Minggu, 16 April 2023

 

Jurnal Refleksi Modul 3.1

Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai Nilai Kebajikan Seorang Pemimpin



Oleh : Cicin Resnawati

Calon Guru Penggerak Angkatan 7

Kabupaten Garut

Jurnal Refleksi ini menggunakan Model 5R (Reporting, Responding, Relating, Reasoning, Reconstructing).

Jurnal refleksi ini saya buat untuk mendokumentasikan perasaan, pengalaman, ide / gagasan, pengalaman dan praktik baik selama mempelajari modul 3.1. Refleksi menggunakan model 6 yaitu model 5R (Reporting, Responding, Relating, Reasoning, Reconstructing).

REPORTING (MENDESKRIPSIKAN)

Mendeskripsikan atau menceritakan ulang peristiwa yang terjadi.Sebelum mempelajari modul 3.1 terlebih dahulu CGP mengerjakan Pretest pada tanggal 31 Maret 2023.

Sama hal dengan modul sebelumnya,pada modul 3.1 ini pun CGP belajar melalui alur MERDEKA.Mulai dari Diri dan Eksplorasi konsep-Mandiri mulai dikerjakan pada tanggal 31 Maret,dilanjutkan dengan Eksplorasi Konsep – Forum Diskusi dilakukan pada hari Senin tanggal 3 dan 4 April 20223,dilanjutkan dengan Ruang Kolaborasi pada tanggal 5 dan 10 April,di tanggal 6 April dilaksanakan Pendampingan Individu serta Lokakarya 4 ditanggal 8 April,selanjutnya di Demontrasi Kontekstual Cgp harus mewawancarai 2-3 orang kepala sekolah dan menganalisis hasil wawancara tersebut dimana batas pengumpulan terakhirnya tanggal 17 April.Elaborasi pemahaman dan Koneksi Antar Materi ditanggal 14 April 2023 dan diakhiri dengan Aksi Nyata pada tanggal 17 April 2023.

Dengan alur pembelajaran MERDEKA pada modul 3.1 ini saya belajar tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin. Saya belajar bagaimana mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah. Ada beberapa contoh kasus  disajikan dalam modul ini, dari kasus tersebut CGP belajar mempraktikkan dan menganalisis, sehingga bisa memahami apakah suatu kasus tersebut termasuk dilema etika atau bujukan moral.

Dengan mempelajari modul ini saya menjadi paham, bahwa sebagai pemimpin untuk mengambil satu keputusan dibutuhkan proses yang panjang. Keputusan harus memperhatikan 4 paradigma pengambilan keputusan, tidak meninggalkan 3 prinsip pengambilan keputusan, serta mengikuti 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Sehingga keputusan yang diambil adalah keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan dan berpihak kepada murid.

RESPONDING (MERESPON)

Menjabarkan tanggapan yang diberikan dalam menghadapi peristiwa yang diceritakan, misalnya melalui pemberian opini, pertanyaan, ataupun tindakan yang diambil saat peristiwa berlangsung.Materi dalam modul 3.1 ini bagi saya adalah sesuatu yang baru. Saya sangat senang dapat mempelajarinya, karena ini adalah pengetahuan yang sangat penting dan sangat saya butuhkan berkaitan dengan profesi saya sebagai guru atau pemimpin pembelajaran di kelas.

Sebagai pemimpin pembelajaran tidak jarang saya berhadapan dengan situasi yang membingungkan, harus memilih dua hal yang sering membuat saya dilema, mau memilih satu atau yang lainnya. Butuh waktu yang lama untuk mengambil keputusan. Belum lagi setelah memutuskan saya akan diliputi rasa kurang percaya diri.

Setelah mempelajari modul 3.1 ini, saya mendapat pengetahuan baru yang bisa saya jadikan dasar atau landasan dalam mengambil keputusan. Dengan mengikuti paradigma, prinsip dan langkah-langkah pengambilan keputusan saya menjadi lebih percaya diri dan menjadi yakin bahwa keputusan yang akan saya ambil adalah keputusan yang tepat dan bermanfaat serta tidak merugikan pihak lain. Karena sesuai dengan konsep dan dasar pengambilan keputusan yang jelas.

RELATING ( MENGAITKAN )

Menghubungkan kaitan antara peristiwa dengan pengethuan, ketrampilan, keyakinan atau informasi yang dimiliki.

