan 2 CGP menjadi observer, 1 CGP lain menjadi coach, dan 1 CGP lainnya menjadi Coachee, kami melakukan secara bergiliran, kegiatan ini menambah pemahaman kami tentang bagaimana seharusnya menjadi observer, apa yang perlu diperhatikan pada saat pra observasi, saat observasi dan pasca observasi.

2. Feelings (Perasaan)

Saya antusias dan sangat semangat mengikuti aktivitas pembelajaran tentang coaching ini. Pada modul 2.3. ini, Saya menjadi begitu penasaran di awalnya bagaimana menjadi coach yang baik, dan kemudian merasa senang sekali karena semuanya terjawab di modul ini ditambah dengan beberapa praktik langsung bersama para CGP membuat pemahaman baik tentang modul 2. Dari hasil praktik saya merasa masih banyak kekurangan sehingga merasa bersemangat untuk belajar lagi dan berusaha memahami tentang coaching, bagaimana membuat pertanyaan berbobot, dan bagaimana bersikap sebagai coach yang baik.

3.  Findings (Pembelajaran)

Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru pada modul 2.3. memberi saya banyak pengetahuan dan pembelajaran yang banyak tentang bagaimana menjadi coaching yang baik dan bagaimana melakukan supervise akademik yang baik yang dapat membantu pengembangan diri rekan sejawat, ada fase ini saya diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di Modul 2:yang pernah saya dapati mulai dari konsep Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pembelajaran, tentang peran dan nilai guru penggerak, tentang pembelajaran berdiferensiasi yang berkaitan juga dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional yang semuanya berkaitan dengan coaching dan supervise akademik, di modul ini juga saya mencoba merancang sebuah aksi nyata supervisi akademik terhadap rekan sejawat, untuk membantunya mengembangkan kemampuan diri rekan sejawat.

4. Future (Penerapan)

Sebagai seorang guru, saya tentunya sering menjumpai banyak permasalahan di lapangan yang terkait dengan potensi para murid dan mungkin rekan sejawat. permasalahan tersebut seringkali menjadi salah satu penghambat kemajuan seseorang dalam mencapai tujuannya, bahkan mereka bisa saja tidak sadar akan kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki untuk menyelesaikan permasalahannya. Oleh karena itu, coaching sangat perlu dilakukan untuk bisa membantu mengatasi permasalahan tersebut. Selanjutnya saya berharap praktik baik ini bisa dilakukan juga oleh rekan sejawat lainnya. Sehingga semua mampu menjadi coach yang baik bagi muridnya dan orang lain.

Terima kasih

Kamis, 09 Maret 2023

 