 

Ilmu dan pengalaman dalam mengambil suatu keputusan yang saya dapatkan dari modul 3.1 ini sangat penting, karena dapat memperkuat dan meningkatkan kemampuan saya dalam memutuskan sesuatu. Saya mempelajari dan mempraktikkan dengan  menganalisis kasus-kasus yang dipaparkan dalam modul secara individu maupun berkolaborasi dengan teman sesama CGP maupun mempraktikkannya di kelas atau di sekolah.

Jika selama ini dalam mengambil suatu keputusan saya lebih banyak mengandalkan intuisi atau berkonsultasi dengan sesama teman yang lebih berpengalaman, tanpa memperhatikan paradigma, prinsip dan tanpa melewati langkah pengambilan dan pengujian keputusan, maka saat ini saya telah mengetahui konsep dan pola pengambilan keputusan yang benar dan efektif, Namun, saya masih perlu dan akan terus berlatih, agar ketrampilan pengambilan keputusan yang saya miliki semakin meningkat.

REASONING (MENGANALISIS)

Menganalisis dengan detail mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi, lalu mengambil beberapa perseptif lain, misalnya dari teori atau kejadian lain yang serupa untuk mendukung analisis tersebut.

Pengambilan keputusan adalah suatu proses, untuk melaksanakannya dibutuhkan informasi atau data atau fakta yang akurat sebagai acuan atau dasar. Semakin banyak informasi yang didapat, maka akan semakin membantu memudahkan dalam pelaksanaan pengambilan keputusan. Disamping informasi, data atau fakta dibutuhkan pula waktu untuk menganalisis dan menguji keputusan yang akan diambil.

Agar memiliki pemahaman yang mendalam tentang cara dan langkah untuk dapat mengambil keputusan terbaik, sebagai pemimpin pembelajaran diperlukan ketrampilan khusus. Untuk itu saya akan terus berlatih menganalisis suatu kasus, sehingga mampu membedakan apakah kasus tersebut termasuk dilema etika ataukah bujukan moral. Dengan begitu akan memudahkan saya melakukan tahap berikutnya dalam pengambilan keputusan.

RECONSTRUCTING (MERANCANG ULANG)

Menuliskan rencana alternative jika menghadapi kejadian serupa di masa mendatang.

Berkat mempelajari  modul 3.1 ini, cara pandang saya tentang pengambilan suatu keputusan mengalami perubahan. Untuk satu keputusan saya harus melalui berbagai pertimbangan, memperhatikan nilai-nilai kebajikan, keperpihakan, terciptanya lingkungan yang kondusif, nyaman dan aman, menerapkan paradigma, prinsip, dan langkah-langkah pengambilan keputusan, sehingga keputusan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan dan memenuhi kebutuhan belajar murid.

 

Setelah saya memperoleh ilmu dan konsep tentang pengambilan keputusan dari modul 3.1 ini, rencana ke depan saya adalah:

·       Menerapkan ilmu dan konsep yang saya dapatkan dari modul ini dalam kehidupan nyata di sekolah,

·       Terus belajar meningkatkan ketrampilan  dalam mengambil suatu keputusan.

·       Saling berbagi dan berkolaborasi dengan teman sejawat mengenai pengambilan keputusan.

Saya berharap di masa mendatang dalam mengambilan sebuah keputusan, akan lebih bijaksana, lebih terampil, hingga keputusan yang diambil adalah keputusan yang tepat dan efektif, dapat dipertanggungjawabkan serta berpihak pada murid. Begitupun dengan teman-teman sejawat di sekolah saya maupun seluruh guru di negara kita tercinta ini. Semoga.

 

Semoga bermanfaat

Tergerak,Bergerak dan Menggerkan

Salam Guru Penggerak

 

 

 

 

 

Minggu, 19 Maret 2023

 

JURNAL DWI MINGGUAN

 MODUL2.3

COACHING UNTUK SUPERVISI PENDIDIKAN

CICIN RESNAWATI_CGP ANGKATAN 7_SDN 2 SUKAMUKTI_KAB.GARUT

Dalam jurnal dwi mingguan ini saya merefleksikan hasil kegiatan saya selama mengikuti pembelajaran melalui LMS,selain itu jurnal refleksi ini saya tulis sebagai media yang mendokumentasikan perasaan,gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah saya lakukan .Model refleksi yang saya gunakan adalah 4F (Fact,Feelings,Findings,Future)

Kali ini saya akan coba merefleksi pembelajaran dan aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan di Learning Management System (LMS). Kegiatan dimulai dari modul 2.3.a.3 sampai post tes modul 2

 

1. Facts (Peristiwa)

Di minggu ini ada beberapa aktivitas pembelajaran yaitu diawali mulai dari 2.3.a.3 mulai dari diri diana saya membuat blog yang berisikan jawaban dari pertanyaan pemantik yang diberikan untuk merefleksikan diri saya tentang supervise di sekolah saya, kemudian masuk ke eksplorasi konsep, modul 2,3,a,4,1 yang membahas tentang coaching, perbedaan antara metode pengembangan diri coaching, mentoring, konseling, fasilitasi dan training, konsep coaching secara umum, bagaimana coaching dilakukan dalam konteks pendidikan, paradigma coaching dilihat dari system Among yang merupakan konsep dari Ki Hajar Dewantara, selanjutnya masuk ke modul 2.3.a.4.2 tentang eksplorasi paradigma berpikir coaching dan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi, juga mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervise akademik, selain itu disana juga dijabarkan perbedaan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat, dibantu dengan video percakapan coaching yang membantu saya memahami tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang coach yang baik.

Selanjutnya di modul 2.3.a.4.3 di Bahas tentang kompetensi inti coaching dan TIRTA. sebagai alur percakapan coaching , disini dipelajari alur coaching mulai dari Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab yang diakronimkan menjadi TIRTA, diharapkan akan seperti air yang mana komunikasi bisa mengalir, disini juga dibahas tentang inti coaching yaitu presence kehadiran penuh yang terlihat pada coach, dengan memberikan perhatian penuh akan apa yang disampaikan oleh coachee, menjadi seorang pendengar aktif dengan sesekali memberikan tanggapan atas apa yang sedang dibicarakan oleh coachee, dan dibahas tentang keterampilan membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching, selain itu, modul ini juga membahas tentang jalannya percakapan coaching untuk membuat rencana aksi, coaching untuk melakukan refleksi, coaching untuk memecahkan masalah dan coaching melakukan kalibrasi, selanjutnya di forum diskusi eksplorasi kami salingmelakukan pemantapanpemahaman dengan berdiskusi antar CGP.

Pada modul 2.3.a.5 yaitu ruang kolaborasi saya berpasangan dengan Bu Mirsa melakukakn sebuah percakapan coaching untuk benar-benar memberikan pengalaman coaching secara nyata dengan teman sesame CGP, dan hasil percakapan divideokan dan diunggah sebagai salah satu tagihan dari LMS, kemudian pada modul 2.3.a.6 demonstrasi kontekstual, kami dikelompokkan dengan beranggotakan 4 orang (Bu Mirsa, saya, Bu Siti Damayanti dan Bu Nyimas), kami membuat video percakapan dengan 2 CGP menjadi observer, 1 CGP lain menjadi coach, dan 1 CGP lainnya menjadi Coachee, kami melakukan secara bergiliran, kegiatan ini menambah pemahaman kami tentang bagaimana seharusnya menjadi observer, apa yang perlu diperhatikan pada saat pra observasi, saat observasi dan pasca observasi.

2. Feelings (Perasaan)

Saya antusias dan sangat semangat mengikuti aktivitas pembelajaran tentang coaching ini. Pada modul 2.3. ini, Saya menjadi begitu penasaran di awalnya bagaimana menjadi coach yang baik, dan kemudian merasa senang sekali karena semuanya terjawab di modul ini ditambah dengan beberapa praktik langsung bersama para CGP membuat pemahaman baik tentang modul 2. Dari hasil praktik saya merasa masih banyak kekurangan sehingga merasa bersemangat untuk belajar lagi dan berusaha memahami tentang coaching, bagaimana membuat pertanyaan berbobot, dan bagaimana bersikap sebagai coach yang baik.

3.  Findings (Pembelajaran)

Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru pada modul 2.3. memberi saya banyak pengetahuan dan pembelajaran yang banyak tentang bagaimana menjadi coaching yang baik dan bagaimana melakukan supervise akademik yang baik yang dapat membantu pengembangan diri rekan sejawat, ada fase ini saya diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di Modul 2:yang pernah saya dapati mulai dari konsep Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pembelajaran, tentang peran dan nilai guru penggerak, tentang pembelajaran berdiferensiasi yang berkaitan juga dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional yang semuanya berkaitan dengan coaching dan supervise akademik, di modul ini juga saya mencoba merancang sebuah aksi nyata supervisi akademik terhadap rekan sejawat, untuk membantunya mengembangkan kemampuan diri rekan sejawat.