                   2.2.a.8 Koneksi antar materi Modul 2.2  

CICIN RESNAWATI
CGP ANGKATAN 7
KAB.GARUT


  • Sebelum mempelajari modul ini, saya berfikir bahwa sebagai seorang pendidik saya sudah menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid, yang memfokuskan pada keterampilan aspek kognitif maupun intelegensi pada murid yang sesuai dengan bakat serta minat murid dan mempertimbangkan profil belajar murid. Sehingga harapannya mampu mewujudkan lulusan yang berprestasi dan unggul secara akademik serta menuntun kodrat seorang murid untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. tetapi setelah mempelajari modul 2.2.a.8 mengenai Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) ternyata konsep pemahaman saya selama ini salah. Sebagai seorang pendidik kita hendaknya juga memerapkan pembelajaran sosial emosial untuk  melatih murid agar dapat memahami, mengolah, dan mengekspresikan aspek sosial dan emosional pada diri murid agar sukses, memiliki kesadaran diri, mampu memanajemen diri, memiliki kesadaran sosial membangun hubungan relasi dengan orang lain, menyelesaikan masalah sehari-hari dan mampu mengambil keputusan yang bertanggungjawab. Hal ini penting dilakukan agar seorang murid dapat beradaptasi terhadap perubahan dan perkembangan. Selama ini guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran hanya memberikan ruang belajar yang tidak cukup.Kecerdasan emosional tidak kalah penting dengan kecerdasan intelejensi bahkan lebih penting. Dengan memiliki ketermapilan sosial emosional diharapkan anak mampu bersosialisasi denga orang lain dan survive ditengah arus perubahan zaman  sehingga memiliki kesadaran penuh (mainfullness)
  • Berkaitan dengan  kebutuhan belajar dan  lingkungan yang aman dan nyaman untuk menfasilitasi seluruh siswa di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensi akademik maupun kesejateraan psikologis (well-being), 3 hal mendasar dan penting yang saya pelajari antara lain;
    1.  Konsep pembelajaran sosial dan emosional berdasarkan kerangka kerja CASEL  (Collaborative for academic,Sosial and Emosional Learning)yang bertujuan untuk mengembangkan 5 kompetensi sosial dan emosional (KSE) yang terdiri dari; kesadaran diri,manajemen diri,kesadaran sosial,ketermpilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Kesadaran  diri adalah  pengetahuan untuk memahami perasaan,emosi dan nilai nilai diri sendiri dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri dalam berbagai konteks kehidupan. Manajemen diri adalah kemampuan untuk mengelola emosi,pikiran dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi untuk mencapai tujuan dan aspirasi.Sedangkan Kesadaran sosial adalah kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati terhadap orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Kemampuan berelasi adalah kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat dan suportif.Dan Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab adalah kemampuan untuk mengambil pilihan pilihan yang membangun yang berdasrkan atas kepedulian,kapasitas dalam mempertimbangkan standar standar etis dan rasa aman dan untuj mengevaluasi mamfaat dan konsekuensi dari bermacam macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri,masyarakat dan kelompok.
    2. pemahaman   konsep kesadaran penuh   (mindfulness) sebagai dasar penguatan 5 Kompetensi Sosial dan    Emosional    (KSE) serta bagaimana mengimplementasikan pembelajaran sosial emosional di kelas dan sekolah melalui 4 indikator,   yaitu: pengajaran eksplisit, integrasi dalam   praktek mengajar guru dan kurikulum    akademik,         penciptaan    iklim    kelas    dan    budaya    sekolah,    dan penguatan kompetensi sosial dan emosional pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah

  • Pengajaran      eksplisit      adalah      Implementasi      PSE      dengan      pengajaran eksplisit    memastikan murid memiliki kesempatan yang konsisten untuk menumbuhkan,   melatih,   dan  berefleksi   tentang       kompetensi   sosial   dan emosional       dengan   cara   yang   sesuai      dan   terbuka   dengan   keragaman budaya.   Pengajaran eksplisit KSE dapat dilaksanakan dalam bentuk kegiatan kokurikuler   dan   ekstrakurikuler.       Pendidik   dapat   menggunakan  berbagai proyek,  acara atau  kegiatan sekolah  yang rutin  untuk mengajarkan kompetensi sosial dan emosional secara eksplisit.Integrasi dalam praktek mengajar guru dan kurikulum akademik untuk;
    1. Mengintegrasi KSE dalam  praktek mengajar  guru  dan  kurikulum  akademik, tujuan Kompetensi Sosial Emosional dapat diintegrasikan ke dalam konten pembelajaran dan strategi pembelajaran pada materi akademik, serta musik, seni, dan pendidikan jasmani
    2. Penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah adalah Salah satu upaya mengubah lingkungan sekolah (iklim kelas dan sekolah), adalah melalui praktik guru dan gaya interaksi mereka dengan murid, atau dengan mengubah peraturan dan harapan sekolah
    3. Penguatan   kompetensi sosial dan emosional   pendidik dan tenaga kependidikan(PTK) di sekolah dapat melalui langkah -- langkah yaitu Memodelkan (menjadi teladan) Belajar, dan berkolaborasi
  • Kesejahteraan psikologis [well-being] adalah kondisi individu yang meiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan diri
  • Perubahan yang saya terapkan di kelas pada anak didik : Saya akan menerapkan pembelajaran sosial emosional di kelas yang akan saya integrasikan dengan rencana pelaksanaan pembelajaran serta bersinergi dengan tujuan akademisi. Pengajaran terhadap materi akan lebih bermakna dengan membangun konsep mindfulness pada diri seorang murid. Sehingga tidak hanya mampu cerdas secara intelegensi akan tetapi juga memiliki kecerdasan secara sosial dan emosional. Jika seorang murid mampu mengelola kecerdasan sosial emosionalnya mampu mengambil keputusan yang bertanggungjawab atas dirinya, serta menerapkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi murid yang sesuai dengan kebutuhan belajar murid.
  • erubahan yang saya terapkan pada teman sejawat: Saya akan menyosialisasika Pembelajaran sosial emosional kepada rekan sejawat, mengajak rekan sejawat serta dapat memotivasi untuk menerapkannya dikelas. Menumbuhkan konsep pemikiran bahwa pembelajaran dikelas tidak hanya fokus pada penguasaan secara akademik saja, melainkan pentingnya melatih kesadaran sosial emosional pada murid, agar memiliki kesadaran penuh (mindfulness). Sebelum menerapkan didalam pembelajaran saya akan mengajak rekan sejawat untuk Bersama-sama mampu mengelola emosional pada saat menghadapi perilaku setiap murid. Karena setiap pribadi tentunya memiliki latar belakang, profil belajar yang berbeda-beda.  Dengan penguatan PSE pendidik   mampu memfasilitasi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid 
  • dan mengelola kecerdasan sosial emosional murid, sehingga memiliki konsep pemikiran yang kritis, lebih matang dalam berfikir, memperhatikan aspek sosial, berempati dengan situasi dan kondisi dilingkungan sekitar serta memiliki kesadaran penuh (mindfulness) sehingga murid menjadi pribadi yang berilmu, bermoral dan bermartabat dan mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (wellbeing student)
  • Modul Pembelajaran Sosial Emosional memiliki keterkaitan dengan modul- modul sebelumnya. Dengan penerapan pembelajaran Sosial Emosional ini harapannya seorang pendidik mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman nyaman bagi murid, dengan mengelola kesadaran penuh (mindfullness) pada murid. Selain itu melalui pembelajaran sosial emosional ini guru mampu menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid dengan mempertimbangkan kebutuhan belajar murid yang mencakup kesiapan belajar murid, minat belajar murid, dan profil belajar murid sehingga mampu memberikan pembelajaran yang berdiferensiasi. Hal ini juga diharapkan mampu mewujudkan visi guru penggerak serta terciptanya budaya positif dilingkungan sekolah. Nilai dan peran seorang guru penggerak disini juga mampu mendukung terwujdunya wellbeing


  




Kamis, 09 Februari 2023

Refleksi Individu Modul 2.1

 

Refleksi Individu MODUL 2.1

CICIN RESNAWATI

CGP A7 SDN 2 SUKAMUKTI

  • Bayangkanlah kelas yang saat ini Anda ampu dengan segala keragaman murid-murid Anda.

Saya mengajar di kelas 5 yang terdiri dari 24 siswa yang memiliki latar belakang keluarga,status sosial,kemampuan intelektual yang pasti berbeda,mereka mempunyai potensi masing masing yang tentunya tidak sama satu sama lain. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang mengakomodasi dari semua perbedaan murid, terbuka untuk semua dan memberikan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap individu. Keberagaman dari setiap individu murid harus selalu diperhatikan, karena setiap peserta didik tumbuh di lingkungan dan budaya yang berbeda sesuai dengan kondisi geografis tempat tinggal mereka. Pembelajaran dilakukan dengan beragam cara untuk memahami informasi baru bagi semua murid dalam komunitas ruang kelasnya yang beraneka ragam, termasuk cara untuk: mendapatkan konten; mengolah, membangun, atau menalar gagasan; dan mengembangkan produk pembelajaran dan ukuran evaluasi sehingga semua murid di dalam suatu ruang kelas yang memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa belajar dengan efektif. Selain itu juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya

  • Apa yang telah Anda lakukan untuk melayani kemampuan murid yang berbeda? Apa yang Anda lakukan untuk membuat proses pembelajaran menjadi lebih mudah untuk murid Anda? Apakah ada perlakuan yang berbeda yang Anda lakukan?  Jika ada, perlakuan seperti apa? Jika tidak ada, apa dampaknya terhadap murid Anda?