4. Future (Penerapan)

Sebagai seorang guru, saya tentunya sering menjumpai banyak permasalahan di lapangan yang terkait dengan potensi para murid dan mungkin rekan sejawat. permasalahan tersebut seringkali menjadi salah satu penghambat kemajuan seseorang dalam mencapai tujuannya, bahkan mereka bisa saja tidak sadar akan kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki untuk menyelesaikan permasalahannya. Oleh karena itu, coaching sangat perlu dilakukan untuk bisa membantu mengatasi permasalahan tersebut. Selanjutnya saya berharap praktik baik ini bisa dilakukan juga oleh rekan sejawat lainnya. Sehingga semua mampu menjadi coach yang baik bagi muridnya dan orang lain.

Terima kasih

Kamis, 09 Maret 2023

 

                   2.2.a.8 Koneksi antar materi Modul 2.2  

CICIN RESNAWATI
CGP ANGKATAN 7
KAB.GARUT


  • Sebelum mempelajari modul ini, saya berfikir bahwa sebagai seorang pendidik saya sudah menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid, yang memfokuskan pada keterampilan aspek kognitif maupun intelegensi pada murid yang sesuai dengan bakat serta minat murid dan mempertimbangkan profil belajar murid. Sehingga harapannya mampu mewujudkan lulusan yang berprestasi dan unggul secara akademik serta menuntun kodrat seorang murid untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. tetapi setelah mempelajari modul 2.2.a.8 mengenai Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) ternyata konsep pemahaman saya selama ini salah. Sebagai seorang pendidik kita hendaknya juga memerapkan pembelajaran sosial emosial untuk  melatih murid agar dapat memahami, mengolah, dan mengekspresikan aspek sosial dan emosional pada diri murid agar sukses, memiliki kesadaran diri, mampu memanajemen diri, memiliki kesadaran sosial membangun hubungan relasi dengan orang lain, menyelesaikan masalah sehari-hari dan mampu mengambil keputusan yang bertanggungjawab. Hal ini penting dilakukan agar seorang murid dapat beradaptasi terhadap perubahan dan perkembangan. Selama ini guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran hanya memberikan ruang belajar yang tidak cukup.Kecerdasan emosional tidak kalah penting dengan kecerdasan intelejensi bahkan lebih penting. Dengan memiliki ketermapilan sosial emosional diharapkan anak mampu bersosialisasi denga orang lain dan survive ditengah arus perubahan zaman  sehingga memiliki kesadaran penuh (mainfullness)
  • Berkaitan dengan  kebutuhan belajar dan  lingkungan yang aman dan nyaman untuk menfasilitasi seluruh siswa di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensi akademik maupun kesejateraan psikologis (well-being), 3 hal mendasar dan penting yang saya pelajari antara lain;
    1.  Konsep pembelajaran sosial dan emosional berdasarkan kerangka kerja CASEL  (Collaborative for academic,Sosial and Emosional Learning)yang bertujuan untuk mengembangkan 5 kompetensi sosial dan emosional (KSE) yang terdiri dari; kesadaran diri,manajemen diri,kesadaran sosial,ketermpilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Kesadaran  diri adalah  pengetahuan untuk memahami perasaan,emosi dan nilai nilai diri sendiri dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri dalam berbagai konteks kehidupan. Manajemen diri adalah kemampuan untuk mengelola emosi,pikiran dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi untuk mencapai tujuan dan aspirasi.Sedangkan Kesadaran sosial adalah kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati terhadap orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Kemampuan berelasi adalah kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat dan suportif.Dan Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab adalah kemampuan untuk mengambil pilihan pilihan yang membangun yang berdasrkan atas kepedulian,kapasitas dalam mempertimbangkan standar standar etis dan rasa aman dan untuj mengevaluasi mamfaat dan konsekuensi dari bermacam macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri,masyarakat dan kelompok.
    2. pemahaman   konsep kesadaran penuh   (mindfulness) sebagai dasar penguatan 5 Kompetensi Sosial dan    Emosional    (KSE) serta bagaimana mengimplementasikan pembelajaran sosial emosional di kelas dan sekolah melalui 4 indikator,   yaitu: pengajaran eksplisit, integrasi dalam   praktek mengajar guru dan kurikulum    akademik,         penciptaan    iklim    kelas    dan    budaya    sekolah,    dan penguatan kompetensi sosial dan emosional pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah

  • Pengajaran      eksplisit      adalah      Implementasi      PSE      dengan      pengajaran eksplisit    memastikan murid memiliki kesempatan yang konsisten untuk menumbuhkan,   melatih,   dan  berefleksi   tentang       kompetensi   sosial   dan emosional       dengan   cara   yang   sesuai      dan   terbuka   dengan   keragaman budaya.   Pengajaran eksplisit KSE dapat dilaksanakan dalam bentuk kegiatan kokurikuler   dan   ekstrakurikuler.       Pendidik   dapat   menggunakan  berbagai proyek,  acara atau  kegiatan sekolah  yang rutin  untuk mengajarkan kompetensi sosial dan emosional secara eksplisit.Integrasi dalam praktek mengajar guru dan kurikulum akademik untuk;
    1. Mengintegrasi KSE dalam  praktek mengajar  guru  dan  kurikulum  akademik, tujuan Kompetensi Sosial Emosional dapat diintegrasikan ke dalam konten pembelajaran dan strategi pembelajaran pada materi akademik, serta musik, seni, dan pendidikan jasmani
    2. Penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah adalah Salah satu upaya mengubah lingkungan sekolah (iklim kelas dan sekolah), adalah melalui praktik guru dan gaya interaksi mereka dengan murid, atau dengan mengubah peraturan dan harapan sekolah
    3. Penguatan   kompetensi sosial dan emosional   pendidik dan tenaga kependidikan(PTK) di sekolah dapat melalui langkah -- langkah yaitu Memodelkan (menjadi teladan) Belajar, dan berkolaborasi
  • Kesejahteraan psikologis [well-being] adalah kondisi individu yang meiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan diri
  • Perubahan yang saya terapkan di kelas pada anak didik : Saya akan menerapkan pembelajaran sosial emosional di kelas yang akan saya integrasikan dengan rencana pelaksanaan pembelajaran serta bersinergi dengan tujuan akademisi. Pengajaran terhadap materi akan lebih bermakna dengan membangun konsep mindfulness pada diri seorang murid. Sehingga tidak hanya mampu cerdas secara intelegensi akan tetapi juga memiliki kecerdasan secara sosial dan emosional. Jika seorang murid mampu mengelola kecerdasan sosial emosionalnya mampu mengambil keputusan yang bertanggungjawab atas dirinya, serta menerapkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi murid yang sesuai dengan kebutuhan belajar murid.
  • erubahan yang saya terapkan pada teman sejawat: Saya akan menyosialisasika Pembelajaran sosial emosional kepada rekan sejawat, mengajak rekan sejawat serta dapat memotivasi untuk menerapkannya dikelas. Menumbuhkan konsep pemikiran bahwa pembelajaran dikelas tidak hanya fokus pada penguasaan secara akademik saja, melainkan pentingnya melatih kesadaran sosial emosional pada murid, agar memiliki kesadaran penuh (mindfulness). Sebelum menerapkan didalam pembelajaran saya akan mengajak rekan sejawat untuk Bersama-sama mampu mengelola emosional pada saat menghadapi perilaku setiap murid. Karena setiap pribadi tentunya memiliki latar belakang, profil belajar yang berbeda-beda.  Dengan penguatan PSE pendidik   mampu memfasilitasi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid 
  • dan mengelola kecerdasan sosial emosional murid, sehingga memiliki konsep pemikiran yang kritis, lebih matang dalam berfikir, memperhatikan aspek sosial, berempati dengan situasi dan kondisi dilingkungan sekitar serta memiliki kesadaran penuh (mindfulness) sehingga murid menjadi pribadi yang berilmu, bermoral dan bermartabat dan mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (wellbeing student)
  • Modul Pembelajaran Sosial Emosional memiliki keterkaitan dengan modul- modul sebelumnya. Dengan penerapan pembelajaran Sosial Emosional ini harapannya seorang pendidik mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman nyaman bagi murid, dengan mengelola kesadaran penuh (mindfullness) pada murid. Selain itu melalui pembelajaran sosial emosional ini guru mampu menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid dengan mempertimbangkan kebutuhan belajar murid yang mencakup kesiapan belajar murid, minat belajar murid, dan profil belajar murid sehingga mampu memberikan pembelajaran yang berdiferensiasi. Hal ini juga diharapkan mampu mewujudkan visi guru penggerak serta terciptanya budaya positif dilingkungan sekolah. Nilai dan peran seorang guru penggerak disini juga mampu mendukung terwujdunya wellbeing


  




Kamis, 09 Februari 2023

Refleksi Individu Modul 2.1

 

Refleksi Individu MODUL 2.1

CICIN RESNAWATI

CGP A7 SDN 2 SUKAMUKTI

  • Bayangkanlah kelas yang saat ini Anda ampu dengan segala keragaman murid-murid Anda.