1.     Melakukan pemetaan Pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien dengan demikian guru perlu memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka.

2.     Menyediakan pertanyaan pemandu atau tantangan melalui sudut-sudut minat, dengan demikian akan mendorong murid mengeksplorasi berbagai materi yang dipelajari.

3.     Membuat agenda individual untuk murid, misalnya guru membuat daftar tugas berisi pekerjaan umum untuk semua kelas serta daftar pekerjaan yang terkait dengan kebutuhan individual murid. Jika murid telah selesai mengerjakan pekerjaan umum maka mereka dapat selesai melihat agenda individual dan pekerjaan yang dibuat khusus untuk mereka

4.     Memfasilitasi lama waktu yang murid dapat ambil untuk menyelesaikan tugas. Dalam hal ini untuk memberikan dukungan bagi murid yang mengalami kesulitan atau sebaliknya mendorong murid yang cepat untuk mengejar topik secara lebih mendalam

5.     Mengembangkan kegiatan yang bervariasi yang mengakomodasi gaya belajar visual, auditori dan kinestetik.

6.     Menggunakan pengelompokan yang fleksibel yang sesuai dengan kesiapan, kemampuan dan minat murid.

 

  • Sebutkan tantangan-tantangan yang Anda hadapi dalam proses pembelajaran di kelas yang disebabkan oleh keragaman murid-murid Anda tersebut? Tindakan-tindakan apa yang telah Anda lakukan untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut?

Pertama, guru harus mengetahui berbagai karakteristik peserta didik. Pengetahuan guru tentang kondisi keberagaman siswa menjadi dasar untuk merancang pembelajaran, sehingga sesuai dengan keadaan keberagaman peserta didik tersebut. Guru perlu meluangkan waktu yang cukup dalam menyusun rancangan pembelajaran

Kedua, guru perlu menyusun asesmen diagnostik dan formatif pada awal pembelajaran. Asesmen diagnostik dilaksanakan untuk mengetahui keberagaman peserta didik. Adapun asesmen formatif pada awal pembelajaran untuk mengetahui tingkat pencapaian peserta didik. Dengan demikian, guru dapat merancang pembela kompetensi tiap peserta didik.

Ketiga, guru perlu menggunakan multimetode, multimedia, dan multisumber. Panerapan metode, media dan sumber belajar yang bervariasi dapat mangakomodasi berbagai tipe belajar poberta didik baik tipe visual, auditon maupun kinestetik

  • Menurut Anda, untuk mengakomodasi tantangan yang terkait dengan keragaman murid tersebut, bagaimana seharusnya pembelajaran itu dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi?

Pembelajaran berdiferensiasi sangat berkaitan dengan filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, serta budaya positif. Salah satu filosofi pendidkan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sistem "among", guru harus dapat menuntun murid untuk berkembang sesuai dengan kodratnya, hal ini sangat sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu nilai dan peran guru penggerak adalah menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada murid, yaitu pembelajaran yang memerdekakan pemikiran dan potensi murid. Hal tersebut sejalan dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu visi guru penggerak adalah mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar pancasila, untuk mewujudkan visi tersebut salah satu caranya adalah dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Budaya positif juga harus kita bangun agar dapat mendukung pembelajaran berdirensiasi.

 

  PARADIGMA POST POSITIVISME A.     Latar Belakang dan Pengertian Post Positivisme   Pada awal abad ke-20, asumsi-asumsi kaku positivi...