Saya mengajar di kelas 5 yang terdiri dari 24 siswa yang memiliki latar belakang keluarga,status sosial,kemampuan intelektual yang pasti berbeda,mereka mempunyai potensi masing masing yang tentunya tidak sama satu sama lain. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang mengakomodasi dari semua perbedaan murid, terbuka untuk semua dan memberikan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap individu. Keberagaman dari setiap individu murid harus selalu diperhatikan, karena setiap peserta didik tumbuh di lingkungan dan budaya yang berbeda sesuai dengan kondisi geografis tempat tinggal mereka. Pembelajaran dilakukan dengan beragam cara untuk memahami informasi baru bagi semua murid dalam komunitas ruang kelasnya yang beraneka ragam, termasuk cara untuk: mendapatkan konten; mengolah, membangun, atau menalar gagasan; dan mengembangkan produk pembelajaran dan ukuran evaluasi sehingga semua murid di dalam suatu ruang kelas yang memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa belajar dengan efektif. Selain itu juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya

  • Apa yang telah Anda lakukan untuk melayani kemampuan murid yang berbeda? Apa yang Anda lakukan untuk membuat proses pembelajaran menjadi lebih mudah untuk murid Anda? Apakah ada perlakuan yang berbeda yang Anda lakukan?  Jika ada, perlakuan seperti apa? Jika tidak ada, apa dampaknya terhadap murid Anda?

1.     Melakukan pemetaan Pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien dengan demikian guru perlu memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka.

2.     Menyediakan pertanyaan pemandu atau tantangan melalui sudut-sudut minat, dengan demikian akan mendorong murid mengeksplorasi berbagai materi yang dipelajari.

3.     Membuat agenda individual untuk murid, misalnya guru membuat daftar tugas berisi pekerjaan umum untuk semua kelas serta daftar pekerjaan yang terkait dengan kebutuhan individual murid. Jika murid telah selesai mengerjakan pekerjaan umum maka mereka dapat selesai melihat agenda individual dan pekerjaan yang dibuat khusus untuk mereka

4.     Memfasilitasi lama waktu yang murid dapat ambil untuk menyelesaikan tugas. Dalam hal ini untuk memberikan dukungan bagi murid yang mengalami kesulitan atau sebaliknya mendorong murid yang cepat untuk mengejar topik secara lebih mendalam

5.     Mengembangkan kegiatan yang bervariasi yang mengakomodasi gaya belajar visual, auditori dan kinestetik.

6.     Menggunakan pengelompokan yang fleksibel yang sesuai dengan kesiapan, kemampuan dan minat murid.

 

  • Sebutkan tantangan-tantangan yang Anda hadapi dalam proses pembelajaran di kelas yang disebabkan oleh keragaman murid-murid Anda tersebut? Tindakan-tindakan apa yang telah Anda lakukan untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut?

Pertama, guru harus mengetahui berbagai karakteristik peserta didik. Pengetahuan guru tentang kondisi keberagaman siswa menjadi dasar untuk merancang pembelajaran, sehingga sesuai dengan keadaan keberagaman peserta didik tersebut. Guru perlu meluangkan waktu yang cukup dalam menyusun rancangan pembelajaran

Kedua, guru perlu menyusun asesmen diagnostik dan formatif pada awal pembelajaran. Asesmen diagnostik dilaksanakan untuk mengetahui keberagaman peserta didik. Adapun asesmen formatif pada awal pembelajaran untuk mengetahui tingkat pencapaian peserta didik. Dengan demikian, guru dapat merancang pembela kompetensi tiap peserta didik.

Ketiga, guru perlu menggunakan multimetode, multimedia, dan multisumber. Panerapan metode, media dan sumber belajar yang bervariasi dapat mangakomodasi berbagai tipe belajar poberta didik baik tipe visual, auditon maupun kinestetik

  • Menurut Anda, untuk mengakomodasi tantangan yang terkait dengan keragaman murid tersebut, bagaimana seharusnya pembelajaran itu dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi?

Pembelajaran berdiferensiasi sangat berkaitan dengan filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, serta budaya positif. Salah satu filosofi pendidkan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sistem "among", guru harus dapat menuntun murid untuk berkembang sesuai dengan kodratnya, hal ini sangat sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu nilai dan peran guru penggerak adalah menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada murid, yaitu pembelajaran yang memerdekakan pemikiran dan potensi murid. Hal tersebut sejalan dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu visi guru penggerak adalah mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar pancasila, untuk mewujudkan visi tersebut salah satu caranya adalah dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Budaya positif juga harus kita bangun agar dapat mendukung pembelajaran berdirensiasi.

 

Sabtu, 05 November 2022

 

JURNAL DWI MINGGUAN

CICIN RESNAWATI_CPG_ANGKATAN 7

 

Puji dan syukur saya sembahkan kehadirat allah SWT,karena karena kuasa Nya lah kita sampai ketahap ini serta berada diantara guru guru hebat yang sama sama memilki keinginan kuat untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas pendidikan di negara kita,sehingga anak didik kita memiliki keterampilan  abad 21.Keterampilan tersebut yaitu keterampilan  4C yang terdiri dari Critical Thinking,Creative Thinking,Communication,dan Collaboration

Pada refleksi kali ini izin kan saya menyempaikan beberapa hal,diantaranya :

v  Facts (Peristiwa)

Dalam minggu ini banyak hal yang saya pelajari,seperti pembelajaran yang menghamba pada murid dimana kita sebagai guru menjadi fasilitator yang membimbing anak anak didik kita untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki oleh diri mereka masing masing.Untuk mengimplementasikan filosofi Ki Hajar Dewantara ini,saya mencoba menerap kan pembelajaran Cooperatif learning di kelas,dimana anak anak dibentuk dalam beberapa kelompok yang satu kelompok nya terdiri dari 4 orang anak,yanng memiliki kemampuan berbeda juga gender yang berbeda,pada saat pembagian kelompok banyak anak yang tidak mau satu kelompok dengan salah satu temannya karena berbagai alasan,misalnya tidak terlalu akrab atau temannya tersebut dikenal sebagai anak yang pendiam juga memiliki kemampuan akademik kurang.Sebagai fasilitator saya menjaelaskan pada mereka bahwa dalam kelas kita ini semua adalah keluarga,maka dari itu setiap anggota keluarga harus saling membantu kesulitan masing masing.Akhirnya mereka pun bisa menerima angggota kelompok mereaka yang baru.Masalah tidak selesai sampai di situ,pada saat pemberian nama kelompok, mereka juga berdebat dan memaksakan agar nama yang mereka berikan yang dipakai untuk kelompok mereka, saya memberikan pilihan agar mereka memilih dua dari empat nama,lalu memlih dua nama tersebut dengan cara voting atau suara terbanyak yang nanti nama tersebut akan menjadi nama kelompok meraka.

v  Felling (Perasaan )

Perasaan saya saat menerapkan aksi nyata dalam kelas,sangat senang dan merasa tertantang untuk melakukan hal serupa dengan hasil yang lebih baik tentunya,anak anak pun terlihat lebih bahagia dan aktif selama proses pembelajaran,mereka terlihat bebas mengeluarkan ide dan ekspresinya masing masing.

v  Findings (Pembelajaran )

Pelajaran yang saya dapat selam proses diskusi ini adalah saya dapat menemukan hal hal baru misalnya,ternyata anak anak yang kita kira mereka kurang dalam kemempuan akademik,ternyata mereka mampu mengeluarkan ide ide yang menakjubkan.Benar yang Ki Hajar Dewantara katakan bahwa setiap anak mempunyai warna masing masing walaupun samar dan tugas kita sebagai guru untuk menebalkannya.

v  Future (Penerapan )

Tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini,saya akan mempersiapkan segala halnya agar lebih matang sehingga mendapatkan hasil yang maksimal,serta saya akan lebih memfasilitasi mereka agar mereka lebih nyaman dalam mengeluarkan gagasan dan ide.

 

Itulah refleksi saya minggu ini .

  PARADIGMA POST POSITIVISME A.     Latar Belakang dan Pengertian Post Positivisme   Pada awal abad ke-20, asumsi-asumsi kaku positivi...